Epistemologi Tasawuf Perspektif Adonis

Oleh: Dzulfikar Akbar Romadlon
Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Ponorogo, dalam Bidang Ilmu Aqidah

Menurut Al-Jabi@ri@ bahwa diskursus pemikiran Islam dibagi ke dalam tiga jenis yakni, bangunan akal al-Baya@ni@, al-‘Irfa@ni@ dan al-Burha@ni@. Di dalam bangunan al-Baya@ni@ dan al-Burha@ni@ sebenarnya terkait dengan method logis dan empiris, dan yang paling berbeda adalah akal al-‘Irfa@ni@ yang merepresentasikan pengalaman kebatinan sufistik, yang sama sekali tidak terikat dengan hukum-hukum logika ataupun pembuktian-pembuktian empiris.[1] Tasawuf sendiri adalah filsafat yang melingkupi jalan-jalan (al-Sulu@k) yang digunakan oleh kaum Sufi sebagai langkah dalam melatih jiwa (Riyad}ah al-Ru@h}iyyah) dan usaha diri untuk mencapai keadaan (al-H}a@l) tertentu.

Keadaan ini tidak dicapai dengan belajar dan menghafalkan, secara logis ataupun empiris, akan tetapi dengan adanya penampakan (al-Musha@hadah).[2] Keadaan ini tidak terjadi di luar dirinya akan tetapi berada di dalam kesadarannya yang bahkan ia sendiri tidak dapat mengucapkan dan mensifatinya karena luasnya pengalaman yang didapatkan, oleh karena itu William James menyebutkan bahwa salah satu karakteristik Tasawuf dan Mistisisme adalah tidak dapat disifati (innefability) karena ia berada di dalam wilayah hati (al-Qalb) bukan rasio.[3]

Dalam prakteknya Tasawuf sering bersinggungan dengan kalangan yang memegang erat teks sumber (al-Qur’an dan al-Hadits) secara literalis, tanpa menyingkap makna terdalam yang terkandung di dalam teks. Dalam masalah ini seorang tokoh pemikir dan penya’ir Arab kontemporer berhaluan kiri yang bernama Adonis[4] melihat bahwa Tasawuf merupakan gerakan yang berubah (al-Mutah}a@wi@l) dalam sejarah Arab yang telah merubah paradigma literalis – Z}a@hir, yang direpresentasikan dengan ahli Shari’ah, kepada penelusuran atas makna yang Ba@t}in, yang direpresentasikan oleh kaum Sufisme.

Persinggungan antara ke dua kubu ini baginya merupakan dialektika sejarah yang ada dalam sejarah Islam, yang sebenarnya merupakan pertarungan dua jenis pemahaman dalam memandang realitas, di satu sisi merupakan pemahaman pada aspek yang hanya memandang yang tampak, di sisi lain mencoba menelusuri kedalaman makna, melalui subjektifitasnya. Di sinilah pertarungan antara keduanya bukan hanya tampak pada permasalahan mana yang benar tapi juga telah masuk kedalam ranah epistemologi, yakni untuk memahami ‘bagaimana menemukan kebenaran’.

Permasalahan ini membutuhkan kajian lebih lanjut, tentang ‘bagaimana kaum Sufi dapat mencapapai kebenaran’ yang menurut mereka, berada di tataran ba@t}in, melalui perspektif Adonis yang melihat sesuatu yang berbeda dalam kajian Tasawuf.

Adonis membaca Tasawuf sebagai gerakan perlawanan terhadap pemikiran keagamaan yang mapan. Perlawanan sufistik, melakukan perubahan dasar-dasar ideologis terhadap pemahaman keagamaan yang berada pada tataran d}a@hir menuju pemahaman yang ba@t{in, atau memindahkan tujuan dari beragama dari Shari@’ah ke H}aqi@qah, sehingga, pengungkapan yang H}aqi@qah dari segala sesuatu menjadi tujuan utama, dari pengalaman sufistik.

Mengungkap yang H}aqi@qah, dalam pemikiran Tasawuf, melazimkan adanya penyatuan (Wih}dah) terhadap objek yang diungkap, karena untuk menelusuri kedalaman sesuatu tidak bisa hanya melihat dari tampakannya saja tapi juga perlu masuk kedalaman yang lainnya (the other). Selain itu Adonis melihat, bahwa untuk menelusuri kedalaman yang lainnya juga diharuskan untuk menyingkap kedalaman diri, karena dengan adanya penyingkapan dari dalam diri, manusia juga bisa mampu untuk menyingkap kedalaman yang lainnya.

Allah sebagai Dhat yang maha sempurna tidak menerima adanya bentuk atau ilustrasi apapun, akan tetapi manusia dalam memahami-Nya perlu melalui cerminan-Nya yang terilustrasikan di alam semesta. Pengilustrasian Allah perlu menggunakan Imajinasi, yang terus dioptimalisasikan, untuk mencapai H}aqi@qah Allah, yang tidak mungkin dapat digambarkan. Sehingga dalam prakteknya Tasawuf terus melakukan penyingkapan yang terus menerus, sehingga ilustrasi Allah yang tergambar dalam dirinya pun tidak tetap, dan harus terus berubah.

Walau demikian Adonis, melihat bahwa Ilustrasi Allah itu bukan Allah, ia menjadi batas antara manusia dengan-Nya di satu sisi serta menjadi jalan untuk ber-tawa@sul menuju H}aqi@qah-Nya. Walau demikian, menurut Adonis kaum sufi berbicara dan mengungkapkan pengetahuan (Ma’rifah) mereka melalui simbol-simbol yang berupa Shatah}a@t yang merupakan ekspresi dari pengalaman mistis yang mereka alami. Pengetahuan tentang H}aqi@qah bersifat tidak dapat dilihat dan dikatakan, tapi ia bisa dirasakan, sehingga dalam pengungkapannya diperlukan kiasan-kiasan yang menunjukkan H}aqi@qah yang dialami oleh sang sufi.




[1] Muh}ammad ‘A@bid al-Ja@biri@, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi@ Dira@sah Tah}li@liyyah Naqdiyyah li-Niz}a@m al-Ma’rifah fi@ Thaqa@fah al-‘Ara@biyyah, (Beirut: Markaz Dira@sah al-Wih}dah al-‘Arabiyyah, Cet: 9, 2009) p. 251 - …
[2] Tor Andrae, al-Tas}awuf al-Isla@mi@, penerjemah: ‘Adna@n ‘Abba@s ‘Ali@, (Koln – German: Mashurah al-Jama@l, Cet: 1, 2003) p. 142.
[3] William James, The Varieties of Religious Experience a Study in Human Nature, (New York: The Modern Libarary, 1902) p. 371.
[4] Baca Arab: أدونيس nama aslinya adalah ‘Ali@ Ah}mad Sa’i@d I@sbi@r, salah satu tokoh kiri Arab, yang merupakan pemikir dan sastrawan kontemporer.

0 Response to "Epistemologi Tasawuf Perspektif Adonis"

Post a Comment