Isu Kesetaraan Gender dan Islam di Indonesia

Oleh: Lismanto
Peneliti hukum pidana dan politik Islam IAIN Walisongo Semarang
Persoalan waris

Hukum perdata di Indonesia khususnya ditujukan bagi umat muslim, bahwa dalam hal pembagian hak waris, perempuan berhak mendapatkan warisan satu berbanding 2 dengan laki-laki. Hal ini dikarenakan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang mengadopsi dari hukum Islam menyatakan bahwa laki-laki mendapat 2 bagian sementara perempuan adalah 1 bagian, sesuai dengan ayat dalam al quran bahwa: "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. 

Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (an-Nisa': 11).

. Pasal 176 Kompilasi Hukum Islam menejaslkan“Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separuh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.”

Namun demikian, sesuai dengan Pasal 201 Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwa:

“Apabila wasiat melebihi sepertiga dari harta warisan, sedangkan ahli waris lainnya ada yang tidak menyetujuinya, maka wasiat hanya dilaksanakan sampai batas sepertiga harta warisan.”
Dengan ini jelas bahwa ayat al quran dan KHI yang mengadopsi (mebebek) pada quran sangat diskriminatif terhadap perempuan di mana diadopsi secara membabi buta oleh perumus KHI, sehingga dalam kajian islam dan kesetaran gender dalam konteks hak waris, perempuan masih dikesampingkan, tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Kaenaya perlu melakukan reformasi dan kajian ulang terhadap ketentuan KHI tentang hak waris yang mendeskriminisikan kedudukan perempuan di bawah laki-laki.