Absurditas Manusia Modern dan Pemikiran Yasraf Amir Piliang dalam Buku Hiper-Realitas Kebudayaan

Dunia ‘modern’ di Barat, tulis Yasraf Amir Piliang dalam buku Hiper-Realitas Kebudayaan (1999) terbitan LKiS, Yogyakarta, telah dimulai dari periode Renaissance-periode yang merupakan awal dari perkembangan sains dan teknologi, perluasan dan ekspansi perdagangan, perkembangan wawasan modern tentang ‘humanisme’; sebagai tantangan terhadap kepercayaan keagamaan Abad Pertengahan; dan sebagai satu bentuk pendewaan rasionalitas dalam pemecahan masalah-masalah manusia. 

Semangat Renaissance, lanjutnya, terlihat jelas sekali pada pemikiran Descartes yang melalui wawasan ‘humanisme’nya menjadikan manusia –dengan segala kemampuan rasionalnya- sebagai ‘aku’ (subyek) yang sentral dalam pemecahan masalah dunia. Wawasan humanismenya Cartesian, dalam hal ini, bersifat sangat mekanistis. Atau dalam pengertian, rasionalitas dijadikan sebagai ukuran tunggal ‘kebenaran’, dan ‘mesin’ dijadikan sebagai paradigma, dalam mewujudkan mimpi-mimpi utopis manusia modern akan kekuasaan.

Pengertian ‘subyek’ dalam wawasan humanisme-rasional Cartesian itu, bagi David Michel Levin; penulis buku The Opening of Vision: Nihilism and the Postmodern Situation (1987), sebenarnya sangat sarat dengan kekaburan dan paradoks. Oleh karenanya, di satu pihak, penyanjungan kemampuan akal budi manusia, yang menjadikan manusia sebagai subyek yang merdeka, self-determination dan self-affirmation, merupakan awal dari keterputusan manusia dari Tuhan. Di lain pihak, konsep rasional ini justeru diandalkan oleh Descartes sebagai perangkat untuk membuktikan eksistensi Tuhan sendiri.

Benar bahwa, ada suatu masa, terutama di Eropa ketika rasionalitas ini menampik iman. Ilmu pengetahuan pun meninggalkan agama, atau keduanya hidup terpisah, sementara rasio menguasai kehidupan. Tapi, dengan kemenangan itu, sesuatu terjadi pada rasio. Seusai pertempuran rasio dengan agama, kata Hegel, agama memang terpuruk, tapi rasio (berubah) hanya jadi intelek semata. Dalam revolusi Perancis, rasio dirayakan, agama diusir. Sejak itu, iman hidup dalam batin, bukan dalam kehidupan sosial dan tubuh lembaga, seperti gereja. Agama muncur dari arena, tapi iman menemukan ruang hidupnya yang baru di dunia privat. Rasio tak merasa perlu mengusirnya dan ia tak mampu menjelaskannya.

Maka, rasio lebih baik menyibukkan diri dalam soal lain: jadi intelek, atau jadi akal semata. Dengan alat itulah (sekiranya) manusia mengakali alam dan mengendalikannya. Ia jadi Tu(h)an. Ia menghasilkan sesuatu yang dulu tak ada. Dulu, rasio tak berhenti tergugah akan ketakjuban dunia; dengan itulah filsafat serta ilmu lahir. Tapi, pada akhirnya rasio, sebagai akal, ikut membuat hilangnya pesona dunia –dan, dalam pandangan muram Max Webber, pelan-pelan manusia pun terdorong ke dalam “kerangkeng besi”.

Lalu, apa yang disebut ‘pencerahan’ dalam diskursus filsafat modern, sebenarnya adalah sebuah proses ‘penyempurnaan’ secara kumulatif kualitas subyektivitas dengan segala kemampuan obyektif akal budinya dalam mencapai satu tingkatan sosial yang disebut dengan ‘kemajuan’. Keterputusan dari nilai-nilai mitos, spirit ketuhanan, telah memungkinkan manusia modern untuk ‘mengukir sejarahnya sendiri’ di dunia –suatu proses self-determination. Di mana, manusia menciptakan kriteria-kriteria dan nilai-nilai untuk perkembangan diri mereka sendiri sebagai subyek yang merdeka.

Keterputusan dari nilai-nilai dan spirit yang lama, telah memungkinkan manusia modern untuk hidup di dunia baru, dunia modern –dunia yang diandaikan tercipta seperti pada ‘hari kejadian’. Padangan seperti ini, bagi Hegel, menyebutnya sebagai ‘zaman baru’ (new age), dengan spirit yang baru. Adanya sketsa wajah (peradaban) baru ini, sebut Yasraf dalam buku Dunia Yang Dilipat; Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme (1998) terbitan Mizan, kita diajak bertamasya ke dalam sebuah dunia teka-teki, penuh misteri, kontradiksi, ilusi, halusinasi, ekstasi, dan simulasi. Ini sama artinya, kita memasuki sebuah panorama realitas-realitas baru, yang kaya warna, kaya nuansa, kaya citra, yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seakan-akan kita ini memasuki sebuah wilayah fiksi ilmiah, sebuah wilayah masa depan, sebuah wilayah alien. Bahkan, kita sendiri kadang tidak percaya bahwa diri kita telah memasuki wilayah (kebudayaan) yang tampak asing tersebut. Dari babakan sejarah umat manusia ini, dengan meminjam wawasan pengetahuan Onong Uchjana Effendy (ed) dalam Komunikasi dan Modernisasi (1986) terbitan Alumni, pandangan Barat yang rasional humanistik terhadap kemajuan, ilmu dan teknologi, telah meliputi negara-negara di dunia. Ilmu dan teknologi modern telah menyingkapkan berbagai misteri, telah mengakhiri berbagai kesengsaraan, dan telah membuka berbagai kawasan tak dikenal, baik di bumi maupun di angkasa.

Walaupun demikian, pandangan dunia mengenai ilmu dan teknologi modern, juga mengandung benih-benih untuk menghancurkan diri manusia. Manusia yang dianggap sebagai pusat semesta telah menempatkannya mengahadapi alam bukannya di dalam alam dan mendorong untuk menyerang alam secara bebas tanpa perasaan tanggung jawab. Akal yang dianggap sebagai satu-satunya alat manusia untuk pemahaman, telah memisahkan manusia dari intuisinya serta mencegahnya untuk mencapai kebijakan yang melampaui akal. Lepasnya tujuan dari cara, ilmu yang bebas-nilai dari teknologi, telah menjurus ke penciptaan masyarakat teknokratik di mana segalanya cenderung untuk menyajikan pelayanan mengenai apa yang tampaknya merupakan jalan pintas yang dominan dan pragmatik dan seringkali merupakan tujuan-tujuan yang dangkal.

Terlahir sebagai anak semangat pencerahan, proyek modernisasi ini sangat terobsesi dengan imposisi rasionalitas atas lingkungan secara menyeluruh. Sejarah modernisasi seperti itu merupakan sejarah “akal instrumental” (instrumental reason) sebagai fungsi pengaturan masyarakat dan lingkungan. Mengutip Bryan S. Turner dalam Orientalism, Postmodernism and Globalism (1996) terbitan Routledge, London, menyebut “Modernitas adalah luaran dalam arti budaya, sosial dan politik yang diakibatkan oleh proses rasionalisasi yang luas, melalui mana dunia dikendalikan dan diatur oleh suatu etika penguasa dunia, yang mensubordinasikan diri (self), relasi sosial dan alam kepada suatu program pengendalian dan pengaturan yang rinci”.

Berpijak pada rasio adalah subjek, yang dengan kekuatan objektif dan diskriminatifnya, berhasil membedah objek atau realitas dengan pisau analisis deduksi. Dualisme subjek-objek, res cogitans-res extesa, ala Cartesian tersebut menjadi bangunan dasarnya. Oleh sebab itu, rasio, hasrat, imajinasi, dan memori dalam pandangan tradisi, yang tadinya hanya sebagai instrumen yang mesti ditautkan kepada fondasi atau akar ilahiah dalam diri: intelek, dalam masa ini sama sekali dilepaskan dari pondasinya. Adalah nalar, yang pertama kali terlepas dari akarnya, serta dengan bebas dan liar menggapai batas dan ujung semesta, dengan kategori dan hukum fisiknya yang bersifat universal.

Apalagi dengan adanya peralihan dari masyarakat industri menuju masyarakat post-industri telah begitu mempengaruhi bagaimana makna-makna dimuati di dalam obyek-obyek seni dan dikomunikasikan melalui media (massa). Misalnya, kemunculan gelombang post-modernisme menuntut, bahwa cara artikulasi makna-makna dan ideologi di dalam obyek-obyek seni harus ditinjau kembali.

Memeriksa dan berpendapat dunia kehidupan kontemporer adalah sebuah dunia yang di dalamnya hasrat manusia menguasai dunia, bahkan melawan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan semakin memperlihatkan kemundurannya, untuk digantikan oleh hasrat manusia. Hasrat yang mengendalikan dunia dan mencetaknya melalui model-model operasionalnya, yaitu reproduksi rasa tak puas secara terus-menerus lewat mekanisme produksi.

Bisa dikatakan bahwa saat ini umat manusia telah sampai pada sebuah penjelajahan global, sebuah petualangan jagat alam raya maya yang melampaui realitas. Fenomena ini bisa disebut dengan hiperrealitas (hyperreality) atau sebuah realitas virtual (virtual reality). Masyarakat kita juga telah memasuki dunia baru itu. Bahkan dunia ketiga pun tidak lepas dari pengaruh perkembangan global tersebut. Karl K. Paper secara dramatis menyebutnya sebagai dunia yang serba mungkin, tidak terbatas, yang didalamnya mengandung sense of possibility tersembunyi.

Dalam dunia itu, apapun yang dapat dilakukan dan tidak dapat dilakukan pada dunia realitas sebelumnya bisa dilakukan, bahkan lebih dari itu. Lantas, seperti inikah yang dianggap sebagai realitas sesungguhnya? Ataukah, jangan-jangan manusia pada umumnya dikaburkan oleh realitas itu sendiri? Pada kenyataannya, realitas adalah sebuah konsep yang kompleks yang sarat dengan pertanyaan filosofis. Apakah yang semua kita lihat, suara atau bunyi yang kita dengar, rasa senang atau sedih yang kita rasakan, merupakan realitas sebenarnya?

Ada sebuah konsep filosofis yang mengatakan bahwa yang kita lihat bukanlah realitas, melainkan representasi (sense datum) atau tanda (sign) dari realitas yang sesungguhnya yang tidak dapat kita tangkap. Yang dapat kita tangkap hanyalah tampilan (appearance) dari realitas dibaliknya. Pertanyaan filosofis tersebut memberikan gambaran yang sederhana mengenai realitas komunikasi dalam dunia hiperrealitas –konsep media hiperrealitas Jean Baudrilladr- atau yang lebih populer dengan sebutan postmodern.

Ia juga merupakan kritik terhadap dikotomi realitas virtual komunikasi media massa postmodern yang membias pada realitas komunikasi langsung (face-to-face comunication) yang dianggap Baudrillard sebagai komunikasi sesungguhnya (otentik). Sebab, sebuah kecenderungan kebudayaan yang terjadi dewasa ini telah mengalami penyebaran yang hampir tampak. Yakni, bertumbuh kembangnya kekaburan makna akan realitas. Disadari atau tdak, semakin banyak manusia menerima “salinan” sebagai sesuatu yang asli. Disengaja atau tidak, pengalaman manusia telah terdistorsi oleh representasi budaya populer, representasi realitas melalui media massa elektronik ataupun cetak yang dengan sendirinya menghegemoni segala sikap dan tindakan kita.

Kita merasa bergairah dan menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada sang perantara (media massa) untuk mendefinisikan realitas dunia yang akan kita jalani. Fenomena perkembangan teknologi media tersebut memungkinkan peluang yang sangat terbuka bagi penciptaan trik-trik atau rekayasa image (citra) untuk menciptakan media realitas semu (realitas virtual atau hyperreality of media. Trik-trik yang diciptakan secara lihai dalam media memungkinkan masyarakat kontemporer, seperti dikatakan Paul Virilio dalam the Aesthetics of disapp earance, untuk “….menjadikan sesuatu yang supernatural, imaginer, bahkan yang tak masuk akal menjadi tempat (sebagai realitas)”.

(Justisia)