Istilah Korupsi sebagai Sariqah dalam Hukum Islam

Istilah korupsi dalam fiqh jinayah biasanya identik dengan sariqah. Meskipun demikian, istilah korupsi menurut fiqh tidak serta merta sama dengan sariqah karena sariqah yang diartikan sebagai pencurian mencakup wilayah yang sempit, sedangkan korupsi mencakup makna pencurian dalam skala yang sangat luas. Dalam hukum Islam khususnya dalam kajian hukum pidana Islam, sariqah bukanlah satu-satunya definisi yang dapat mewakili istilah korupsi, tetapi istilah saqirah menjadi salah satu definisi dari sekian definisi yang dikenal dalam khasalah hukum Islam atau fiqh.

Korupsi diidentifikasi sebagai sariqah dari sisi penguasaan harta yang bukan miliknya. Sariqah  berarti mencuri, terambil dari kata bahasa arab sariqah yang secara etimologis berarti melakukan sesuatu tindakan terhadap orang lain secara sembunyi. Misalnya istiraqqa al-sam’a (mencuri dengar) dan musaraqat al-nazhara (mencuri pandang).

Terkait dengan batasan konsep tersebut, Abdul Qadir Audah mendefinisikan sariqah sebagai tindakan mengambil harta orang lain dalam keadaan sembunyi-sembunyi. Yang dimaksud dengan mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi adalah mengambilnya dengan tanpa sepengetahuan dan kerelaan pemiliknya. Misalnya, seseorang mengambil harta dari sebuah rumah ketika pemiliknya sedang bepergian atau tidur.

Pencurian dilarang dengan tegas oleh Allah melalui Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 38: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Penegasan larangan mencuri juga didasarkn pada hadis Nabi: “Bahwasanya yang telah menyebabkan kehancuran umat sebelum kalian adalah apabila ada kaum lemah mencuri, maka ditegakkan hukum hadd seadil-adilnya, tetapi sebaliknya jika yang mencuri bagsawan, dibiarkanlah mereka. Aku bersumpah demi Allah di mana jiwaku dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fatimah putri-Muhammad-mencuri niscaya akan kupotong tangannya.”

Dalam kajian fiqh jinayah, para fuqaha mengklasifikasikan pencurian ke dalam dua kategori. Pertama, pencurian yang diancam dengan hukuman hadd (ancaman hukuman yang telah ditegaskan macam dan kadarnya dalam Al-qur’an atau sunnah. Kedua, pencurian yang diancam dengan hukuman ta’zir (ancaman hukuman yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada hakim untuk menetapkannya).

Pencurian baru dapat diancam hukuman hadd jika memenuhi beberapa unsur. Unsur-unsur itu adalah tindakan mengambil secara sembunyi-sembunyi, unsur benda yang diambil berupa harta, unsur benda yang diambil adalah hak orang lain, dan unsur kesengajaan berbuat kejahatan.  Pencurian yang diancam hukuman hadd dibagi menjadi dua macam: al-sariqah sughra (pencurian kecil) dan al-sariqah kubra (pencurian besar). Para ulama berpendapat bahwa karena adanya persamaan karakter dalam beberapa hal, jenis pencurian yang besar (al-sariqah kubra) dikenal juga sebagai jarimah hirabah.

Dengan demikian bentuk kejahatan terhadap harta terbagi kepada:

Tindak kejahatan terhadap harta yang diancam dengan hukuman had, terdiri dari dua macam:
1. Pencurian yang dikenal sebagai al-sariqah al-sughra.
2. Perampokan yang dikenal sebagai al-sariqah al-kubra atau hirabah.

Tindak kejahatan pencurian yang diancam dengan hukuman ta’zir, yaitu pencurian dan perampokan yang tidak mencukupi syarat-syarat untuk dijatuhi hukuman hadd.

Korupsi jelas merupakan tindakan kejahatan terhadap harta, karena korupsi bertujuan untuk menguasai hak milik orang lain, atau milik negara. Hanya saja mengidentifikasi korupsi sebagai jarimah sariqah biasa tidaklah tepat karena ada perbedaan karakter yang cukup mendasar antara keduanya. Mungkin lebih tepat apabila korupsi diidentifikasi sebagai al-sariqah al-kubra, karena sifat-sifatnya yang melampaui al-sariqah al-sughra. Beberapa karakter dasar yang berbeda antara lain:

1. Sariqah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sedangkan hirabah dilakukan secara terang-terangan.
2. Sariqah dilakukan secara individual sedangkan hirabah dilakukan secara berkelompok dan dengan kekuatan senjata.
3. Sariqah biasanya dilakukan secara spontan, tanpa rencana yang matang, lebih kepada memanfaatkan peluang, sedangkan hirabah dilakukan secara terencana, terorganisir, sistematis, terkadang diikuti dengan adanya agenda (kepentingan) yang besar.
4. Sariqah biasanya dilakukan tanpa tipu daya, sedangkan hirabah menggunakan tipu daya.

Istilah Korupsi sebagai Sariqah dalam Hukum Islam Fiqh Jinayah (Soumy Mubarok/Islam Cendekia)

0 Response to "Istilah Korupsi sebagai Sariqah dalam Hukum Islam"

Post a Comment