Asas Kemanfaatan dalam Hukum Islam

Hukum Islam juga mengenal asas kemanfaatan di mana semua hukum yang ditetapkan harus berdasarkan kemaslahatan atau kemanfaatan dan menolak kemudharatan. Tujuan syariah yang berdasarkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan menjadi asas yang paling fundamental yang harus diterapkan dalam penegakan hukum Islam.

Yang dimaksud asas kemanfaatan dalam hukum Islam adalah asas yang menyertai asas keadilan dan kepastian hukum, yaitu segala pengambilan keputusan hukum yang ditimbang dan didasarkan pada manfaat atau maslahat tidaknya suatu keputusan hukum tersebut. Tentu asas kemanfaatan ini mendasarkan pada pertimbangan-pertimbangan hukum agar keputusan hukum yang dihasilkan memberikan kemanfaatan bagi pihak pencari keadilan dan masyarakat luas.

Misalnya hakim memutuskan untuk menghukum si pencuri dengan potong tangan. Selain mempertimbangkan asas keadilan dan asas kepastian hukum, hakim harus mempertimbangkan aspek kemanfaatan terhadap putusan-putusan hukum yang akan ia buat. Kalau memang si pencuri berdasarkan kemaslahatan tidak bisa dihukumi dengan potong tangan, maka hakim berhak menentukan si pencuri tidak dikenakan had potong tangan meskipun ada kepastian hukum yang menyatakan pencuri harus dikenakan potong tangan.

Asas kemanfaatan dalam hukum Islam pada prakteknya dapat dijumpai pada contoh Umar Bin Khattab yang tidak menghukumi potong tangan bagi pencuri mengingat pencuri dalam posisi terdesak dan darurat, sementara pihak yang dicuri adalah orang kaya yang dinilai masyarakat tidak pernah bersedekah. Pertimbangan-pertimbangan kemanfaatan dan kemaslahatan juga perlu untuk menanamkan progresifitas hukum Islam.

Asas kemanfaatan berdasarkan pada Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 178: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih*.”

Keterangan:
Qishash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh Yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat Dia mendapat siksa yang pedih.


(Lismanto/Islam Cendekia)

0 Response to "Asas Kemanfaatan dalam Hukum Islam"

Post a Comment