Korupsi sebagai Perbuatan Khiyanat dalam Hukum Islam

Korupsi jelas telah menyalahi amanat yang diberikan rakyat kepada pemimpin. Menyalahi amanat yang diberikan rakyat dalam kajian fiqh diartikan sebagai perbuatan khiyanat (khianat). Dalam bahasa Indonesia kata “khiyanat” diserap menjadi khianat yang biasanya diucapkan dengan kata”berkhianat”. Tindakan khianat merupakan tindakan yang sangat dibenci oleh Allah yang harus dihukum berat. Khianat berarti menghianati apa yang telah diucapkan dan dijanjikan sendiri kepada seluruh rakyat.

Khiyanat (khianat) adalah tidak menepati amanah, ia merupakan sifat tercela. Sifat khianat adalah salah satu sifat orang munafiq sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga, yaitu apabila berkata berdusta, apabila janji ingkar, dan apabila diberi amanah berkhianat. Oleh karena itu, Allah SWT sangat membenci dan melarang khianat. Allah berfirman dalam surat al-Anfal [8]: 27:

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal [8]:27)

Menurut al-Raqib al-Isfahani, seorang pakar bahasa Arab, khianat adalah sikap tidak memenuhi suatu janji atau suatu amanah yang dipercayakan kepadanya. Ungkapan khianat juga digunakan bagi seorang yang melanggar atau mengambil hak-hak orang lain, dapat dalam bentuk pembatalan sepihak perjanjian yang dibuatnya, khususnya dalam masalah mu’amalah.

Jarimah khiyanat terhadap amanah adalah berlaku untuk setiap harta bergerak baik jenis dan harganya sedikit maupun banyak. orang-orang yang beriman mestinya menjauhi sifat tercela ini, bahkan seandainya mereka dikhianati, Rasulullah melarang untuk membalasnya dengan pengkhianatan pula. Hadis Rasulullah SAW riwayat Ahmad dan Abu Daud ra:

“Sampaikan amanat kepada orang yang mempercayaimu dan jangan berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu."

Hadis di atas memiliki makna terhadap arti penghianatan terhadap sesama manusia sehingga siapapun yang dihianati sesamanya dilarang untuk membalas berkhianat karena akan menyuburkan dan menumbuhkembangkan tindakan penghianatan. Karena tindakan berkhianat sesungguhnya perbuatan tercela yang akan mendapatkan azhab yang pedih dari Allah langsung. Dengan demikian, tanpa membalas penghianatan terhadap orang yang menghianati kita, Allah akan memberikan ganjaran setimpal yang lebih pedih daripada sekadar penghianatan.

Dalam kaitannya perbuatan korupsi, tentu korupsi tidak sebatas sebagai perbuatan penghianatan, tetapi lebih kompleks yang harus mendapatkan hukuman di dunia, seperti korupsi dalam arti sariqah (pencurian), risywah (suap), dan ghulul. Dalam hal khiyanat, tentu koruptor di mata Allah akan mendapatkan hukuman dan azhab yang pedih mengingat koruptor bukan saja menghiatani satu orang atau beberapa orang saja, melainkan koruptor menghianati sekian juta orang dalam sebuah negara. Azhab pedih akan menanti koruptor di dunia dan akhirat itu sudah pasti.

Korupsi sebagai Perbuatan Khiyanat dalam Hukum Pidana Islam / Fiqh Jinayah (Soumy Mubarok, Lismanto/Islam Cendekia)

0 Response to "Korupsi sebagai Perbuatan Khiyanat dalam Hukum Islam"

Post a Comment