Al Iman al-Mabda': Bukti-Bukti Wujud Allah

Hikmah Allah antara lain menciptakan alam nyata ini dalam berbagai  bentuk, setiap bentuk mempunyai sifat yang membedakannya dari yang lain dan dalam suatu posisi yang bersesuaian dengan dirinya.

Salah satu makhluk Allah adalah manusia yang lebih tinggi derajatnya karena memiliki kemampuan berpikir dan dapat menanggapi bermacam pengertian. Kelebihan manusia yang lebih tinggi dari binatang dan menempatkannya di bawah malaikat.

Manusia dapat membuat aqidah-aqidah yang membedakan antara satu macam dengan lainnya, namun tidak dapat mengetahui hakekat sesuatu dan tidak dapat mengetahui rahasia benda-benda.

Allah adalah wujud, yang tidak ada batasan bagi kesempurnaanNya, sehingga manusia tidak sanggup mengetahui derajatNya. Mengetahui hakekat dzatnya adalah mustahil karena dzat Allah tidak tersusun dari beberapa unsur.

Karena itu, Islam melarang manusia memikirkan dzat Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad  SAW: “Memikirkanlah tentang keadaan makhluk Allah dan janganlah  kamu memikirkan tentang dzatNya yang menyebabkan kamu binasa."

Manusia mengetahui dan menyakini bahwasannya Allah bersifat dengan sifat-sifatNya, dan sifat-sifat Allah adalah sifat  yang paling sempurna. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk memperhatikan keadaan wujud alam, khasiatnya, sifatnya, tata aturannya yang kesemuanya menunjukkan kepada pencipta yang sangat hakim.

Al-Qur’an memerintahkan manusai untuk memperhatikan dirinya sendiri, memperhatikan keindahan ciptaan Allah pada tumbuh-tumbuhan. Pembuktiaan adanya Tuhan telah dibicarakan oleh berbagai golongan Islam, baik aliran-aliran ilmu kalam, maupun filosof-filosof Islam, yaitu: aliran Mutazilah dan Al As’ariyah. Kedua aliran berpendapat dalil wujud Tuhan dengan dua cara:

Dalil jauhar fard

Semua benda mengalami pergantian keadaan baik berupa bentuk, warna, gerakan, berkembang, surut, dan perubahan-perubahan lain yang kesemuanya disebut aradl.

Dalil mungkin dan wajib

Alam dan seisinya dapat terjadi dalam kedaan yang berbeda sama sekali dari pada keadaanya yang sekarang. Matahari misalnya dapat berjalan dari barat ke timur, dan batu dapat naik ke atas dari pada turun ke bumi.

Dalil Causelitet: perubahan dan perhatian

Dalil ini berasal dari Al-Qur’an dan para filosof, sebab itu merupakan dalil terkuat sesuai dengan syara’ dan filsafat.

Dzat dan sifat Allah

Pada masa sahabat dan tabiin, persoalan dzat dan sifat Allah tidak pernah menjadi pembicaraan kaum muslimin. Tetapi pada masa sesudah mereka, timbullah persoalan sifat menjadi pembicaraan golongan-golongan Islam, antara lain:

Aliran Musyabbihah

Aliran ini berpegang pada lahir nash-nash ayat atau hadist mutasyabihat.

Aliran Mu’tazilah

Aliran ini mensifati Tuhan dengan Esa, Qodim dan berbeda dari mahluk, siufat-sifat ini adalah sifat salaby (negatif) karena tidak menambahkan sesuatu terhadap dzat Tuhan.

Filosof-filosof Islam

Pendapat para filosof islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi mendekati pendapat Mu’tazilah, mereka mengingkari berbilangnya sifat Tuhan dan mensucikan semurni-murninya.

Al-Asy’ariyah

Juga seperti Mu’tazilah, Al-asy’ari mengadakan antara sifat negatif dan positif.

Al- Maturidi

Ia mengakui Tuhan memiliki sifat-sifat sejak zaman Azaly, tanpa pemisahan antara sifat-sifat Dzat.

Ibnu Rusyd

Ia berpendapat bahwa pembahasan tentang sifat-sifat Allah tidak ada gunanya dan merupakan suatu Bitah, karena tidak pernah di bicarakan kaum muslimin pada masa permulaan Islam.

(Maulida Riskie Amalia)

1 Response to "Al Iman al-Mabda': Bukti-Bukti Wujud Allah"

  1. matahari berjalan dari timur kebarat....(kerenn, brp lagi siswa siswi yang jadi bodoh )

    ReplyDelete