Contoh Teori Konflik dalam Studi Islam dan Kesetaraan Gender

Analisis Kasus Pemerkosaan di Angkutan Umum dalam Perspektif Kesetaraan Gender Menggunakan Teori Konflik[1]
Oleh: Lismanto
092211017
Diskursus Kontemporer/ Kasus
JAKARTA - Lagi, pemerkosaan di dalam angkot terjadi. Kali ini terjadi kepada seorang mahasiswi, JM (18) yang menaiki angkot C01 Jurusan Kebayoran Lama, Ciledug.
Kejadiaan berawal ketika JM hendak berkunjung ke rumah sanak keluarganya di bilangan Pamulang, Tangerang Selatan. Dia yang berangkat dari tempat kosnya di Ciledug pada hari Jumat 20 Januari 2012 sekira pukul 20.00 WIB. Untuk ke Pamulang, dia harus menaiki angkot C01 kemudian menyambung dengan angkot D01 Kebayoran Lama, Ciputat.
Di dalam angkot itu ada lima orang, termasuk seorang supir. Namun belum bisa dipastikan apakah mereka juga termasuk pelaku. "Di dalam angkot itu ada lima orang," tambah Rijal.
Rijal menjelaskan, saat itu JM dipukul di bagian kepala sebelah kirinya dan membuat JM jatuh pingsan. Masih belum diketahui JM dipukul menggunakan apa. "Enggak lama pas naik angkot dia dipukul kepala kirinya," katanya. Pagi harinya, Sabtu, 21 Januari, JM terjaga di rel Kebayoran Baru. Dalam keadaan yang setengah sadar, JM memutuskan pulang ke kosannya di daerah Ciledug.
Di kosan, dia langsung terbaring lemah. Ami mencoba menanyakan kabar JM. JM pun memeluk Ami dan menangis. "JM meluk Ami dan nangis, terus dia cerita kalau dia habis diperkosa," kata Rijal. (sus). Sumber: news.okezone.com

Analisis Kasus
            Setelah terjadi beberapa kasus pemerkosaan di angkutan umum yang mulai merebak belakangan ini, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo melarang perempuan mengenakan rok mini di kendaraan umum, agar tak terjadi pemerkosaan dan pelecehan seksual. Akan tetapi menurut Komisioner Komnas Perempuan, Neng Dara Affiah, hal demikian bukan karena pemakaian rok mini.
            Pelarangan terhadap penggunaan rok mini justru menurut Affiah merupakan bentuk diskriminasi perempuan di mana perempuan seolah-olah pihak yang bersalah dan menempatkan perempuan sebagai objek sekaligus korban. Karena seharusnya keamanan publik di angkutan yang harus ditertibkan, bukan masalah rok mini. Dari sini, dalam kajian gender kontemporer, perempuan selalu dipersalahkan dalam pilihannya memakai pakaian. Ia menjadi pihak yang selalu disalahkan.
            Paradigma umum masyarakat juga memandang bahwa perempuan merupakan objek yang bisa dilecehkan, bukan perempuan yang harus dihormati. Mindset ini perlu dirubah agar perempuan memiliki ruang dalam memperjuangkan haknya untuk menuju kesetaraan gender, yakni kesetaraan dalam konteks status, peranan, tanggung jawab sosial atau dalam konteks “kelamin sosial”, bukan “kelamin biologis”. Dan dalam konteks kasus ini, tentu agar perempuan mendapat hak-haknya supaya tidak diperlakukan sebagai “manusia lemah” yang memang pantas diperkosa.

Teori Konflik
Melihat fenomena ini, maka lebih tepat apabila menggunakan teori konflik. Teori ini berpendapat bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki kepentingan (interest) dan kekuasaan (power) yang merupakan sentral dari setiap hubungan sosial termasuk hubungan laki-laki dan perempuan. Bagi penganut aliran konflik, gagasan dan nilai-nilai selalu dipergunakan sebagai alat untuk menguasai dan melegitimasi kekuasaan, tidak terkecuali hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Kasus diatas secara implisit menjelaskan bahwa sikap laki-laki lebih kuat ketimbang perempuan sehingga laki laki berani melakukan hal tersebut. Di sinilah bagaimana kepentingan (interest) dan kekuatan (power) yang merupakan hal terpenting dari hubungan antara laki laki dan perempuan. Oleh sebab itu contoh kasus diatas akan menimbulkan konflik yang berakibat mengubah posisi dan hubungan antara laki laki dan perempuan.
Pertama, interest. Laki-laki melecehkan perempuan itu muncul dari perempuannya sendiri karena penampilan atau style-nya yang menimbulkan nafsu syahwat laki laki muncul diantara itu juga faktor atau keadaan di dalam angkutan umum yang penuh sehingga bisa menghidupkan peluang. Disebutkan juga dalam aliran feminis radikal bahwa penguasaan fisik laki-laki terhadap perempuan yang melecehkan kaum perempuan adalah bentuk penindasan terhadap perempuan tetapi menurut teori konfik, hal ini adalah kepentingan atau interest laki-laki terhadap hasratnya pada perempuan yang belum terpenuhi.
Kedua, power. Laki-laki pada dasarnya memiliki kekuatan yang lebih dibanding perempuan,tetapi setelah ada emansipasi wanita muncul argumen bahwa perempuan dengan laki-laki derajatnya sama tetapi pada dasarnya power yang menentukna derajat seseorang jaman sekarang, selama para laki-laki mengaggap dirinya paling kuat dan tertinggi wanita akan selalu dilecehkan seperti yang terjadi didalam contoh diatas.



[1] Disusun guna memenuhi tugas Islam dan Kesetaraan Gender yang diampu oleh Bpk Tedi Kholiludin, M.Si