Islam Isi dan Islam Kulit

Islam Isi dan Islam Kulit
Oleh Wahyu Minarno

Penulis adalah Mantan Ketua Umum HMI Cabang DI Yogyakarta

Beberapa tahun yang lalu negara kita disibukkan dengan isu Negara Islam Indonesia (NII). Hal itu memaksa kita untuk memperjelas ulang garis demarkasi antara Islam yang lebih mengedepankan substansi dan Islam yang cenderung “labelistik”. Bahwa Islam merupakan sistem nilai yang brsifat universal serta dapat diterjemahkan melalui berbagai bentuknya ke dalam realitas sosial, boleh dikatakan telah menjadi pemahaman umum.

Meskipun pemahaman pada wilayah tersebut telah merupakan common sense, pergulatan seputar bagaimana bentuk penterjemahan nilai-nilai yang dimaksud ke dalam wilayah sosial masih melahirkan banyak pertentangan. Secara sederhana, pertentangan yang ada tersebut diwakili kelompok Islam substantif (Islam isi) dan kelompok Islam formalistik (Islam kulit).

Cara Pandang Islam

Sebagaimana telah menjadi wacana pada era sekitar 70-an, persoalan yang dipandang sebagian kalangan intelektual muslim mengenai pencampuradukan antara wilayah sakral (statis) dan wilayah yang profan (dinamis) dalam agama, telah melahirkan suatu pendekatan yang disebut sekularisasi. Satu-satunya tokoh intelektual Muslim Indonesia yang menyajikan pendekatan tersebut adalah Nur Cholis Madjid.

Meskipun pada saat itu, bahkan hingga hari ini, pendekatan tersebut masih sering disalahpahami, tentu tidak ada kelirunya jika kita meminjamnya sebagai alat baca dalam memahami pemikiran serta perilaku beberapa kelompok Islam yang memiliki beragam cara pandang terhadap aktualisasi Islam. Secara sederhana, pemahaman terhadap Islam dapat dibagi menjadi dua kelompk, yaitu kelompok yang memahami Islam sebagai sistem nilai dan kelompok yang memahami Islam secara simbolik atau kelembagaan.

Pertama, lebih menitikberatkan pada wilayah pemahaman bahwa Islam merupakan seperangkat sistem nilai universal, yang pada dasarnya dapat disesuaikan penerapannya ke dalam berbagai bentuk selama tidak lepas dari esensi dasar nilai yang dimaksud. Kelompok Islam yang demikian tidak memandang bentuk maupun simbol. Selama masih terdapat komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran yang diyakini bersumber dari Tuhan, maka dia tetaplah Islam. Sebagaimana pandangan secara umum mengenai Islam sebagai rahmatan lil alamiin, maka kelompok ini menilai bahwa Islam harus membawa manfaat bagi keseluruhan makhluk hidup tanpa harus dikemas secara formal.

Kedua, lebih melihat Islam harus diterjemahkan ke dalam realitas sosial secara utuh. Mulai dari penerapan sistem nilai tersebut sampai kepada perangkat-perangkat teknisnya. Pandangan bahwa jika Islam tidak diformalkan ke dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka Islam tidak dapat secara maksimal menjadi rahmat. Sebab jika Islam belum menjadi sistem dan hokum bagi negara, maka Islam tidak mampu mengikat perilaku setiap individu yang terdapat di dalamnya.

Hampir seluruh kelompok yang termasuk ke dalam kategori ini menghendaki didirikannya Negara Islam untuk menjamin diterapkannya sistem nilai Islam secara terpadu. Salah satu representasi dari kelompok ini adalah NII, terlepas apakah dia benar-benar nyata maupun hanya sebatas wacana sebagai pengalihan isu. Selain adanya perbedaan dari dua kategori kelompok Islam di atas, masih terdapat hal lain yang juga cukp signifikan untuk dipahami.

Sampai hari ini, masih terdapat masyarakat muslim yang terjebak kepada wilayah pemahaman mengenai mana segi ajaran Islam yang bersifat sakral (statis), serta mana segi dari ajaran Islam yang bersifat profan (dinamis). Tentu saja persoalan pemahaman yang masih mencampur-adukkan antara hal yang bersifat statis dan hal yang bersifat dinamis ini akan sangat berpengaruh terhadap sikap serta perilaku keagamaan di dalam masyarakat. Misalnya saja persoalan seputar pendirian negara Islam.

Beberapa Pertanyaan

Apakah tujuan dari misi Islam itu harus dengan mendirikan Negara Islam, ataukah cukup dengan meletakkan nilai-nilai Islam sebagai sumber inspirasi bagi penerapan sistem pemerintahan yang ada? Sebagai suatu sikap otokritik, dapat diajukan sebuah pertanyaan kritis, apakah bentuk pemerintahan Islam akan benar-benar menjamin adanya keadilan dan kesejahteran seluruh masyarakat? Bagaimana dengan adanya pemeluk agama lain yang memiliki keyakinan yang berbeda?

Apakah harus mengikuti seluruh sistem yang diterapkan? Bukankah Islam sendiri mengajarkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama? Bukankah Islam juga menerima serta menghargai keberagaman karena itu adalah rahmat? Dan sebagai contoh lagi, apakah hari ini tidak ada Negara yang berdasarkan Islam? Dan apakah di sana sudah dapat dijamin adanya egalitarianisme, toleransi, dan saling menolong? Yang pada dasarnya ketiga sikap tersebut merupakan bagian inti dari ajaran Islam dalam konteks hubungan antar sesama manusia.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah pemahaman yang benar mengenai kandungan nilai Islam yang dia harus tidak boleh dirubah, serta pemahaman mengenai bagian-bagian mana yang memang seharusnya bersifat dinamis sehingga Islam dapat benar-benar berlaku di segala waktu dan jaman. Pemahaman yang terakhir itulah yang semestinya menjadi kerangka berfikir mengenai Islam sebagai rahmatan lil alamiin. Dalam konteks Islam di Indonesia hari ini, hal itu harus dikemas ke dalam bentuk pemahaman mengenai integralisme keislaman-keindonesiaan.

Integralisme Keislaman-Keindonesiaan

Sebagai agama dari mayoritas masyarakat Indonesia, Islam mendapatkan tempat yang terhormat dalam aspek keyakinan. Kehadiran Islam di Indonesia sejak beberapa abad silam, boleh dikatakan tidak mengalami petentangan yang signifikan. Hal ini tentu disebabkan minimal oleh dua faktor.

Pertama, metode yang digunakan oleh para da’I dalam menyebarkan Islam sangatah tepat. Mereka mampu memadukan atau mempertemukan dua tradisi dengan menggunakan metode akulturasi yang tepat. Terkait dengan hal ini salah satu jejak sejarah yang dapat dilihat adalah sejarah Walisongo.

Kedua, jika disaksikan secara lebih seksama, maka kandungan nilai-nilai Islam tidak jauh berbeda dengan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di nusantara pada waktu itu. Di Jawa misalnya, juga di daerah-daerah yang lain, sikap dan perilaku hidup berdampingan sebagai satu kesatuan masyarakat, yang menekankan sikap gotong-royong, toleransi, dan hormat-menghormati, sama dengan apa yang diajarkan di dalam Islam. Islam juga mengajarkan mengenai bagaimana seharusnya setiap individu maupun kelompok dapat hidup berdampingan dan saling menghargai serta menolong.

Jadi sudah sangat jelas, bahwa Islam dan Indonesia bukan dua hal yang bertolak belakan. Konsep tentang keislaman dan keindonesiaan adalah dua hal yang satu dalam konteks kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbudaya. Dengan demikian maka dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa mendirikan negara Islam hanya akan mereduksi atau bahkan mengancam hubungan antara Islam dan Indonesia yang telah terjalin dengan baik.

Dalam hal ini, terkait dengan gerakan serta upaya-upaya yang dilakukan oleh NII, maka dengan sendirinya NII bukanlah hal yang kontekstual dan relevan. Adapun jika masih terdapat kelompok-kelompok seperti halnya NII, hal tersebut bukanlah lagi menjadi tantangan serius ketika masyarakat bersama pemerintah bersama-sama memahami dengan benar serta menerapkan konsep keislaman-keindonesiaan secara konsisten. Sebab dengan masifitas dalam pemahaman dan penerapan nilai-nilai keislaman-keindonesiaan, dengan sendirinya ruang gerak bagi NII dan gerakan serupa lainnya akan semakin sempit.

Tugas muslim di Indonesia ke depan adalah bagaimana melanjutkan perjuangan dalam mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur serta diridai Allah Swt, dan bukan sebaliknya, terpecah-pecah dan berjalan mundur ke belakang.

0 Response to "Islam Isi dan Islam Kulit"

Post a Comment