Landasan Teologis Gerakan Islam Transnasional

Landasan Teologis Gerakan Islam Transnasional


Oleh: Moch Chambali dan Ubbadul Adzkiya’

Aktivis LPM Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang

Begitu banyak teks-teks suci agama dijadikan legistimasi gerakan, bagaimana menyikapinya? Riffat Hasan menawarkan jalan yang menarik untuk menjelaskannya, karena fundamentalisme Islam semestinya tentang Islam fundamental, jawaban dari apakan fundamentalisme Islam baik atau buruk didasarkan pada apakah fundamental itu baik?jika iya maka Islam fundamental juga baik begitu juga sebaliknya. 

Islam transnasional merupakan sebuah gerakan Islam yang bergerak di lintas dunia. Transnasional adalah nama lain dari istilah Globalized (globalisasi) Islam, fundamentalisme, Islam kanan, dan Islam radikal. Gerakan Islam transnasional merupakan pola gerakan Islam yang mondial yang hendak membenamkan cita-cita Islam di pelbagai dunia . Sedangkan definisi fundamentalisme yang lebih menekankan kepada kewajiban kembali kepada prinsip-prinsip fundamental sebagaimana telah dibincangkan oleh kalangan sarjana, seperti Musa Kailani, Jan Hjarpe dan Leonard Binder.

Pendapat Musa Kailani di dalam karyanya mengartikan fundamentalisme sebagai gerakan sosial keagamaan yang mengajak umat Islam kembali pada prinsip-prinsip Islam yang fundamental dan kembali pada kemurnian etika dengan cara mengintegrasikan prinsip fundamental tersebut secara positif (berdasarkan doktrin agama).  Sedangkan Jan Hjarpe mendefinisikan fundamentalisme tidak jauh beda  dengan yang telah dikemukakan Musa Kailani. Ia mendefinisikan fundamentalisme sebagai sikap keyakinan kepada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai dua sumber otoritatif yang mengandung norma-norma politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan untuk menciptakan masyarakat yang baru.  Ungkapan serupa juga telah dikemukakan oleh Leonard Binder dalam bukunya yang berjudul "Religion and Politics in Pakistan” dimana dia menyatakan bahwa fundamentalisme merupakan aliran keagamaan yang bercorak romantis pada Islam periode awal. Keyakinan mereka menempatkan doktrin Islam sebagai sumber doktrin yang lengkap,  sempurna,  dan mencakup  segala macam persoalan. 

Istilah fundamentalisme dalam Islam sering disebut dengan al-Ushuliyyah al-Islamiyyah (fundamentalisme Islam), al-Salafiyyah (warisan leluhur), al-Shahwah al-Islamiyyah (kebangkitan Islam), al-Ihya' al-Islami (kebangunan Islam kembali), al-Badil al-Islami (alternatif Islam).  Namun istilah fundamentalisme bila dikaitkan dengan Islam masih banyak kalangan yang menolak istilah tesebut, karena istilah fundamentalisme berasal dari tradisi kristiani.  

Perjalanan panjang merintis jalan kepada Allah adalah amat rumit dan berliku, sementara apabila tidak memperoleh pembimbing (mursyid) salah-salah bisa tersesat di tengah jalan disebabkan banyak dan beragamnya godaan baik berupa ilusi optik maupun dorongan nafsu syahwat. Proses perjalanan menuju tingkatan hakikat tidak dapat digambarkan melalu logika rasional semata karena pencapaian hakikat itu adalah berupa gugusan pengalaman rohani yang tidak terperikan berupa kenikmatan substansial (syatahat). Oleh karena itu semakin terjal jalan yang hendak dilalui maka akan semakin kelu lidah untuk mengilustrasikannya. Menyebabkan seseorang yang semakin dekat dengan Tuhannya semakin sulit untuk menjelaskan gambaran dari pengembaraan tersebut. Itulah yang menjadi faktor utama mengapa untuk melakukan studi perkelanaan spritual diperlukan bimbingan dari seorang yang telah lebih dahulu melakukan perjalanan spiritualitas agama dengan kata lain mereka disebut khalifah.

Kata khalifah banyak terdapat dalam berbagai ayat dalam Al-Qur'an sedangkan yang paling kongkrit adalah pernyataan Al-Qur'an pada Surat Al-Baqarah 30: Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat bahwa sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan di muka bumi khalifah; mereka (malaikat) berkata  apakah Engkau akan menjadikan padanya orang yang akan berbuat kerusakan dan melakukan pertumpahan darah; Ia (Allah) berkata sesungguhnya Aku (Allah) lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dari pernyataan ayat di atas kata khalifah sesungguhnya merujuk kepada semua anak Adam yang bernama “manusia”. Kata khalifah tidak dikhususkan untuk menuju kepada seorang pribadi atau kelompok masyarakat tertentu, kitab tafsir jalalain menafsirkan kata Khalifah dengan (يخلفني في تنفيذ أحكامي فيها وهو آدم )  yang artinya...... sedangkan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.......... lafal khilafah mengandung arti (أي قوماً يخلف بعضهم بعضاً قرناً بعد قرن، وجيلاً بعد جيل)  artinya....Akan tetapi dalam perkembangan semantiknya, kata khalifah memiliki pengertian khusus. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, menurut komunitas penganut ajaran tarekat, khalifah adalah seorang yang telah memperoleh ijazah dari Imam tarekat untuk meneruskan kepemimpinan, salah satu tugasnya adalah melakukan pembimbingan kepada setiap muslim yang ingin menapaki jalan menuju pencapaian kedekatan kepada Illahi Rabbi melalui tahapan Syari’at, tarekat, hakikat dan ma'rifat.

Gerakan Realisasi Nash secara Tekstual

Rasulullah Muhammad SAW dalam sejarah kewahyuan memiliki dua fenomena yaitu penerima wahyu dan penyampai wahyu. Semenjak Rasul wafat maka fungsi yang pertama dinyatakan telah selesai dan tidak mungkin ada yang menerimanya lagi, karena beliau diyakini sebagai penutup segala Nabi dan Rasul. Namun untuk fungsi yang kedua terus berlanjut sepanjang masa hingga sang surya lelah berjalan dari timur ke barat. Fungsi yang kedua inilah yang menjadi bebas kesejarahan yang dipikulkan ke pundak pengganti beliau. Inilah kemudian yang dilekatkan kepada Abu Bakar Al Siddiq sebagai jabatan khalifah. Akan tetapi dalam perkembangan berikutnya tugas khalifah itu tidak hanya bermakna sebagai pengganti dalam melakukan penyiaran Islam (tabligh) namun berkembang menjadi terminologi baru dengan jabatan kenegaraan yaitu kepala negara yang memiliki makna ganda yaitu spritual (ulama) dan temporal (pemimpin duniawi).

Inilah perkembangan semantik yang kedua yaitu yang berkenaan dengan bidang politik. Tidak bisa dielakkan bahwa Islam sangat dekat dengan pranata politik. Hal ini disebabkan karena untuk menegakkan sebuah kebenaran (izharul haqq) harus dilakukan melalui penggunaan kekuasaan. Sesuai dengan karakter Syari’at agama yang terakhir, Islam sangat berdekatan dengan seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka dalam perkembangan kesejarahan kehadiran Islam kemudian menjelma menjadi pelembagaan kekuasaan yang disebut Islamdom (kerajaan Islam. red). Tidak lama setelah Rasullullah wafat, dalam jangka waktu lebih kurang satu generasi, maka ekspansi Islam telah merambah ke berbagai penjuru yang melahirkan berbagai imperium di antaranya yang lebih terkenal yaitu Umayyah, Abbasiyah dan Fatimiah.

Eickelman dan Piscatori menjelaskan bahwa pandangan integratif antara agama dan negara didukung oleh empat puluh lebih referensi di dalam al-Qur’an tentang perlunya “ketaatan kepada Allah, Nabi-Nya, dan orang-orang yang berkuasa diantara kamu”(Surat An-Nisa’:59), hal ini telah dipraktikan oleh Rasulullah SAW, dimana pada saat yang bersamaan bertindak sebagai pemimpin spiritual sekaligus komunitas politik. 

Secara teoritik, Javid Iqbal menjelaskan, bahwa negara Islam adalah negara Allah, negara yang memberlakukan Syari’at Islam, dan kedaulatan ditangan Tuhan (Allah SWT). Dalam pengertian ini negara Islam memiliki tiga komponen penting, yaitu: 1. masyarakat muslim, 2. hukum Islam atau Syari’at Islam, 3. Khalifah. Tiga komponen ini menjadi prasyarat berdirinya negara Islam yang sah. Formulasi ini kemudian dijabarkan lebih lanjud oleh Hasan Al-Turabi, bahwa negara Islam memiliki landasan teologis yang kuat, yakni:1. negara Islam tunduk pada doktrin tauhid, yang meniscayakan religiusitasnya dan sebaliknya menolak sekularitas, 2. negara Islam bukanlah negara yang dibatasi oleh wilayah teritorial (nasionalitas), karena kesetiaan utama hanya diberikan kepada Tuhan, setelah itu barulah diserahkan kepada masyarakat (umat). Karena itu, Islam tidak memperbolehkan adanya kesetiaan terbatas, entitas atau teritorial, 3. negara Islam bukanlah suatu kesatuan yang berdaulat, karena ia tunduk kepada norma-norma Syari’at yang lebih tinggi, yang mewakili kehendak Tuhan. Bahkan oleh Abu A’la Al-Maududi, negara Islam diletakkan pada prinsip utamanya pada pengakuan kedaulatan Tuhan sebagai sumber segala hukum. Bahkan, tidak seorangpun yang dapat menetapkan hukum, kecuali Allah SWT sebagai pemilik kedaulatan tunggal. 

Pendiri Jama’at Islami di India-Pakistan ini memberikan pandangan bahwa “Islam bukan sistem filsafat kehidupan semata. Islam adalah sistem hidup universal dan total. Selama kita belum mewujudkan sistem Islam secara nyata, maka kita tidak akan mampu memberikan pengabdian kepada Islam melalui kata-kata dan pembicaraan.”

Di India terdapat kenyataan yang bertentangan dengan Islam versi Maududi yaitu: Pertama, menentang teori satu bangsa di India. Teori satu kebangsaan ini merupakan propaganda yang dikibarkan oleh Partai Konggres yang menyerukan kebangsaan bersama antara orang-orang Hindu dan ummat Islam. Berkenaan dengan ini Maududi menulis dua buah buku berjudul : Kaum Musllimin dan Pertarungan Dewasa Ini. Dan Masalah Nasionalisme.

Kedua, menentang dominasi peradaban Barat. Ketiga, menentang kepemimpinan yang membawa ide-ide yang bertentangan dengan Islam dan pemikiran Islam. Dan yang terakhir, menentang pemikiran yang menimbulkan kejumudan agama yang melembaga.

Dari sini tampak jelas pengaruh yang dibawa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tarhadap pemikiran Maududi. Syaikh ini sangat terkenal dalam kekerasan dan kegencarannya membersihkan aqidah dari debu-debu kemusyrikan dan perlunya kembali kepada sumber Islam yang murni. Dalam segala masalah harus dikembalikan kepada dalil yang benar. Bersamaan  dengan itu pula harus dibasmi segala macam bentuk bid’ah dalam agama yang telah berkarat di dalam kehidupan kaum Muslimin. 

Bagi Majelis Mujahidin Indonesia, terdapat tiga alasan kenapa Syari’at  Islam harus ditegakkan di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini sebagaimana yang mendorong lahirnya Kongres Mujahidin I tahun 2000, yaitu:  

(1) Alasan  Aqidah  (ideologis), di mana setiap muslim yang lurus aqidahnya pastilah menginginkan berlakunya Syari’at  Islam sebagai konsekuensi logis dari  pengakuannya sebagai muslim, sehingga mereka terbebas dari bencana dan malapetaka, kehancuran, dan kebinasaan sebagaimana Firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat ke-36 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.

(2) Alasan historis (sirah), di mana perjalanan sejarah umat Islam sejak zaman Rasullah hingga Khulafa al-Rasyidin dan Khalifah-khalifah sesudahnya, yang mereka itu para Tabi’in dan salafus shalih hingga akhir runtuhnya khilafah Utsmaniyah di bawah Sultan Abdul Hamid II tahun 1924 M., mereka semua hidup dalam sistem Islam, yaitu khilafah dengan tetap menjaga wihdatul ummat dan wihdatul imamah, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Quran Surat Al-Mu’minun ayat ke-52 dan ke-53 yang artinya “(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la'nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil”.

(3) Alasan  realitas zaman, yakni berkenaan dengan kenyataan hidup masa kini dengan munculnya era globalisasi yang justeru diwarnai dengan krisis multi dimensional yang berkepanjangan, maka saatnya umat Islam dituntut untuk lebih berani menawarkan mutiara Al-Quran dan Al-Hadits dengan tanpa ragu dan minder demi mengatasi segala macam problema yang menimpa umat manusia, mengikuti perintah Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat ke-139 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.

Secara teologis, gerakan Islam garis keras dipengaruhi oleh teologi salafi. Jika ditelusuri akar geneologis teologi salafi sebenarnya teologi ini bersumber pada beberapa pemikiran dan gerakan. Teologi salaf dipengaruhi oleh, pertama, pemikiran ibn taimiyah yang menentang adanya infiltrasi budaya-budaya lokal dalam mempraktikkan agama. Kedua, secara gerakan, teologi salaf dipengaruhi oleh gerakan kaum reformis wahabi di arab saudi, yang menginginkan permunian Islam kembali. Ketiga, dan ini yang paling mendasar, gerakan garis keras ini dipengaruhi oleh penafsiran yang literal (madzhab al-dhahiri),  yang lebih melihat teks dari pada konteksnya. Hal itu terlihat dari cara mereka memahami teks-teks suci ajaran Islam tanpa mempertimbangkan konteks dan interpretasinya.   

Berbicara mengenai teologi dari Islam transnasional atau fundamentalisme Islam atau istilah yang lainnya seperti yang telah diterangkan di atas, sebenarnya mempunyai kesamaan dengan fundamentalisme di dunia kristen terutama dalam memahami kebenaram teks suci yang tak pernah salah. Dan respon mereka terhadap dunia barat.

Fundamentalisme dalam Islam menurut Azyumardi Azra di bagi menjadi dua tipe; yaitu fundamentalisme pramodern dan kontemporer. Pramodern dapat dilihat dari awal sejarah Islam gerakan Khawarij yang muncul pada masa akhir pemerintahan Ali. Golongan ini bertindak radikal dengan dalil la hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali Allah) dan la hakama illa Allah (tidak ada hakim selain Allah) yang dielaborasi berdasar ayat al-Qur’an yang berbunyi: wa man la yahkum bima anzalallah faulaika hum al-kafirun yang artinya siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah kafir. Karena alasan ini Khawarij tidak mau tunduk kepada Ali maupun Muawiyah.  

Selanjutnya fundamentalis pramodern membentuk sebuah gerakan di arab saudi di bawah pimpinan Muhammad bin Abd al-Wahab yang berusaha memurnikan Islam dengan memerangi tahayul, bid’ah dan khurafat bekerja sama dengan Ibn Saud penguasa arab pada saat itu.

Tipe fundamentalisme yang kedua yaitu kontemporer, fundamentalisme ini lebih banyak sebagai respons atas barat, meskipun tema-tema yang berkaitan dengan inward oriented tetap menjadi concern dan pilihan ideologis mereka. Dalam buku renungan santri karya Rumadi diterangkan bahwa ada dua masalah besar yang menjadi perhatian kelompok ini;  pertama, mereka menolak sekularisme masyarakat barat yang memisahkan agama dari politik, gereja dari negara. Kesuksesan barat melakukan sekularisasi yang terus merembes ke dalam Islam dianggap sebagai sesuatu yaang berbahaya, karena dapat mengancam Islam sebagai agama yang tidak hanya mengurusi masalah ikhrowi, tapi juga masalah duniawi. Kedua, banyak umat Islam yang menginginkan agar masyarakat mereka diperintah dengan menggunakan Al-Qur’an dan Syari’at Islam sebagai aturan hukum bernegara. Kemunduran umat Islam di berbagai belahan dunia dalam mengelola pemerintahan, menurut kelompok ini disebabkan mereka tidak lagi menggunakan Syari’at Islam sebagai acuannya.

Gerakan yang menggunakan pemikiran seperti di atas semisal ikhwanul al-muslimun, Hassan Al-Bana dan Sayyid Qutb sebagai ideolog dari golongan ini, gerakan ini mempuyai prinsip jihad sebagai maskot utama dalam sebuah pergerakan hal ini dapat dilihat dari pandangan ideologis mereka yang mengacu pada pemikiran hasan al bana dan al maududi: 1. Islam adalah ideologi yang komplit bagi individu, negara dan masyarakat. 2. al qur'an adalah dasar kehidupan kaum muslimin dalam pengertian yang literal. 3. Syari’at Islam yang didasarkan pada Al-Qur'an dan hadits merupakan "cetak biru" bagi kaum muslimin. 4. keteguhan berpegang pada tujuan muslim dalam menegakkan kerajaan Allah melalui penerapan hukum Allah akan membawa keberhasilan, kekuasaan dan kesejahteraan bagi masyarakat Islam. 5. kelemahan dan perbudakan yang dialami masyarakat muslim bersumber dari ketiadaan kaum iman kaum muslimin, mengikuti jalan sekuler, ideologi materialistik, dan nilai-nilai yang datang dari barat. 6. untuk menumbuhkan kembali harga diri, kekuatan dan kekuasaan kaum muslimin maka umat Islam harus kembali kepada Islam, menaati hukum Allah dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. 7. ilmu dan teknologi harus diperkuat dan dipergunakan dalam menguatkan Islam untuk menghindari proses westernisasi dan sekulerisasi.

Pemikiran mereka juga dari pembenaran surat Ali Imran ayat 19 yang berbunyi; "Agama yang diridhoi Allah hanya Islam" ayat inilah yang menjadikan bahwa Islam adalah segalanya dilihat dari kejayaan Islam pada masa dahulu. Islam mengatur segala segi kehidupan termasuk kehidupan bermasyarakat, al Qur'an dan hadits mengandung tatanan landasan konstitusional yang berlaku dalam kehidupan (shalih li kulli zaman wa makan).

(Jurnal Justisia 32)

0 Response to "Landasan Teologis Gerakan Islam Transnasional"

Post a Comment