Konsep Al-Qur'an tentang Tuhan

Makalah Disusun oleh Kharis Fahrudi & Ariyani Kemuning Jati
Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang (2008)

A.    PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan segala nikmat-Nya dan meliputi segala kelebihannya tehadap kita dengan anugerah nikmat Islam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang di utus sebagai rahmat bagi sekalian makhluk dan atas keluarga, pengikut, serta sahabat-sahabatnya yang mulia.

Jika kita melihat, mengamati dan peneliti bahwa tafsir al-aqur’an terdapat penjelasan tentang firman-firman tuhan yang menerangkan Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Dalam konsep Al-qur’an dalam islam Tuhan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam.

Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Maha Yang Tunggal dan Kuasa (tauhid). Allah itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha penyayang. Menurut al-Qur'an terdapat 99 Nama Allah asma'ul husna artinya nama-nama yang paling baik, yang mengingatkan setiap sifat-sifat Tuhan yang berbeda. Semua nama tersebut mengacu pada Allah, nama Tuhan Maha Tinggi dan Maha Luas. Diantara 99 nama Allah tersebut, yang paling terkenal dan paling sering digunakan adalah "Maha Pengasih" (ar-rahman) dan Maha Penyayang (ar-rahim).

Penciptaan dan penguasaan alam semesta dideskripsikan sebagai suatu tindakan kemurahhati  yang paling utama untuk semua ciptaan yang memuji keagungan-Nya dan menjadi saksi atas keesan-Nya dan kuasa-Nya. Menurut al-qur’an, Tuhan muncul dimana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa pun, karena merupakan suatu ketauhitan. Menurut al-Qur'an, Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan sepandang mata, sedangkan Allah dapat melihat segala apa yang ia kehendaki dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut al-Qur'an, Allah lebih dekat pada umat manusia sebagai urat nadi . Islam mengajarkan bahwa Tuhan dalam konsep Islam merupakan Tuhan yang wajib disembah dan menuntun umatnya kejalan yang benar. Karena konsep Al-qur’an bersifat universal untuk umat manusia.

B.    RUMUSAN MASALAH

Dengan tema yang berkaitan di atas yaitu mengenai Konsep Al-qur’an tentang Tuhan maka kami membuat rumusan masalah dengan tujuan  dalam pembahasan makalah yang akan kami sajikan sesuai dengan konteks yang ditentukan dan menjadi pokok bahasan yang baik. sehingga terjadinya hasil yang positif dari makalah tersebut. Maka rumusan masalah yang kami sajikan adalah sebagai berikut :
1.    Konsep Tentang Tuhan di Arab Pra Islam
2.    Istilah Al-qur’an Menyebut Tuhan
3.    Al-qur’an Memperkenalkan Tuhan
4.    Argumentasi Al-qur’an Tentang Keesaan Tuhan

C.    PEMBAHASAN
1.    Konsep Tentang Tuhan di Arab Pra Islam
Konsep tuhan pada masa pra-Islam lebih bersifat pada politeisme. Hal ini yang terjadi di Arab pra-Islam.Walaupun dalam kepercayaan orang arab menganut banyak dewa, akan tetapi menyakini bahwa Tuhan itu satu. Pada masa Arab  pra-Islam bermula dengan adanya berhala ditanah Arab.   Mereka lalu mencampur-adukkan antara monoteisme yang dibawa Ibrahim dan paganisme. Mereka percaya takdir yang bersifat samar, kuat, dan tidak dapat ditawar-tawar melebihi apa yang manusia tidak dapat kendalikan.

Dalam sejarah peradaban Arab, kata “Allah” memang sudah biasa digunakan di kalangan kaum kafir Quraisy Mekah, tempat dimana Rasulullah SAW dilahirkan. Sebagai contoh konkret adalah nama ayah Nabi Muhammad SAW, Abdullah. Ini mengindikasikan bahwa orang-orang Arab Jahiliyah biasa menggunakan kata Allah. Contoh lain adalah kata ‘Ubaidillah (Hamba Kecil Allah), yang digunakan sebagai nama salah seorang sahabat Nabi SAW.

Jika melihat konsep tuhan yang kita ketahui dalam pra-islam berarti berkaitan dengan  ketauhitan atau keimanan manusia terhadap Allah pada masa itu. Manusia hanya memandang bahwa konsep tuhan sebagaian besar bersifat rububiyyah yaitu konsep ketuhanan yang bersifat hanya sebagai pencipta.

 Konsep “Allah” sebagai “rabb” di kalangan kafir Quraisy tidak menyentuh esensi Allah SWT. Karena mereka banyak menggunakan kata “Allah” untuk tuhan-tuhan menurut kabilah mereka masing-masing. Di dalam Ka‘bah  terdapat 360 berhala, yang seluruhnya sebagai bahan sembahan para kabilah-kabilah bangsa arab sebagai wujud keyakinan bertuhan.   Semuanya merujuk pada konsep rabb, karena tidak ada yang berani menamakan berhala mereka sebagai “Allah”, karena Allah satu zat yang tidak dapat disentuh.

Konsep “Allah” dalam Islam dan Kristen ini diakui dengan sangat baik dari kitab masing-masing baik dalam Al-qur’an atau Al-kitab.  Dalam hal ini menyatkan bahwa “penggunaan kata Allah sering kali terdengar dalam bahasa theologi, bahkan dalam dunia islam terkenal dengan Asmaul husna yang jumlahnya 99, dan hal lain yang kita ketahui yaitu dalam konsep “Allah” sangat erat kaitannya dengan akidah (keyakinan) tentang “keesaan” (oneness) Allah SWT.
Konsep inilah yang diputar 180 derajat oleh Al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam Islam, makna “tawhid” adalah ‘satu bentuk keyakinan (i‘tiqâd)’ bahwa Allah itu “Esa” (wâhid) tidak ada sekutu bagi-Nya. Ilmu tawhid dinamakan dengan “tawhid”, karena pentingnya bagian yang ada di dalamnya, yakni afirmasi (itsbât) keesaan Allah di dalam zat dan aksi (al-fi‘l) dalam menciptakan segala makhluk (al-akwân, cosmos). Dan hanya Dia-lah sebagai ‘rujukan’ (tempat kembali) setiap makhluk (kaun) dan akhir dari setiap tujuan.

Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah. Ia berarti Tuhan atau menyiratkan Satu Tuhan. Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa kepercayaan atau ketahuitan dan istilah Arab kata Allah atau al-Ilah terkait dengan El dalam bahasa Ibrani, yang berarti “Tuhan”.Dalam hal ini sejarah membuktikan bahwa konsep tuhan sudah menujukan adanya keesesaan Allah didalam umat manusia terdahulu.

2.    Istilah Al-qur’an Menyebut Tuhan
Agama islam adalah agama yang mengenalkan tuhan dengan kandungan isi Al-qur’an dan menyebutya dengan beberapa istilah atau yang kita kenal dengan nama sering kita sebut dengan asmaul husna atau 99 nama Allah, yang mana dalam setiap asmaul khusna terdapat makna dan arti yang berbeda-beda.
Di dalam al-qur’an-pun terdapat ayat-ayat yang menceritakan istilah yang menyebutkan Allah, diantaranya :
a.    Surat Al-Fatihah 
                
 Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang..  Segala puji bagi Allah, Tuhan(rabbi)  semesta alam.  Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.   Yang menguasai di hari Pembalasan.
Dalam surat Al-fatihah, tuhan disebut dengan arrahman dan arrahim yang artinya adalah Maha pemurah dan penyayang, dalam hal ini arti kata pemurah maksudnya adalah Allah bersifat welas asih sehingga melimpahkan karunianya kepada seluruh hambanya. Sedangkan makna dari arrahim yang memberikan pengertian bahwa Allah adalah selalu sayang atau penyayang dan melimpahkan rahmatnya kepada semua makhluknya.
b.    Surat Fathir ayat 30
         
 Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

c.    Surat An-Am ayat 83
         •   •   
Dan Itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

d.    Al-Hadid ayat 1-3
                          •        
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.  Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.
e.    Surat Al-Ikhlas
                •  
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

3.    Al-qur’an Memperkenalkan Tuhan
Al-qur’an sebagai kalam Allah yaitu sebuah wahyu yang menerangkan dan mengenalkan tuhan dengan sebutan Allah dengan sebutan Al-malik, Ar-him dan Rabbika dll, yang dalam hal ini menerangkan adanya konsep ketuhanan dalam Al-qur’an. Sedangkan Kata Rabbika merupakan kata yang berkaitan erat dengan iqro’ yang berarti  perintah untuk membaca dan memahami konsep ketuhanan. Dari hal tersebut dituntut dari pembaca bukan saja melakukan pembacaan secara global tetapi melakukan bacaan dengan benar tanpa bertentangan nama Allah.

a.    Surat Al-Muzammil
 •          
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang)……
Dalam surat ini terdapat 2 kali kata dan Rabbika dan 7 kali lafat Allah
b.    Surat Al-Mudatsir
Dalam surat ini terdapat 7 ayat yang pertama, kata tuhan yang maha esa yang diganti dengan rabbika yang disebut sebanyak dua kali.
c.    Surat At-Takwir
Dalam surat ini di temukan dengan predikat menerangkan Rabbul alamin. Yaitu yang di maksud adalah Allah.
d.    Sabbihisma
Ketika mengkaji ini disebutkan kata-kata rabbuka Allah dan Rabbih yang masing-masing disebutkan sekali. Di sinilah kata Allah disebut untuk pertama kalinya dalam rangkaian wahyu yang terdapat pada Al-qur’an. Namun dalam hal ini surat ini lebih terfokus pada garis-garis besarnya dalam menjelaskan sifat-sifat Allah  dan perbuatan-Nya (pensifatannya).     
       
4.    Argumentasi Al-qur’an Tentang Keesaan Tuhan
Dalam membahas hal ini secara umum penulis membagi uraian umum Al-qur’an tentang bukti keesaan tuhan dengan tiga pembagian pokok, yang diantaranya :

a.Kenyataan Wujud yang Tampak
Dalam konteks ini Al-qur’an menggunakan seluruh wujud , sebagai bukti khususnya keberadaan alam raya ini dan segala isinya sebagai wujud akan ciptaan tuhan yang maha esa. Dalam Al-qur’an umat manusia diperintahkan untuk berfikir dan menghayati alam raya ini tidak mungkin tercipta tanpa adanya pencipta.
Surat Al-Ghosyiyah ayat 17-20 :
                      

 Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan, Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan,D an bumi bagaimana ia dihamparkan

Secara global Al-qur’an menyampaikan wujud ketuhanan dengan memaparkan alam raya yang indah dan keserasian alam raya. Dan hal tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-qof ayat : 6-7
       •                  
 Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.

Dari kutipan dua ayat diatas menunjukan bahwa Al-qur’an sebagai pentunjuk dan menerangkan bahwa konsep ketuhanan yang maha esa adalah bersifat sang pencipta dan abadi.  Dari hal tersebut sebagai wujud kesaan tuhan dan menambah keimanan seseorang yang yakin dan percaya bahwa Allah atau konsep Keyakinan terhadap tuhan itu ada sebagai bentuk pengalaman moral.

b.Rasa yang terdapat dalam jiwa manusia.
Al-qur’an sebagai wahyu selalu mengingatkan manusia terhadap tuhan, hal di terangkan dalam surat Al-an’am ayat 40-41:
                               

 Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (Tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar! (Tidak), tetapi Hanya dialah yang kamu seru, Maka dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepadanya, jika dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).

Dan diterangkan juga dalam surat Yunus ayat 22 :
                 

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".

Dari kutipan ayat Al-qur’an diatas  menggambarkan hati manusia. Karena manusia tidak akan bisa lepas dari kekuasaan, pertolongan tuhan dan ini membuktikan perasaan manusia akan selalu berhubungan dengan sampai hari akhir zaman.   Walaupun ilmu pengetahuan membuktikan manusia dapat berdiri sendiri tanpa tuhan namun semua itu mustahil, karena semua itu merupankan ciptaan dari tuhan.  Hal tersebut merupakan tabiat manusia yang memiliki naluri mengharap, meminta, cemas dan takut, karena kepada siapa lagi manusia akan mengarah dan mengharap pertolongan kecuali kepada Allah Swt.

c. Dalil-dalil logika ketuhanan
Banyaknya ayat-ayat Al-qur’an yang menerangkan dan menguraikan dalil-dalil aqliah tentang keesaan Tuhan. Misalnya dalam surat Al-An’am 101 :
              •       
  Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana dia mempunyai anak padahal dia tidak mempunyai isteri. dia menciptakan segala sesuatu; dan dia mengetahui segala sesuatu.

Dan dalam surat Al-ambiya’ : 22
              
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Maksud ayat ini adalah seandainya ada dua pencipta, maka akan kacau penciptaan, karena jika masing-masing pencipta menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang lain,maka kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun akan kacau atau tidak akan mewujud kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka yang kalah bukan Tuhan dan apabila mereka berdua bersepakat, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahanmereka, sehingga keduanya bukan Tuhan, karena Tuhan tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu.

Pengalaman ruhani disebutkan oleh Al-Qur’an yaitu pengalaman para Nabi dan Rasul. Misalnya pengalaman nabi Musa a.s. Demikian juga pengalaman Nabi Ibrahim dan Muhammad SAW, serta pengalaman Nabi-nabi yang lain dengan berbagai kisah yang berbeda, namun semuanya bermuara pada ketauidah atau keesaan Tuhan.

D.    KESIMPULAN

Ketika kita  memahami Konsep Al-qur’an tentang Tuhan banyak hal yang kita kaji dan kita pahami kita  mengetahui tentang konsep  ketuhanan baik masa pra islam yang menyatkan bahwa kata Allah sudah sering dipakai termasuk pada nama ayak Nabi Muhammad. Bahkan dalam Bahasa Theologi kata Allah banyak digunakan baik dari orang islam ataupun kristiani.

Dalam surat-surat dan ayat-ayat didalam Al-qur’an banyak yang menerangkan tetang konsep ketuhanan  yaitu Allah sebagai rabb yang pencipta alam raya  seisinya. Selain dari hal tersebut  Al-qur’an menerangkan keesaan Allah sebagai wujud konsep ketuhanan dalam agama islam. 

Manusia tidak akan bias lepas  dari konsep ketuhanan, karena manusia akan berfikir dan mencerna apa yang terjadi di sekelilingnya. Bahwa adanya ciptaan adanya perwujudan manuasia  dan alam seisinya sebagai bentuk rasa rahman dan rahim dari Allah. Dan setiap manusia akan selalu berhubungan dengan tuhan sebagai bentuk keyakinan atau ketauhitan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


E.    PENUTUP

Demikian makalah ini kami sajikan kepada para pembaca. Diharapkan kiranya tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan betapa pentingnya Ilmu Tafsir dalam bidang Ilmu Agama yang berakaitan dengan Konsep Tuhan dalam Al-qur’an. Tentunya makalah ini kurang dari sempurna, maka kami mengharap kepada para pembaca untuk memberikan saran dan kritik demi terciptanya kesempurnaan di dalam penulisan maupun pembuatan makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA

-    Ali Hasan Al-Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

-    al-Sirah al-Nabawiyyah  karya Ibnu Hisyam dalam kompilasi Ibnu Ishaq

-    M.Quraish Shihab, Membumikan Al-qur’an :Fungsi Al-Qur’an dan peranan wahyu dalam kehidupan Masyarakat, Bandung : PT.Mizan Pustaka, 2009.

-    M.Quraish Shihab, Wawasan Alqur’an : Bandung : PT. Mizan Pustaka 1998.

-    Dr. Jerald F. Dirk , Salib di Bulan Sabib. Bandung : Serambi, 2006.

-    Syeikh Muhammad , Abduh, Risalah al-Tawhîd, Beirut-Lebanon: Dar Ibn Hazm, cet.I, 2001.