Integritas Tionghoa Dalam Dakwah: Analisis Kebijakan dalam Bingkai Walisongo

Integritas Tionghoa Dalam Dakwah: Analisis Kebijakan dalam Bingkai Walisongo

Oleh Ainung Jariyah
Alumni Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang

Penyebaran Islam di Nusantara memang tak bisa lepas dari juru dakwah yang masyhur dikenal dengan nama Walisongo. Dalam bahasa jawa nama Walisongo, secara ethimologi artinya wali yang berjumlah sembilan. Deretan wali-wali tersebut meliputi, Maulana Malik Ibrahim, Sunan ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Penempatan Walisongo dalam catatan sejarah Nusantara hidup pada abad ke-15 Masehi. Kesuksesan Walisanga dalam menyebarkan agama Islam di dukung berbagai modal yang dimilikinya.  Pertama, Walisanga memiliki modal agama yang mumpuni pada tataran kognisi dan praksis sehingga mereka diposisikan sebagai model dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua, Walisanga memiliki modal intelektual yang tercemin pada kemampuannya mengkombinasikan aspek-aspek keduniawian dan spiritual dalam memperkenalkan Islam pada masyarakat. Hal ini tercermin dalam kemampuannya mengadopsi keyakinan lokal menjadi bagian penting dalam ritual-ritual Islam. Di mana, secara atraktif ajaran itu dikemas dalam coraknya yang berdekatan dengan tradisi lokal, sehingga penyebaran Islam berwajah damai, menekankan pada aspek batiniyah atau esoteris.

Ketiga, Walisanga memiliki modal kultural yakni kemampuan sebagai spiritual healing atau penyembuh berbagai penyakit rakyat. Keempat, Walisanga memiliki modal ekonomi. Yakni, kekayaan yang didapat lewat perdagangan.

Kelima, Walisanga memiliki modal sosial. Yakni, jaringan sosial yang luas tidak saja antar sesama Wali dan umat Islam, tetapi juga dengan para penguasa (bupati, raja) dan pedagang kaya di kota-kota pelabuhan di daerah pesisir utara Jawa. Keenam, aneka modal tersebut dialihkan menjadi modal politik. Dan, modal yang terakhir inilah yang mampu membuat kekuatan dakwah Islam semakin kuat, karena bekerja sama dengan para penguasa di daerah pelabuhan yang telah beragama Islam.

Dalam historiografi klasik, Azumardi Azra -sebagaimana dikutip Sumanto- telah menyimpulkan ada empat 4 tema pokok berkaitan dengan awal mula penyebaran Islam. Antara lain, pertama, Islam dibawa langsung dari Arab. Kedua, Islam diperkenalkan para guru dan penyiar professional (maksudnya, mereka yang khusus bermaksud menyebarkan Islam secara “zending”). Ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah penguasa. Dan terakhir, kebanyakan penyiar Islam professional ini datang ke nusantara pada awal abad ke-12 dan 13.  Tidak bisa dipungkiri walaupun Islam sudah ada di Nusantara sejak abad ke-7 dengan adanya penemuan batu nisan bertuliskan nama Fatimah binti Maemun bin Hibat Allah di Leran Jawa Timur.

Kendati demikian, penyebaran agama Islam di Nusantara juga memerlukan sebuah teori untuk diujikan sebuah hipotesa dalam suatu karya ilmiah. Dalam amatannya, Sumanto al Qurtuby menyatakan bahwa penyebaran agama Islam memerlukan tiga metode. Pertama, penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh pedagang dalam jalur perdagangan yang damai. Kedua, penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para dai dan orang suci (Wali) yang datang dari India atau Arab yang sengaja bertujuan mengislamkan orang kafir atau meningkatkan pengetahuan mereka yang telah beriman. Ketiga, penyebaran agama Islam dengan kekuasaan atau memaklumkan perang terhadap negara-negara penyembah berhala. Selain itu, ada teori yang mengatakan asal usul si “pembawa” Islam di Nusantara yakni berasal dari Arab, India/Gujarat, Persia, dan China.

Disebutkan, teori yang mengatakan bahwa juru dakwah (baca: Walisongo) adalah berasal dari China/Tionghoa inilah yang banyak menuai polemik. Dalam catatan sejarah yang dikemukakan oleh Parlindungan bahwa adanya peranan orang Tionghoa bermazhab Hanafi dalam penyebaran islam di pulau Jawa termasuk di dalamnya walisongo. Nama-nama sunan Ampel dan Kudus banyak disebutkan dalam buku Parlindungan sebagai armada Cina muslim dengan nama Cina, Bong Swie Hoo dan Ja Tik Su.  Bong Swi Hoo adalah cucu dari haji Bong Tak Keng dari Campa, sedangkan Ja Tik Su merupakan seorah Ta cih yang mengalami kerusakan kapal ketika tiba di galangan kapal Semarang. Sunan Kalijaga dan sunan Gunung Jati berikut dengan nama Cina-nya, Gan Sie Cang dan Toh A Bo.  Gan Sie Cang merupakan cucu dari Gan Eng Cu, seorang “kapten Cina muslim” di Tuban dan Toh A Boo sendiri adalah anak dari Tung Ka Lo atau sultan Trenggana/raja Demak yang ketiga. Menurut Hario Widjaja, nama sunan Bonang apabila dirubah ke bahasa Tionghoa menjadi Bo Bing Nang.

Konon, berita tentang adanya muslim Tionghoa berawal ketika Haji Sam Po Boo memulai ekspansinya di pantai-pantai Nan Yang (Asia Tenggara). Pada tahun 1368-1645 di Tiongkok sedang berkasa Dinanti Ming yang mayoritas bermazhab Hanafi yang berasal dari Yunnan.  Laksamana Haji Sam Po Bo yang pernah  singgah selama satu bulan di semarang kemudian mengutus haji Bong Tak Keng di Campa. Lalu haji Bong Tak Keng memerintahkan kepada haji Gan Eng Cu di Manila yang kemudian dipindah ke Tuban. Haji Gan Eng Cu ini diklaim sebagai ayah Nyai Ageng Manila, istri dari sunan Ampel/raden Rahmat.

Selama bertempat tinggal di wilayah nusantara khususnya Jawa/Tuban, terjadi banyak inkulturasi kebudayaan, disamping banyak juga warga yang pada masa itu sedang berjaya masa kerajaan majapahit/Hindu beralih ke agama Islam. Seperti sudah disebutkan di atas bahwa bagaimana Islam berkembang di wilayah nusantara yaitu dengan adanya perkawinan antara para saudagar dengan orang lokal.

Setelah Sam Po Boo wafat, tidak lama Dinasti Ming mengalami kemunduran yang akhirnya menyebabkan orang Tionghoa Jawa kehilangan kontak dengan Cina. Bong Swi Hoo yang merupakan cucu Bong Tak Ken datang ke Tuban untuk menemui Gan Eng Cu yang waktu itu menjadi kapten laut Cina muslim di Majapahit. Di sinilah terjadi perkawinan antara raden Rahmat/sunan Ngampel dengan nyi Ageng Manila. Bong Swi Hoo yang menjadi menantu haji Gan Eng Cu secara langsung mengantikan posisi menjadi kapten islam Cina setelah haji Gan Eng Cu meninggal.

Dalam cerita catatan melayu Bong Swi Hoo diperbantukan oleh Swan Liong. Menurut H.J De Graff Swan Liong dalam karangan Parlidungan merupakan khayalan semata.  Menurut de graff antara kebenaran dan mitos dalam sebuah legenda sangatlah sulit untuk dipisahkan.  Menurut De Graff pernyataan bahwa Cheng Ho tinggal di Semarang selama satu bulan tidak mungkin benar. Karena masjid Cina Hanafiyah yang ia katakan telah ia kunjungi beberapa kali pada tahun1413 dinyatakan didirikan pada tahun 1411 (awal kronologi catatan Cina asli), tetapi hal ini tidak disebutkan dalam catatan tahunan  melayu.

Dalam versi lain, sebelum tiba di Jawa laksamana Cheng Ho terlebih dahulu singgah di Samudra Pasai, menemui Sultan Zainal Abidin Bahian Syah untuk membuka hubungan politik dan perdagangan. Pada tahun 1407 laksamana Cheng Ho mampir ke palembang untuk menumpas perompak Hokkian dan membentuk masyarakat kecil muslim Tionghoa. Jadi sebelum laksamana Cheng Ho ke Palembang sudah ada masyarakat Tionghoa yang bermukim di sana.

Setelah Cheng Ho wafat dibangunlah klenteng Sam Po Kong untuk menghormati jasa-jasanya yang konon dalam cerita tahunan melayu merupakan masjid muslim Hanafi di Semarang. Klenteng ini sering dikunjungi baik orang Tionghoa maupun muslim Jawa. Di dalam klenteng yang terdapat jangkar kapal diyakini jangkar kapal milik Cheng Ho yang digunakan untuk sembahyang agar mendapat berkat dan rezeki.

Penyebaran Islam oleh walisongo tidak pernah terlepas dari bangunan masjid, Di tempat itulah walisongo menyebarkan islam. Di masjid Demak yang terkenal karena salah satu soko gurunya terbuat dari potongan kayu yang disusun secara akurat (soko tal atau tatal) menggunakan teknologi pembuatan jung, kapal niaga dari Tiongkok dari Dinasti Ming yang terbuat dari kayu. Padahal pada waktu itu sedang berkuasa kerajaan majapahit Hindu yang arsitekturnya berupa batu-batu seperti candi-candi yang banyak di Jawa. Masjid agung Demak konon didirikan oleh sunan Kalijaga dan dibantu oleh walisanga dalam kurun waktu satu malam saja.

Di makam sunan Gunung Jati tidak jauh berbeda dengan masjid agung Demak yang terdapat ornamen “kura-kura “ yang digunakan dalam mitologi Cina/Tionghoa yang tidak umum terdapat dalam kebudayaan Islam, Hindu maupun Budha. Di dalam ornament itu dijelaskan bahwa masjid tersebut dibangun paa tahun 1404 caka atau 1479 masehi. Piring-piring porselen peninggalan Dinasti Ming juga banyak ditempelkan di tembok-tembok masjid.

Peran walisongongo dalam penyebaran agama Islam berikutnya adalah dengan mendirikan pesantren atau lembaga pendidikan agama sebagai penyebar agama islam. Pelopor pendirian pesantren di Jawa adalah Maulana Malik Ibrahim. Ini terbukti dengan berkembangnya pesantren hingga sampai sekarang. Baik yang masih menggunakan sistem salafi (sorogan dan bandungan) atau yang sudah menggunakan sistem modern.

Awal mula kedatangan Cheng Ho ditemani oleh pembantunya yakni, para haji Tionghoa, Haji Ma Huan dan Haji Feh Tsing (Fei Hsin) pada tahun 1431. Keduanya menulis buku masing-masing Ying Yai Sheng Lan dan Tsing Tsa Sheng Lan. Buku-buku tersebut berisi tentang negara-negara yang dikunjunginya. Dalam catatan melayu Semarang merupakan daerah yang dikunjunginya, sedangkan dalam keterangan De Graff nama Semarang tidak termasuk dalam daftar daerah yang dikunjunginya.

Orang-orang pembuat legenda mengatakan bahwa orang-orang Tionghoa menyebarkan agama Islam dengan nama walisongo. Mereka dengan segala modalnya dapat mengislamkan orang-oraang Jawa. Mereka khusus didatangkan dari Cina untuk menyebarkan Islam mazhab Hanafi. Raden Rahmat yang mempunyai nama Cina Bong Swi Hoo yang sedang berkuasa di Tuban diperbantukan oleh raden Patah alias Jin Bun untuk menyerang kerajaan hindu Majapahit dan menggantikan dengan kerajaan Islam Demak. Setelah Demak jaya, raden Sahid alias Gan Eng Cu berinisiatif membangun masjid agung Demak dengan izin raden Patah. 

Kerajaan islam memiliki dua penerus yakni sultan Yunus dan sultan Trenggana. Masing masing dengan nama Cina Yat Sun dan Tung Ka Lo. Sultan Yunus hanya memerintah selama tiga tahun karena meninggal dunia dan digantikan dengan sultan Trenggana yang memimpin selama 40 tahun. Setelah kematian sultan Trenggana kerajaan islam mengalami perang antar penerus kerajaan demak. Demak menjadi tenggelam dan merempet ke semarang. Begitulah cerita yang berkembang di masyarakat sampai kemudian Semarang dijadikan benteng VOC.

Melihat kenyataan demak yang demikian porak poranda, haji Tan Eng Hoat mendirikan kasultanan Cirebon dan bergelar Maulana Ifdil Hanafi bersama sunan Gunung Jati. Konon nama Maulana Ifdhil Hanafi diberikan oleh sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah alias Faletehan memiliki nama cina Toh A Bo (pangeran timur). Putra anak Trenggana. Sedangkan menurut Prof. Husain Djajadiningrat, sunan Gunung Jati adalah Faletehan. Seorang ulama dari Pasai yang meninggalkan Malaka karena diserang oleh Portugis dan kemudian menetap di Demak. Kerajaan Demak yang waktu itu dipimpin oleh sultan Trenggana sangat senang dengan kedatangan sunan Gunung Jati dan dikawinkan dengan adiknya.

Namun oleh sultan sepuh istana kasepuhan Cirebon, sultan Radja Radjaningrat membantah hal tersebut. Menurutnya nama Faletehan merupakan nama dari Fatkhullah Khan seorang ulama dan muazin di kasultana Cirebon. Yang meninggal bertepatan dengan meninggalnya sultan Gunung Jati. Karena kesetiannya kepada kasunanan Fatkhullah Khan dimakamkan tidak jauh dari makam sunan Gunung Jati.

Dalam penuturan babad jawa, asal usul kesemua wali berasal dari nenek moyang berbagai macam bangsa yang sebagian besar berasal dari bangsa Arab, Mesir, Persia, Gujarat (India) dan Samarkandi yang kawin dengan bangsa Indonesia asli (Majapahit dan Padjajaran); dan dari pihak ibu raden Patah dan sunan Ampel adalah keturunan raja Campa (Kamboja) yang aslinya berasal dari Samarkandi. Jadi asal usul yang menjelaskan bahwa semua wali berasal dari Tionghoa/Cina adalah mustahil adanya.

Penyusuran teks malays annal karangan parlindungan memang sangat sulit, Karena terbatas pada waktu dan bukti-bukti sejarah. Sejak diterbitkan pada tahun 1964 hingga saat ini masih sangat kontroversial. Kendati sudah banyak buku terbitan baru yang tentunya lebih lengkap dan bisa dijadikan referendi guna sumber kekayaan disiplin kesejarahan nusantara, buku ini tetap mempunyai magnet tersendiri bagi peminat sejarah. 
Konsep kedua, penyebaran agama islam melalui pendidikan orang-orang kurdi.

Kurdi adalah salah satu daerah di Asia Tengah, sekarang telah bergabung dengan negara Irak. Banyak ulama-ulama besar lahir dari sana misalnya Syaikh Mahmud al Barzanji dan Syeikh Abdul Qadir Jailani. Nama Barzanji tentu tidak asing bagi orang muslim di Indonesia, karena  syair-syair pujian yang ditujukan kepada nabi Muhammad itu tidak lain adalah kitab Berzanji yang rutin dibacakan setiap malam jumat. Barzanji (lebih tepat Barzinji, dari nama tempat Barzinj) adalah nama keluarga ulama dan syeikh tarekat Kurdi yang paling terkenal. Nama ini diperkenalkan kepada seluruh dunia pada tahun 1920-an ketika Syeikh Mahmud Barzinji memimpin pemberontakan nasionalis kurdi terhadap inggris yang pada waktu itu menguasai Irak.

Syeikh Abdulkadir Jailani yang dianggap sebagai pendiri tarrekat Qadiriyah sangat popular di Kurdistan. Panggilannya al Ghauts al Kurdi, karena menurut orang Kurdi Syeikh Abdulkadir sendiri juga dari suku mereka. Daerah kelahirannya Gilan (Jilad, kalau diarabkan) disebelah timur Baghdad masih dihuni orang Kurdi. Karamah Syeikh Abdulkadir Jailani disebut mampu menyembuhkan luka benda tajam, dan penganut tarekatnya di Kurdistan sering mempertunjukkan kekebalan mereka terhadap parang, tusuk besar benda tajam lainnya persis seperti Dabus Banten.

Selain itu, masih ada lagi alasan yang mengacu untuk uji sebuah teori baru untuk memperkuat teori ini. Yakni:
Pertama, nama Muhammad Amin al Kurdi, adalah seorang pengarang kitab Tanwir al Qulub yang isinya tentang Fiqh, Tauhid, Tasawuf dan tarekat Naqsabandiyah. Kitab ini banyak dijual di toko-toko kitab di seluruh Indonesia. Sedangkan tarekat Naqsababandiyah merupakan tarekat terbesar di Indonesia.Kedua, Maulana Khalid Dliya’uddin al Baghdadi adalah pendiri tarekat Naqsabandiyah, yang sampai sekarang masing berkembang di Indonesia.

Ketiga, Sulaiman Kurdi. Nama Sulaiman Kurdi dikenal karena pengarang kitab-kitab Fikih yang terkenal di Jawa dan Madura. Nama Sulaiman Kurdi dikenal dengan nama nusantara Sleman Kurdi. Sulaiman Kurdi adalah seorang Mufti Syafi’I di Madinah dan merupakan guru ulama Indonesia yakni M. Arsyad al Banjari dan Abdussamad al Palimbani.

Keempat, adanya nama-nama Kurdi yang sering digunakan untuk nama muslim di Indonesia, seperti Dimyati, Nawawi dan Sanusi. Dan seringnya nama ini diklaim sebagai nama asli Jawa. Nama Dimyati dan Nawawi yang artinya supaya kelak anak menjadi seorang muslim yang baik dan terhormat. Sedangkan nama Sanusi adalah nama seorang ulama terkenal di Kurdi.

Kelima, nama Ibrahim al Kurani. Berasal dari Kurdi dan merupakan ulama yang terkenal di Madinah pada pertengahan abad 17. Ulama ini juga merupakan guru ulama besar di Indonesia, seperti Abdurrauf Singkel dan Syaikh Yusuf Makasar.

Keenam, adanya kesamaan dalam jiwa sufistik orang nusantara dengan orang Kurdi yang sama-sama penganut mazhab Syafii. Ini dibuktikan dengan faham Syafii yang lebih banyak penganutnya di Indonesia dibanding mazhab yang lain.

Ada yang menarik dari teori yang dikemukakan oleh martin, yakni pengislaman orang Kurdi yang dilakukan terhadap orang nusantara tidak melalui jalur perdagangan. Suatu hal yang tidak umum dilakukan ketika ingin menyebarkan agama tidak melalui kontak fisik dengan masyarakat setempat. Pengaruh bangsa Kurdi di Indonesia tidak dibawa langsung oleh orang Kurdi sendiri melainkan melalui orang nusantara sendiri yang menuntut ilmu ke semenanjung Arab yang pada waktu itu ulama kurdi menjadi guru di wilayah tersebut. Proses pengislaman di Indonesia memang sangat rumit. Banyak teori yang mengklaim bahwa kebenaran teori adalah miliknya pemilik teori tersebut. Agama islam yang dibawa oleh nabi Muhammad memang ditujukan untuk umat dunia yang ingin mengenal Allah dan Nabinya. Islam diturunkan di negara Makkah dan Madinah yang selanjutnya disebarkan ke seluruh dunia oleh wakil-wakil terpilih penerus nabi Muhammad.

Di Indonesia, khususnya jawa mengenal adanya walisanga sebagai penyebar agama islam rahmatal lil alamin. Islam dibawa langsung oleh muslim-muslim Arab lewat jalur perdagangan. Sebagai agama mayoritas di Indonesia, islam dijadikan khasanah ilmu dalam kesejarahaannya. Entah dari siapa dan dari mana asalnya islam yang benar adalah islam yang kita anut dalam diri kita sendiri. Teori yang muncul dan terus berkembang adalah sebagai khasanah ilmu yang menunjukkan bahwa Islam tidak kuat hanya di wilayah Madinah dan Makkah melainkan di negara-negara Timur Tengah yang lain. Yang berfungsi sebagai penyebar agama Islam

(Jurnal Justisia)

0 Response to "Integritas Tionghoa Dalam Dakwah: Analisis Kebijakan dalam Bingkai Walisongo"

Post a Comment