Makalah Karakteristik Hukum Islam

Makalah Karakteristik Hukum Islam dalam mata kuliah Filsafat Hukum Islam

A.    PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan segala nikmat-Nya dan meliputi segala kelebihannya tehadap kita dengan anugerah nikmat Islam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang di utus sebagai rahmat bagi sekalian makhluk dan atas keluarga, pengikut, serta sahabat-sahabatnya yang mulia .
Dalam melihat penetapan hukum islam pada hakikatnya ada pada tuhan. Karena dia adalah pencipta umat manusia serta berikut produk-produk hukum yang dihasilkan yang mengatur kehidupan ini. Juga kita mngetahui bahwa rasulullah saw adalah orang yang diutus untuk menerangkan norma-norma hukum tersebut terhadap umat manuasia.

Sedangkan dilihat dari segi historis dalam perjalan islam, islam dalam menetapkan hukum mengacu pada nash. Namun sebagai mana yang kita ketahui bahwa dalam perjalanan sejarah tersebut terdapat perbedaan pendapat dalam aliran pemikiran islam dengan masalah hukum yang menyebabkan perbedaan pandangan dimasyarakat dan sikap tertutup dari masyarakat untuk menggali hukum. Dan banyak masyarakat yang bersifat fanatik pada suatu pemikiran hukum islam. Bahkan menganggab bahwa dirinyalah yang menjalan hukum paling benar.

Ketika filsafat dijadikan sebagai alat untuk mendukung jalannya ijtihad, pemikiran Hukum dalam Islam mulai menapaki era baru atau pencerahan. Melalui struktur logis yang dibangun dalam tradisi filsafat, para intelektual muslim berupaya mengembangkan ilmu keislaman menjadi beragam disiplin ilmu seperti kalam, fiqh, tafsir dan lain-lain.  Akan tetapi penggunaan filsafat tidak sepenuhnya diterima oleh para ulama. Karena, bangunan pemikiran Islam mengalami stagnasi, bahkan keruntuhan. Maka dengan adanya makalah ini penulis  berupaya mengkaji sumber filsafat sebagai alat studi ilmu-ilmu hukum  dalam keislaman dan beragam karakteristik terhadap hukum tersebut. Sekaligus juga mengemukakan beberapa alternatif pendekatan untuk menyempurnakannya.

B.    RUMUSAN MASALAH
Dengan tema yang berkaitan di atas yaitu mengenai Karakteristik Hukum Islam maka penulis membuat rumusan masalah dengan tujuan  dalam pembahasan makalah yang akan penulis  sajikan sesuai dengan konteks yang ditentukan dan menjadi pokok bahasan yang baik. sehingga terjadinya hasil yang positif dari makalah tersebut. Maka rumusan masalah yang kami sajikan adalah sebagai berikut :

1.    Aspek lokal dan Universal dalam hukum Islam
2.    Keluasan dan Keluwesan Hukum Islam
3.    Wahyu dan Pemikiran
4.    Otoritas dan Liberaslime dalam Sebuah Hukum
5.    Stabilitas Hukum dan Perubahan
6.    Ciri-ciri hukum Islam

C.    PEMBAHASAN
1.    Aspek Lokal dan Universal Dalam Hukum Islam
Aspek lokalitas dalam menetapkan hukum dalam membentuk hukum islam sangat di pengaruhi dari hal ini. Karena banyak produk-produk hukum yang bersifat universal dalam nash diteliti dan dikaji dari aspek keduanya tersebut untuk membetuk suatu hukum yang bermanfaat serta maslahat bagi umat. Karena hukum harus selalu berkembang dan beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. 

Jika kita melihat tentang aspek local dalam hukum islam serta universal dalam hukum islam seperti ada pertentangan dari keduanya. Karena sifat local terhadap suatu hukum hanya mengatur sesuatu yang besifat khusus atau tempat. Baik didasarkan kebiasaan dan  adat istiadat masyarakat. 

Sedangkan aspek Universal lebih bersifat global mujmal yang bersifat umum. Namun sebenarnya dari local atau universal lebih saling bekaitan satu sama lain. Sebab sifat nash yang lebih dominan dari Tuhan yang sangat berbengaruh terhadap pemikiran para ulama yang memandang perlu dikaji dari aspek tradisional atau lokalitas. Dan para ulama memperoleh hasil ijtihat.  Hal ini mulai ada ketika zaman para sahabat yang mengkristalisasi hukum-hukum islam yang bersifat umum kemudian dikorelasikan oleh para faqih, yang kemudian membentuk mazhab-mazhab hukum islam dengan konsep menalaran dan metodologi yang dilakukan dengan berlandaskan dasar-dasar Al-qur’an dan sunah. 

Sedangkan persoalan-persoalan yang behubungan dengan hal muamalah dan kemasyarakatan  seperti kehidupan social, politik, ekonomi ditetapkan secara global dan mujmal. Dan masalah perincianya di serahkan oleh para mujtahid guna dapat menyesuaikan dengan lingkungan, masa dan tempat.

2.    Keluasan Dan Keluwesan Hukum Islam
Agama islam adalah agama atau ajaran terakhir yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw, kemudian tidak ada lagi rosul yang diutus dan diberi wahyu oleh Allah untuk mengatur dan memperbaiki kehidupan umat manusia dimuka bumi.
Hal ini menyatakan bahwa agama islam yang dinyatakan sempurna di akhir hayat rosulullah itu benar-benar membawa rahmat bagi semesta alam. Bahkan noktah-noktah ajaran yang di sampaikan memiliki tingkatan keluasan dan keluwesan (dinamika) yang sangat tinggi sehingga mampu menampung persoalan-persoalan baru yang di timbulkan oleh perkembangan social. 

Dikalangan ahli ilmuan hukum islam terkenal dengan dengan adanya ucapan “al-syariat-Islamiyyah shalihatun li kulli zaman wa makan” syariat islam selalu relevan dengan segala waktu dan tempat .Ungakapan inilah paradigma dasar bagi penataan hukum islam,sekaligus menjadi keyakinan di kalangan umat islam sepanjang massa.

    Imam syafi’I (204 H) dalam kitab monumental nya,Ar-Risalah,menegaskan bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada seorang muslim, pasti terdapat hukum-hukum  yang mengturnya dalm wahyu allah.persoallan nya adalah jumplah ayat ayat Al-Qur’an  yang memuat tentang masalah hukum sangat terbatas. Sementara perkembangan social menimbulkan berbagai corak baru dalam kehidupan masyarakat kain kompeks. 

    Berdasarkan dua kenyataan itulah umat islam dihadapkan pada berbagai pernyataan fundamental,misalnya: apakah umat islam mampu membuktikan kebenran prinsip yang menegaskan bahwa syariat islam itu selalu relevan dengan setiap ruang dan waktu manusia. Sejarah perkembangan hukum islam telah memperlihatkan kebenaran pertanyaan  di atas bagaimana para sahabat melakukan ijtihat dan para ulama pada waktu itu mulai mengaji, meneliti mengali hukum islam. Karena islam mengenal ungkapan ” al-syariat-Islamiyyah shalihatun li kulli zaman wa makan”.

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak mudah untuk di jawab.Namun,sebagai jawaban tersebut telah terukir dalam realitas sejarah perkembangan hukum islam.Dinamika sejarah perkembangan hukum islam semenjak rasulullah wafat ,sampai kehadiran dinasti-dinasti dalam umat islam,sarat dengan pergolakan dan dinamika intelektual.Hukum islam telah hadir bersama kehadiran persoalan umat manusia.sungguhpum dalam format dan metode yang berbeda-beda. Tentu saja,s esuai dengan kompleksitas masalah yang dihadapi. faktanya, berbagai bentuk tantangan sosil itu,sebagian besar nya mampu di atasi .Walaupun tidaklah sepenuhnya tuntas.

    Ada tiga unsurpokok yang berperan penting dalam merespons perkembangan zaman,yaitu :  keluwesan sumber-sumber hukum islam itu sendiri dalam memandang perkembangan peradapan, semangat ijtihat berdasarkan keahlian, dan berijtihad dengan metodologi ushul fiqh .

3.    Wahyu dan Pemikiran
Dalam masalah wahyu dan akal adalah di gambarkan bahwa Hukum islam merupakan suatu ketetapan tuhan yang bersifat global dan  sebagai hukum tuhan serta hukum hasil dari kesepakatan para ulama. Dari hal ini seperti ada pertentangan dari keduanya (konflik).  Karena jika cermati dan analisis mengenai al-syariah al-islamiyah dan al-faqih al-islamiyah mempunyai  perbedaan meskipun tidak dipertentangkan. 

Hal tersebut sebagai gambaran yang mana sebagai sumber dan wahyu sebagai bangunanya, sedangkan yang kedua sebagai hasil ijtihad yuris (faqih atau fuqoha). Yaitu adany konflik dari ketentuan tuhan dan para ulam yang saling menetapakan hukum. Yang sebenarnya adalah adanya korelasi dari keduanya.

Islamic Jurisprudence adalah sebuah Hukum Islam yang murni dari hasil pemikiran para ulama.  Menurut N.J Coulson terdapatnya konflik atau presepsi keduanya yang berbeda tidak akan muncul jika di telusuri alur, arah dan aktualisasi dari Al-syariah yang mendasarkan pada wahyu agar bisa menjadi sebuah hukum dalam masyarakat yang relefan, selaras dengan zaman tanpa menyampingkan nash sebagai pentunjuk.

4.    Otoritas dan Liberaslime dalam Sebuah Hukum
Hukum islam disyariatkan oleh Allah dengan tujuan utama merealisasikan dan melindungi kemaslahatan bagi umat manusia baik kemaslahatan individu maupun masyarakat. Kemaslahatan yang ingin di wujudkan dalam hukum islam itu menyangkut seluruh aspek kepentingan munusia.  

Untuk memahami seksama tetang istilah-istilah hukum islam secara yuridis. Apakah otoritas ajaran yang dihasilkan dalam prakteknya telah di perintahkan untuk diikuti ulama yang bertugas menggali hukum maupun para hakim yang bertugas menerapkannya. Dalam menafsirkan nash-nash wahyu Allah yang diterima atau dalam mengatur kasus-kasus baru, apakah seorang hakim atau faqih memperoleh kebebasan pribadi untuk menentukan keputusan atau apakah ia wajib mengikuti otoritas tertentu tersebut dan bersikap spekulatif di samping karena keterlibatan total rasa keagamaan, maka ketegangan antara gagasan-gagasan kebebasan individu dan keterkaitan pada otoritas dalam konteks ini sangat tegas. 

Terhadap pendapat Coulson tersebut, Muslehuddin menilai bahwa Coulson salah besar. Ia menyatakan, tidak ada seorang faqih  atau hakim yang bebas sebebas-bebasnya dalam menentukan hukum. Karena penafsiran atas nash, baik dari para ulama maupun hakim tidak dapat mencapai status hukum jika tidak di dukung oleh ijma.’   Dari keterangan tersebut membuktikan bahwa dalam setiap penempatan sebuah hukum diperlukan sebuah status hukum yang jelas agar tidak ada kesalah pemahaman.

5.    Stabilitas Hukum dan Perubahan Hukum
Syari’ah dan fiqih merupakan sesuatu ada  berbeda. Karena syariah adalah sebuah hukum ketuhanan, baik mengenai sumbernya ataupun dasar-dasarnya. Dan syariah lebih bersifat stabil  dan tetap.  Maka dalam masalah ini jika terjadi perubahan hukum sangat erat hubunganya dengan keadaan suatu tempat dan peristiwa hukum yang terjadi, seperti masalah fiqih yang selalu mengalami perubahan dalam melaksanakan ketetapan hukum selalu relative dengan kontesknya.

Aturan syariah adalah aturan yang bersifat mengatur hubungan antara manusia dengan Allah. Dan aturan syariah adalah merupakan aturan yang bersifat dasar, mutlak, kekal dan tidak boleh berubah. Karena dasar syariat adalah bersumber dari wahyu Allah. 

Sedangkan untuk pendalami sebuah hukum islam diperlukan kajian ilmu tersendiri yaitu disiplin ilmu fiqh sebagai bentuk penjabaran dan penafsiran dari syariah yang disesuaikan dengan kontek dan waktu yang sifatnya relative, berubah dan tidak mutlak, yang bersumber pada ijtihad dan penafsiran manusia. Fiqh dapat terbentuk dengan menggunakan kaidah-kaidah dan metodologi Ushul fiqih.  

Hal ini menunjukan bahwa hukum islam dapat direkduksi kedalam tingkatan hukum secara murni yang yurisprodensi.  Yang karenanya setiap perjalanannya akan senantiasa mengalami perubahan. Sedangkan yang perlu dipertegas disini adalah bahwa hukum islam sebagai aktivitas penalaran manusia  yang dilaksanakan dengan memformulasikan nilai-nilai dan norma-norma syari’ah menjadi aktualisasi dalam kehidupan masyarakat. 

6.    Ciri-ciri Hukum Islam
Dalam membicarakan hukum islam dalam kontesks perubahan social, pada hakikatnya kita berbicara tentang berbagai kajian ilimu hukum yang sangat luas, dan semuanya itu terdapat ciri-ciri masing-masing sebagai betuk perwujudan karakteristik hukum tersebut, yang diantaranya adalah  :

1)    Hukum Islam itu merupakan aturan-aturan yang ditarik atau yang merupakan hasil pemahaman dan deduksi dari ketentuan-ketentuan yang di wahyukan tuhan kepada Nabi  Muhammad saw.  Karena itu sumber utama hukum Islam adalah  al-Qur’an dan al-Sunnah di tambah dengan nalar manusia (ra’yu) atau ijtihad yang diperlukan untuk memahaminya. Dengan demikian hukum Islam seringkali tidak identik dengan hukum namun lebih bersifat sebagai tidakan pengertian aturan yang di buat oleh suatu badan yang diberi wewenang dan diberlakukan dengan sanksi oleh Negara. Demikian pula aturan tingkah laku yang di bentuk oleh adat istiadat yang dipaksakan berlakunya oleh opinion of public.

2)    Hukum Islam itu bersifat keagamaan, karena itu tujuan Hukum Islam tidak hanya untuk melindungi hak dan kewajiban masyarakat, melainkan juga mempunyai tujuan untuk menciptakan kehidupan yang beragama, bermoral, berkeadilan, tertib dan kesejah teraanhidup,duniawi dan ukhrawi.

3)    Hukum islam tidak selamanya bersifat memaksa,sebagiannya bersifat korekif dan persuasif,dan memberi kesempatan  kepada pelanggarnya untuk menyesali diri sendiri (taubah) dan mengubah tingkat lakunya karena sadar akan kesalahanya .Hanya kejahatan-kejahatan berat yang dapat menggangu ketentraman masyarakat dihukum dengan hukuman eratt yang di seut hadd untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,seperti membunuh,menganiaya zina dan menuduh zina ,merampok ,dan minum minuman keras.

4)    Ruang lingkup hukum islam meliputi seluruh jenis perbuatan,baik dalam berhubungan dengan tuhan maupun dengan diri dan sesamanya (ibadat dan muamalat).pembagian ini didasarkan pada perbedaan-perbedaan dalam tujuan spesifik masin-masing bagian .Ibadat adalah sebagai pernyataan masing-masing bagian .Ibadat adalah sebagai pernyatan syukur kepada Allah dan mendekatakan diri kepada-Nya(taqarrub) serta mengharapkan pahala di akhirat.Adapun muamalat tujuan pokok nya adalah mewujudkan berbagai kemaslahatan manusia dalam pergaulan hidupnya di dunia.      
                                                           
Dengan uraian diatas cukup jelas bahwa hukum islam adalah padanan dari al-fiqh al-islamy, yaitu hasil kerja intelektual dalam upaya memahami dan memformulasikan pesan yang dibawa oleh Rasulullah saw yang tertuang dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. 

Jika melihat prisip utama islam diletakan sebagai bagaian dari kerangkan yang sifatnya adalah makro, yakni sebagai instusi hukum sebagai proses kebudayaan yang berkembang menjadi transformasi social yang bersifat local dengan berbasis culture.  Untuk itu al-Qur’an dan al-Sunnah disebut dengan sumber hukum (masdir al-tasyri’al Islamy).

D.   KESIMPULAN
Islam adalah ajaran Allah swt terstruktur sebagai agama terakhir, substansi ajarannya mencakup segala aktifitas manusia di atas permukaan bumi. Dan karenanya manusia diserukan untuk beramal serta melaksanakan aturan hukum menurut ketentuan ridha Allah swt. Dalam formalitas kehidupan lahiriyah, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan Penciptanya, juga hubungan manusia dengan sesamanya dengan lingkungan sekitarnya. Dalam aspek hukum islam lebih menitik beratkan pada konsep al-syariat-Islamiyyah shalihatun li kulli zaman wa makan yang mana dalam pengertian islam selalu relevan dengan segala waktu dan tempat.

Maka islam dalam menetapkan sebuah hukum selalu mempunyai karakteristik yang berbeda dengan hukum yang lain baik dikaji dari segi wahyu (nash) yang harus selalu berimbang dengan akal pemikiran, karena segala yang bersifat stabil dapat diberubah menjadi relatif bahkan berubah pada suatu kondisi. Sedangkan dalam pengambilan hukum islam mengajarkan sebuah kaidah-kaidah dan metodologi yang disebut ushul fiqih, dari hal ini islam menunjukan kebebasan bagi umatnya untuk mengetahui hukum tanpa harus berlawanan dengan Al-qur’an dan al-sunah. Dalam mendalami karakteristik hukum islam dapat diperoleh sebuah wacana tentang sifat hukum islam adalah selalu berkembang dan selaras dengan perkembangan zaman. Hal ini menerangkan bahwa agama islam bukan sebagai agama yang keras dan memaksa umatnya agar tunduk pada sifat hukum yang otoritas, tapi islam mengajarkan umatnya untuk mencari hukum dengan memahami aspek-aspek lingkungan sosial, lingkungan dan tempat.

E.PENUTUP
Demikian Makalah Karakteristik Hukum Islam dalam mata kuliah Filsafat Hukum Islam penulis sajikan kepada para pembaca. Diharapkan kiranya tulisan Makalah Karakteristik Hukum Islam dalam mata kuliah Filsafat Hukum Islam dapat bermanfaat bagi para pembaca dan betapa pentingnya memahami ilmu filsafat hukum yang berkaitan dengan karakteristik hukum islam. Tentunya Makalah Karakteristik Hukum Islam dalam mata kuliah Filsafat Hukum Islam kurang dari sempurna, maka penulis mengharap kepada para pembaca untuk memberikan saran dan kritik demi terciptanya kesempurnaan di dalam penulisan maupun pembuatan makalah ini.

DAFTAR  PUSTAKA

-  Abdullah, Amin, Falsafah Kalam di Era Posmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.

- Al-Munawar, Said Aqil Husaen, Hukum Islam dan Pluralitas Sosial, Jakarta : PENAMADANI, 2004.

-  Coulson, Noel J.,Conflicts and Tensions in the Islamic Jurisprudence, Chicago : The University of  Chicago Press, 1969.

-   Idhamy, Dahlan, Karakteristik Hukum Islam, Surabaya : Al-Ikhlas, 1994.

-   Mahmassani, Shobi, Filsafat Hukum Dalam Islam, Bandung : PT.Alma’arif, 1976.

-  Mudzhar, M.Atho, Fiqh dan Reaktualisasi Ajaran Islam, Jakarta : Yayasan Wakaf  Paramadina, 1991.

- Rofiq, Ahmad, Pembaruan Hukum Islam di Indonesia,Hukum Islam dan Eksistentensinya, Yogyakarta : Gama Media, 2001.