Senior (Tidak) Selalu Benar, Tapi Teladan

Oleh Lismanto
Dimuat Tabloid My School Jakarta

Di lingkungan sekolah, kita pasti mendengar Undang-Undang yang berbunyi: “Pasal satu, senior selalu benar. Pasal dua, kalau senior salah, maka kembali ke pasal satu.” Awalnya, ada yang mengatakan pasal-pasal “suci” yang mengikat itu muncul dari lingkungan militer. Akan tetapi, pantaskah pasal itu diterapkan di lingkungan sekolah yang identik dengan intelektualnya?
Pasal ini biasanya gencar berlaku saat masa orientasi sekolah (MOS) berlangsung, sebab saat MOS inilah siswa baru diserahkan siswa lama yang lebih senior untuk mengenalkan sekolah. Alih-alih mengenalkan, mendidik, dan memberi pengetahuan siswa baru seputar sekolahnya, ajang MOS justru seringkali dimanfaatkan untuk “menggojlok” siswa baru.
Kalau “gojlokan” bersifat mendidik junior untuk disiplin, itu bukan menjadi masalah. Tetapi jika MOS dimanfaatkan senior untuk mendidik dengan cara kekerasan dan tak masuk akal, dengan dalil apapun tindakan itu tidak bisa dibenarkan, bahkan secara hukum sekalipun. Maka, tradisi “senior selalu benar” harus didobrak dan dikonsep ulang untuk menciptakan tradisi senior yang baik. Dengan begitu, semestinya bukan “senior selalu benar” tetapi “senior menjadi teladan.”
Senior adalah teladan
Pasal “senior selalu benar” memang ada benarnya, namun dalam konteks “mendidik,” bukan melakukan perpeloncoan sedemikian rupa yang jauh dari substansi masa orientasi. Di zaman yang serba mengedepankan demokrasi ini sudah saatnya merajut hubungan yang lebih demokratis, mengedepankan substansi yang berkeadilan. Yang salah adalah salah, sementara yang benar tetap menjadi kebenaran.
Tidak ada sesuatu yang “salah” dikatakan “benar.” Kalau hal ini masih dilakukan, itu berarti mendustakan yang benar. Dalam istilah politik dan hukum, tindakan seperti itu bisa dikatakan “mafia.” Betapa tidak, di kalangan hukum misalnya, banyak muncul istilah “mafia peradilan” yang merupakan buah dari pendustaan terhadap kebenaran. Apakah senior mau dikatakan sebagai mafia sekolah? Tentu tidak.
Oleh karena itu, senior semestinya menjadi teladan yang baik bagi juniornya sehingga senior menjadi pribadi yang dihormati, disegani, sekaligus “dicintai.” Karena bagaimanapun juga, pemberlakuan pasal “senior selalu benar” di sekolah akan memunculkan trauma yang mendalam, timbul kebencian bagi junior karena selalu dikekang.
Alhasil, junior yang merasa dipermainkan dengan pasal “ajaib” itu akan menuntut balas kepada calon juniornya yang lebih muda nantinya. Dan bukan mustahil, si junior akan menuntut balas kepada seniornya kelak. Mata rantai “pasal” yang keliru ini tidak perlu dipertahankan lagi. Karena pada akhirnya hanya menimbulkan perselisihan dan konflik yang berkepanjangan.
Bukankah sahabat adalah investasi paling mahal? Kenapa? Coba saja simak logika ini. Ketika si junior yang pernah kita kerjain semena-mena, suatu saat punya perusahaan besar, dan kita yang dulu sebagai senior ingin melamar pekerjaan di sana. Apa yang dilakukan si junior sebagai big boss perusahaan?
Kalau begitu, kenapa harus membuat “jurang pemisah” antara senior dan junior dengan menganggap senior selalu benar? Bukankah sahabat adalah investasi paling mahal? Begitu.