Hakikat Penciptaan Manusia dan Status Manusia di Hadapan Allah


Oleh: Irfan Maulana, A.Md.
Anggota Dewan Pengajar PPMQA Semarang

Ketika relung hati diliputi oleh kegelapan, maka suasana hati akan keruh dan selalu resah. Perasaan itu akan membuat seseorang gelap mata yang berakibat mengambil tindakan negatif (negative action). Hal itu terjadi karena hati sedang tertutup oleh hijab tebal sehingga orang tersebut tidak dapat menghargai dirinya sendiri dan terhalang untuk memandang kebesaran Allah Swt.

Jagat dunia yang didalamnya dipenuhi oleh sejuta keindahan memang sangat menakjubkan bagi siapapun yang menghayatinya. Namun perlu disadari bahwa seindah apapun dunia ini terbentang, esensi dunia ini adalah fana. Bagi seseorang yang tidak mau menyadari hal itu maka ia akan terhanyut didalamnya.

Merenungi kembali tentang hakikat penciptaan manusia di bumi, maka tak sepantasnya kita mengikuti naluri hati yang keruh yang selalu mengajak bersenang-senang dan bermain di beranda bumi ini. Allah swt berfirman:
  
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 1:30)

Dari ayat tersebut dapat diambil benang merah bahwa peran manusia diciptakan ke bumi adalah sebagai khalifah fil ardh yang bertugas merawat, menjaga dan melestarikan kekayaan bumi dengan sebaik mungkin. Ayat ini juga mengandung arti betapa pentingnya hubungan manusia dengan alam (horizontal relationship). Maka bagaimana mungkin hubungan dengan alam dapat berjalan harmonis jika dalam hati manusia masih menyimpan segudang hal yang negatif?

Walhasil, manusia perlu membersihkan hati (tazkiyatul qolbi) dan memasrahkan diri seutuhnya kepada Allah Swt (vertikal relationship). Dengan menjalin hubungan hangat kepada Allah Swt (ta’abud) maka manusia akan mampu mempertimbangkan segala bentuk tindakan beserta konsekuensinya.

Menyadari fitrah manusia yang mudah jenuh terhadap sesuatu, maka dalam beribadah kepada Allah Swt, Allah Swt menyediakan banyak menu ibadah untuk manusia. Karena banyaknya cara beribadah, syeh Ibnu Atho’illah As-sakandary dalam kitabnya al-hikam membagi manusia dimata Allah Swt menjadi tiga tingkatan, yaitu: 
  1. ‘Awam =  Manusia yang beribah kepada Allah Swt karena mengharapkan imbalan dunia.misalnya: beribadah agar usahanya lancar, dicintai oleh sesama manusia, dll. 
  2. ‘Abid = Manusia yang sudah merasa nikmat beribadah kepada Allah Swt dan mengharapkan imbalan selamat dari siksa neraka serta berharap dimasukkan surga. 
  3. Murid = manusia yang benar-benar menikmati beribadah kepada Allah Swt dan berharap agar selalu dapat berma’rifat kepada Allah Swt.