Membaca Itu Hamburger

Oleh Lismanto
Dimuat Tabloid My School Jakarta

SAAT berkunjung ke mall atau tempat makanan cepat saji, dengan serentak kita akan mengatakan hamburger! Tak peduli lapar atau tidak, kalau disuguhi makanan khas western ini tidak mungkin untuk mengatakan tidak. Mata kita terbelalak, lidah komat-kamit, dengan segera akan melahap hamburger. Tapi apa yang terjadi saat kita berkunjung ke perpustakaan. Apakah mata kita terbelalak melihat buku-buku yang bertumpuk di rak? Atau mengatakan, “aku ingin segera melahapnya?”
Hamburger dan buku memang dua entitas yang berbeda. Hamburger yang berisi roti, daging, dan sayur yang dibalut saus memang sangat enak dilahap. Berbeda dengan buku yang berisi segala macam pengetahuan, rasanya berat sekali untuk melahapnya. Alih-alih berniat melahapnya, melihat saja terkadang mata kita secara otomatis digelayuti rasa kantuk yang luar biasa.
Bahkan, karena sebagai obat tidur yang manjur, buku acapkali dimanfaatkan untuk dibaca saat menjelang tidur. Tak ayal, buku yang kita baca tak lagi berfungsi sebagai nutrisi untuk memperkaya pengetahuan, tetapi sebagai alat untuk “meninabobokan.” Hamburger dan buku memang dua hal yang jauh berbeda: yang satu “disukai,” satunya lagi “dijauhi.”
Nutrisi Buku dan Hamburger
Selain rasanya enak, hamburger sangat bergizi. Melahapnya, berarti melahap karbohidrat, protein, dan berbagai vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Bagaimana kalau melahap buku? Apakah tubuh juga perlu nutrisi dari buku?
Betul sekali. Artinya, buku tidak dilahap sebagaimana melahap hamburger, melainkan membacanya. Dengan melahap buku, wawasan dan pengetahuan kita tentang segala hal akan bertambah. Nutrisi yang diperoleh dari melahap buku adalah pengetahuan baru, dan nutrisi itu sangat dibutuhkan.
Tak hanya itu, menurut para ahli, selain memberikan dampak yang menyenangkan bagi otak serta melatih kemampuan berpikir, membaca juga membantu meningkatkan keahlian kognitif dan meningkatkan perbendaharaan kata. Dalam konteks belajar di sekolah, membaca sangat berperan dalam membantu siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang dipelajari di bangku sekolah.
Membaca adalah aktivitas yang membuka cakrawala pengetahuan. Dengan membaca, kita akan menjadi tahu jendela dunia dengan tidak harus berkunjung ke belahan dunia manapun. Selain itu, membaca mampu meningkatkan pola pikir, kreativitas, dan kemampuan verbal yang sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum.
Dari segi kesehatan, menurut para peneliti, aktivitas membaca sangat bermanfaat memerangi penyakit Alzheimer. Sebuah penyakit gangguan otak yang memengaruhi memori seseorang, berpikir, dan keterampilan penalaran, sehingga seseorang yang terkena Alzheimer menjadi kesulitan berpikir dan berbicara dengan jelas, serta sulit mengingat kejadian akhir-akhir.
Untuk menjadi generasi penerus bangsa yang menginginkan perubahan lebih baik, dibutuhkan pengetahuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Sementara pengetahuan diperoleh dari membaca. Oleh karena itu, membaca bukanlah sesuatu yang membosankan, melainkan nutrisi nikmat sekaligus sehat untuk perubahan yang lebih sukses.
Membaca bak hamburger yang menyimpan sejuta nutrisi nikmat yang menyehatkan. Santaplah buku dan semua informasi dengan membaca seperti menyantap hamburger. Selain enak, juga bergizi. Membaca itu hamburger!