Guru dan Murid, Sahabat?

Oleh Lismanto
Artikel dimuat Tabloid My School Jakarta


KETIKA mendengar kata guru, rasanya sudah tak asing lagi di telinga kita. Jika diuraikan dari segi makna, banyak arti yang ditemukan. Misalnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBHI), guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar. Sedangkan dalam adagium Jawa, “gu” berarti “digugu” atau dihormati, “ru” bermakna “ditiru” atau diikuti. Dengan begitu, bisa disimpulkan bahwa guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar yang harus dihormati dan ditiru.

Menurut Noor Jamaluddin (1978: 1), guru adalah pendidik, yaitu orang yang bertanggung jawab memberi bimbingan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri, serta dapat melaksanakan tugasnya sebagai sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial.

Sementara itu, murid adalah orang yang menerima pengajaran. Dalam KBHI, murid diartikan sebagai orang yang sedang berguru, belajar atau bersekolah. Menurut Al Ghazali, murid berarti orang yang menginginkan atau membutuhkan sesuatu. Tilmidz berarti murid, sedangkan tholib al-ilm adalah yang menuntut ilmu.


Hubungan guru dan murid

Sahabat adalah orang yang paling dekat dengan kita. Ada juga yang mengatakan sahabat adalah teman di saat suka maupun duka. Jika dikaitkan dengan istilah “guru” dan “murid,” “sahabat” adalah kata yang paling tepat untuk diaktualisasikan dalam proses belajar-mengajar.

Mengapa demikian? Sebab kebanyakan guru mengajar hanya sebatas profesi, tidak memposisikan murid sebagai anak didik yang perlu diperhatikan dalam berbagai hal. Kalau guru dipandang sebagai “monster” pemberi ilmu pengetahuan, transfer ilmu pengetahuan yang diberikan akhirnya tersendat.

Karenanya, guru secara emosional harus memposisikan murid layaknya sahabat. Apabila murid merasa nyaman, secara otomatis pelajaran yang diterima akan mudah ditangkap.

Hubungan guru dengan murid harus terjalin dengan baik. Murid seyogianya tidak boleh takut dengan guru, tetapi juga tidak mengurangi rasa hormat kepada guru. Murid juga harus terbuka saat mendapatkan masalah, sehingga guru bisa menjadi “orangtua kedua” saat di sekolahan. Meski begitu, kepatuhan murid terhadap guru adalah kewajiban.

Dalam memberi ilmu pengetahuan dan nilai, guru mutlak bersikap adil kepada murid, tidak membedakan antara si bodoh dengan si pandai, antara si kaya dan si miskin, antara anak pejabat atau orang biasa. Guru juga harus memposisikan diri sebagai orangtua sekaligus sahabat yang dicintai banyak murid, memahami karakter murid, menjadi fasilitator yang bukan hanya “mengajar,” tetapi juga “mendidik.”

Demikian halnya murid, harus siap menerima apa yang disampaikan oleh guru. Siap dalam arti sungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran. Karena bagaimanapun juga, muridlah yang paling menentukan sukses tidaknya pembelajaran di sekolah.

Mengutip Al Ghazali, untuk mencapai keberhasilan pendidikan, butuh hubungan kerjasama antara pendidik dan peserta didik. Sebaik apapun upaya guru dalam menanamkan pengetahuan, tetapi jika tidak ada kesiapan dari peserta didik, maka proses pembelajaran sulit untuk mencapai kata berhasil.

Nah, ketika guru dan murid terjalin hubungan layaknya “sahabat,” upaya untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar diharapkan lebih menuai sukses. Semoga.