Asas Legalitas dalam Hukum Pidana Islam

Dalam ilmu hukum, asas legalitas adalah asas yang berpedoman bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa dihukum kecuali ada peraturan atau hukum yang mengatur sebelumnya. Demikian halnya dalam hukum pidana Islam, asas legalitas juga berlaku yang didasarkan pada al-Qur’an.

Asas legalitas dalam hukum pidana Islam dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Israa’ ayat 15: “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Al-Qur’an surat al-An’aam ayat 19 menyatakan: “Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan Dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".

Kedua ayat al-Qur’an di atas menjelaskan bahwa Allah menurunkan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad agar menjadi peringatan kepada umat manusia dalam bentuk perintah dan larangan, aturan dan ancaman. Dengan demikian, asas legalitas dalam hukum pidana Islam muncul sejak al-Qur’an diturunkan, kecuali ada naskh. Naskh adalah penghapusan ayat terdahulu oleh ayat yang baru turun.


(Lismanto/Islam Cendekia)

0 Response to "Asas Legalitas dalam Hukum Pidana Islam"

Post a Comment