Melaka, Cheng Ho, dan Kesadaran Sejarah Kita

Oleh: Dr. Sumanto, Ph.D - Doktor bidang Antropologi Politik dan Agama Boston University, Amerika Serikat; Dosen tamu di Notre Dam University, Indiana, Amerika Serikat; dan penerima award “Cultural Anthropology Dissertation Research” dari National Science Foundation, Amerika Serikat.

Belum lama ini, saya menghadiri sebuah konferensi internasional bertajuk “Zheng He and Afro-Asian World” yang digelar di Kerajaan Negeri Melaka, Malaysia. Konferensi internasional pertama tentang Cheng Ho atau Zheng He yang digelar di negeri jiran Malaysia ini menghadirkan puluhan pembicara dari berbagai latar-belakang keilmuan dan dari berbagai negara. Sebut saja, China, Amerika Serikat, Singapora, Selandia Baru, Australia, Jepang, Indonesia, Inggris, dan tentu saja Malaysia sendiri sebagai tuan rumah.

Seminar kolosal ini dibagi dalam dua sesi bahasa: “Inggris” dan “China” sehingga peserta yang tidak bisa berbahasa Inggris, bisa menghadiri sesi bahasa China (Mandarin, Cantonese, dll). Demikian juga sebaliknya. Peserta yang tidak menguasai bahasa-bahasa China bisa mengikuti sesi bahasa “Inggris”. Saya sendiri diundang oleh panitia—khususnnya Dr. Tan Ta Sen, President International Zheng He Society—untuk menyampaikan materi tentang sejarah dan jejak Cheng Ho di Jawa khususnya.

Jawa—seperti akan saya uraikan—memang menjadi salah satu tempat yang dikunjungi Cheng Ho dalam misi eksplorasinya sejak awal abad ke-15. Selain Jawa, tempat lain di Nusantara yang dikunjungi Laksamana Cheng Ho adalah Palembang dan Aceh. Gavin Menzies, dalam buku best seller-nya tentang ekspedisi Cheng Ho bahkan menyebut Kepulauan Maluku sebagai salah satu kawasan yang dilalui Cheng Ho dan armadanya.

Memang perlu penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang kebenaran pendaratan Cheng Ho di Maluku ini—dan juga kawasan Indonesia Timur lain—mengingat hampir tidak ada sejarawan, sinolog, dan arkeolog yang menyebutkannya. Dipilihnya Negeri Melaka (atau Malaka dalam literatur sejarah kita) sebagai tempat penyelenggaraan konferensi ini karena daerah ini menjadi salah satu tempat yang disinggahi Cheng Ho dan armadanya dalam misi “muhibah kelautan” yang sangat kolosal waktu itu.

Selain itu, Melaka adalah salah satu “daerah tua” di dunia yang sangat unik dan menjadi salah satu pusat perdagangan internasional sejak tahun 600 M. Kerajaan Melaka juga menjadi pusat peradaban penting di Nusantara terutama sejak 1400-an pasca tumbangnya Kerajaan Sriwijaya di Sumatara (Palembang). Jika pada abad-abad sebelumnya, Sriwijaya menjadi kampium yang menguasai daerah maritim dan perdagangan internasional, maka sejak hancurnya kerajaan Buddha ini, pusat keramaian dan otoritas politik di kawasan Melayu berpindah ke Melaka terutama setelah Parameswara membangun kerajaan disini pada awal abad ke-15.

Karena letaknya yang sangat strategis dan menjadi pusat perdagangan global, maka tidak mengherankan jika Melaka sejak dulu menjadi persinggahan dan ajang perebutan berbagai negara dan kerajaan: Sriwijaya, Majapahit, Demak, Siam, Portugis, Belanda, Inggris, Tiongkok dst. Bekas-bekas peninggalan sejarah itu masih bisa disaksikan hingga kini. Lepas dari semua itu, kenapa panitia memilih Melaka sebagai tempat “konferensi internasional Cheng Ho” adalah karena di negeri ini adalah kawasan pecinan terbesar di Malaysia. Sejak dahulu kala orang-orang China berdatangan ke daerah ini baik untuk melakukan perdagangan maupun sebagai suaka baru karena di daerah mereka kurang kondusif secara politik.

Karena itu tidaklah mengherankan jika di Melaka penuh sesak dengan bangunan-bangunan dan produk-produk kebudayaan berkarakter China termasuk Chinese foods tentunya yang sangat digemari para pelancong dari manca negara. Latar belakang sejarah Melaka yang kaya warisan sejarah dan kebudayaan dari berbagai negara inilah yang menjadi dasar United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menganugerahi Melaka sebagai World Heritage Site.

Tepat pukul 2:30 waktu setempat, tanggal 4 Juli 2010—yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang biasanya saya rayakan setiap tahun bersama anak-istri—saya tiba di Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia. Pesawat yang populer dengan logo “Everyone Can Fly” ini karena memang harganya sangat murah dibanding dengan penerbangan lain mempunyai bandara sendiri di Kuala Lumpur yang digabung dengan bandara domestik.

Lalu, seorang petugas imigrasi di bandara bertanya singkat dengan logat Melayu yang kental, “Ada keperluan apa di Malaysia?” Saya jawab singkat: “Konferensi.” Tanpa banyak cakap lagi, dia pun langsung meng-stemple pasporku yang dikeluarkan oleh Konjen RI di New York tahun lalu. Setelah melewati petugas imigrasi, saya pun langsung ngeloyor menuju “Tempat Kedatangan” (Arrival). Dalam benak saya berpikir, panitia penjemputan pasti sedang menunggu sambil membentangkan kertas kwarto bertuliskan “Sumanto Al Qurtuby” atau “Konferensi Cheng Ho” sebagaimana layaknya sebuah ritual penjemputan.

Akan tetapi, betapa terkejutnya saya karena saya tidak melihat seorang pun yang memegang kertas tertuliskan namaku atau “Konferensi Cheng Ho” itu. Saya cari kesana-kemari sampai berkali-kali tetap saja tidak ketemu. Setelah kecapean mencari “panitia penjemputan” yang tak kunjung ketemu ditambah beban berat tas punggung bersisi laptop dan peralan komputer lain (juga camera, tape recorder dll) plus koper yang penuh dengan barang dan buku, saya pun putuskan untuk istirahat sejenak mencari makanan.

Saya lihat ada “McDonald” di bandara itu. Maka, saya pun langsung melangkahkan kakiku ke sana. Penjual “McD” yang orang Melayu itu menawarkan menu dengan “Inggris Melayu” yang kental yang saya sendiri kurang bisa menangkap dengan baik. Daripada salah paham, saya pun tunjuk nomor saja di paket menu makanan yang mereka sediakan. Sambil menikmati chicken nugget dan French fries kesukaanku, saya terus berpikir tentang hubungan antara dunia bisnis, dunia politik, dan perut.

Malaysia kita tahu—terutama melalui mantan PM Dr. Mahathir Muhamad—adalah negara yang “anti Amerika” dan kontra kapitalisme global. Di mana-mana Dr. Mahathir selalu bersuara lantang tentang perlawanannya terhadap Amerika yang dinilainya sebagai “gurita bisnis” dan “pencaplok” ekonomi negara-negara Dunia Ketiga. Jika Malaysia anti Amerika tapi kenapa di Kuala Lumpur ada “McD” atau “KFC” atau “Burger King”?

Politik bisa ke kanan atau ke kiri tapi, perut memang tidak bisa dibohongi. Bisnis pun sering kali berjalan sendiri tanpa mendengarkan himbauan politik. Di mana-mana di Kuala Lumpur saya melihat “McD” selalu penuh sesak dengan pengunjung. Saya tidak tahu apakah makan di “McD” di Malaysia menujukkan status kelas sosial tertentu. Kalau di Indonesia ada kecenderungan makan di “McD” atau “KFC” atau “Dunkin Donut” menunjukkan “status kelas” tertentu. Yaitu, kelas orang beruang, terkesan “prestige” atau “Ngamrik” kalau makan di tempat-tempat ini. Padahal di Amerika sendiri, “McD” adalah simbol “kelas bawah” berkantong cekak (buruh pabrik, pekerja kasar, mahasiswa atau bahkan gelandangan).

Mahasiswa yang berasal dari keluarga berada pun juga enggan datang ke “McD” atau “Dunkin Donut”. Mereka lebih suka memilih “Star Buck” atau “Expresso” sebagai tempat makan, minum, nongkrong, begadang, atau mengerjakan tugas dan mengetik paper. Setelah menyantap burger, chicken nugget dan French fries dan menyeruput sebotol coca cola (Amerika lagi), saya pun melanjutkan pencarian panitia penjemputan. Setelah dua jam lebih saya mencari dan tidak ketemu sempat terlintas untuk meng-email panitia.

Apa lacur, di bandara ini tidak ada komputer publik yang bisa digunakan untuk mengakses Internet gratis seperti layaknya bandara-bandara internasional di Amerika atau Singapore. Setelah setengah putus asa, saya coba mendatangi agen bis di dalam bandara untuk menanyakan rute ke Melaka. Penjual karcis menjelaskan bis ke Melaka baru berangkat jam 9 malam. Karena merasa kelamaan kalau menanti sampai jam 9 malam, saya pun mencari counter taxi di dalam bandara.

Tanpa berpikir panjang, saya pun membeli karcis/kupon taxi ke Melaka seharga RM159. Setelah membeli karcis taxi, sejurus kemudian saya memergoki panitia penjemputan, seorang China muda yang membawa kertas kecil tertuliskan “Cheng Ho”. Tapi karena karcis sudah terlanjur saya beli dan tidak bisa di-refund, saya pun dengan terpaksa naik taxi ke Melaka yang berjarak tempuh sekitar 2 jam.

Hari itu adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di Melaka dan Malaysia. Begitu taxi memasuki Melaka, sopir taxi pun membangunkan saya yang terlelap ketiduran karena kecapean sehabis menempuh perjalanan panjang dari Maluku (Ambon) ke Melaka. “Cik, sudah sampai Melaka,” kata sang sopir yang mencoba membangunkan saya yang sedang lelap. Saya pun segera bangun dan melihat-lihat pemandangan sekitar. Kesan pertamaku kala melihat kota Melaka waktu itu adalah: klasik tapi unik, Islami, dan sangat heterogen.

Ada nuansa Melayu, China, India, Portugis dlsb bila dilihat dari jenis bangunan (historic buildings) yang memadati negeri itu. Karena sudah agak malam, hari itu pun saya langsung menuju Hotel Equatorial tempat acara konferensi sekaligus penginapan bagi pembicara dan pemakalah. Saya hanya mengintip indahnya pemandangan malam kota Melaka dari balik jendela hotel di lantai 18. Setiap kakiku menginjakkan kaki di kota-kota negara maju, seketika itu saya selalu teringat negaraku Indonesia yang masih saja bergumul dengan keterbelakangan.

Bagi saya, perjalanan Maluku-Melaka ini sangat mengesankan karena secara linguistik penamaan “Maluku” dan “Melaka” mempunyai akar kata yang sama: “Mamluk” atau “Mamlukat”. Para pedagang Arab dan Gujarat Muslim menyebut “Maluku” sebagai “Jazirah al-Mamlukat” karena di kawasan ini terdapat berbagai kerajaan kecil: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Panglima Portugis Alfonso d’Albuquerque setelah menaklukkan Melaka tahun 1511 juga tertarik untuk mencari kepulauan “Jazirah al-Mamlukat” itu yang terkenal dengan pusat rempah-rempah yang kala itu sangat laris dan mahal di pasaran dunia dan Eropa.

Maka, pada tahun 1512, ia pun mengutus bawahannya untuk berlayar menyusuri lautan dan samudra guna menemukan kepulauan itu. Jika Portugis menempuh perjalanan dari Melaka ke Maluku, saya sebaliknya: dari Maluku ke Melaka tapi dengan pesawat, bukan kapal laut seperti Bangsa Potugal dulu. Setelah sarapan pagi saya bergegas menuju tempat registrasi dan dilanjutkan ke tempat “opening ceremony” di aula hotel tempat saya menginap.

Ada sekitar 600 orang dari berbagai negara dan bangsa yang hadir di acara “opening ceremony” yang dibuka oleh Gubernur Melaka/Yang di Pertua Negeri Melaka: Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil Bin Yaakob. Dalam sambutannya yang menggunakan bahasa Inggris dengan akses Melayu yang kental, Gubernur Melaka menggarisbawahi tentang pentingnya merawat tradisi, sejarah dan kebudayaan yang diwariskan Cheng Ho di Melaka khususnya.

Lebih lanjut, ia pun meminta peserta konferensi untuk serius menggali jejak-jejak ekspedisi Cheng Ho di kawasan Asia-Afrika. Kepada rakyat Melaka, ia meminta Cheng Ho—yang pernah mendarat di Melaka itu—dijadikan sebagai “medium kultural” untuk merajut persahabatan dengan bangsa Tionghoa dan Republik Rakyat China. Begitu acara pembukaan selesai dan dilanjutkan dengan keynote speech oleh Professor Leo Suryadinata, seminar pun langsung dimulai sampai empat hari kemudian tanpa henti.

Para peserta tampak antusias hingga hari terakhir mendengarkan presentasi-presentasi tentang Cheng Ho dari berbagai sudut pandang dan kajian. Saya sendiri oleh panitia diberi mandat untuk menyampaikan topik tentang sejarah dan jejak Cheng Ho di Jawa, proses akulturasi Cheng Ho dengan masyarakat dan kebudayaan Jawa, serta bagaimana tradisi-tradisi lokal merespons tentang legenda Cheng Ho. Sesi saya ini dimoderatori oleh Dr. Chua Soo Pong dari International Zheng He Society, Singapore, yang juga seorang pensiunan professor.

Pada waktu itu saya memaparkan jejak Cheng Ho di Jawa tidak terbantahkan. Berbagai kelenteng kuno yang disinyalir merupakan bekas masjid/mushalla yang dihubungkan dengan Cheng Ho dan pengikutnya adalah Kelenteng Ronggeng di Ancol (Jakarta), Kelenteng Talang di Cirebon, Kelenteng Sampokong di Semarang, Lasem dan Tuban, serta Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya. Sejarawan Perancis Claudine Salmon dan Dennys Lombard serta Lee Khoon Choy dan Dr. Johanes Widodo pernah melakukan penelitian mengenai kelenteng-kelenteng tersebut dan membenarkan adanya keterkaitan pembangunan kelenteng-kelenteng tersebut dengan kehadiran Cheng Ho di Jawa.

Mereka berpendapat bahwa kelenteng-kelenteng itu semula merupakan tempat shalat Cheng Ho dan rombongannya yang memang banyak yang beragama Islam (seperti Ma Huan, Fei Hsin, Ha-san, Wei-ping dan sebagainya). Tempat-tempat shalat tersebut yang semula dibangun sekitar abad ke-15 dan 16, kemudian diubah jadi kelenteng oleh komunitas Tionghoa Konghucu pada abad ke-18 dan 19. Selain itu, bukti pendaratan Cheng Ho di Jawa, juga terdapat mercusuar di Cirebon yang menurut teks Carita Purwaka Caruban Nagari (ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon tahun 1720) dibangun oleh seorang China Muslim bernama Kung Wu Ping yang juga teman Laksamana Cheng Ho.

Mercusuar ini terletak di Desa Pasambangan, antara Gunung Sembung dan Amparan Jati. Sayangnya, bangunan bersejarah ini kurang dirawat dengan baik oleh Pemerintah Daerah setempat sebagai salah satu cagar budaya. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Wei Ping (Kung Wu Ping) dan Te Ho beserta pengikutnya mendarat di Cirebon selama tujuh hari dalam perjalanan ke Majapahit. Selama tinggal di Cirebon itulah mereka kemudian membangun mercusuar (lighthouse).

Sebagai imbalannya, syahbandar pelabuhan Ki Gendeng Djumadjan Djati kemudian memberikan oleh-oleh bahan makanan khas Cirebon kepada Te Ho dan rombongannya sebagai bekal perjalanan menuju Majapahit. Arkeolog Uka Tjandrasasmita mengidentifikasi nama Te Ho itu dengan Cheng Ho yang memang berdasarkan catatan Ying-yai Sheng-lan, sebuah naskah kuno ditulis Ma Huan tahun 1416, pernah mendarat di Cirebon. Di Jawa, Cheng Ho tidak hanya mendarat di Cirebon tapi juga di pelabuhan-pelabuhan lain seperti Tuban, Gresik dan Surabaya. Semua itu terekam di teks Ying-yai Sheng-lan (lihat Mills 1970; Groendeveldt 1880, 1960).

Kisah Cheng Ho memang fenomenal karena itu sangat layak untuk di-konferensi-kan. Kisah pelayaran Cheng Ho itu tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang dilaluinya tetapi juga telah mengilhami ratusan karya ilmiah baik fiksi maupun non-fiksi serta penemuan berbagai teknologi kelautan-perkapalan di Eropa khususnya pasca penjelajahan sang maestro (lihat laporan khusus Majalah Time di bawah tajuk “The Asian Voyage: In the Wake of the Admiral, August 20-27, 2001).

Legenda “Sinbad Sang Pelaut” yang begitu populer di Timur Tengah juga diinspirasi oleh kisah legendaris Cheng Ho ini. Di Indonesia, terutama Jawa, juga terdapat jejak historis yang tak terbantahkan sebagai side effect dari misi muhibah Cheng Ho. Selain itu, juga cukup banyak berbagai karya sastra yang bertutur tentang Cheng Ho/Sam Po Kong seperti yang ditulis Remy Silado. Cerita lisan Dampu Awang yang begitu kuat di masyarakat pesisir utara Jawa juga disinyalir merupakan pengaruh dari legenda Cheng Ho itu.

Karena itu, acara “International Conference on Zheng He and Afro-Asian World” yang digelar di Melaka belum lama ini guna mengenang peristiwa monumental pelayaran Cheng Ho lebih dari 600 tahun yang lalu merupakan gagasan yang sangat brilian. Cheng Ho memang sangat layak untuk dikenang. Lalu, siapakah sebenarnya Cheng Ho itu sehingga pengaruhnya begitu besar di seluruh dunia? Cheng Ho sebetulnya adalah nama yang diberikan oleh Cheng Tzu atau Chu Teh yang lebih populer dengan sebutan Kaisar Yung Lo (atau Yungle), kaisar ke-3 Dinasti Ming yang berkuasa dari tahun 1403 sampai 1424.

Nama asalnya adalah Ma Ho (lahir 1370 M) yang lahir dalam keluarga miskin  etnis Hui di Yunan. Hui ini adalah komunitas muslim China campuran Mongol-Turki. Kata “Ma” itu sendiri menunjukkan bahwa ia adalah seorang Muslim karena kata itu berasalah dari “Muhammad”. Karena jasanya dalam turut mengudeta Kien Wen, akhirnya Ma Ho diberi jabatan penting oleh Kaisar Yung Lo sebagai pemegang komando atas ribuan abdi dalem di Dinas Rumah Tangga Istana yang melayani kaisar sebagai polisi rahasia (Seagrave, 1999).

Ini merupakan jabatan sangat berpengaruh bukan seperti penunjukan Paus atas kepala baru Opus Dei Vatikan. Sebagai bukti kepercayaan sang kaisar kepada Cheng Ho, ia diberi mandat untuk memimpin ekspedisi laut sebagai Commander in Chief lewat sebuah dekrit kerajaan (Imperial Decree). Sementara wakil dan sekretaris masing-masing dipegang oleh Laksamana Muda Heo Shien (Husain), Ma Huan, dan Fei Shin (Faisal). Bertindak sebagai juru bahasa Arab, selain Ma Huan yang memang mahir berbahasa Arab juga Hassan, seorang imam di bekas ibukota Sin An (Changan).

Dalam menjalankan “politik diplomasi laut” ini, Kaisar Yung Lo mengeluarkan armada berjumlah 62 kapal besar dengan 225 junk (kapal berukuran lebih kecil) dan 27.550 orang perwira dan prajurit termasuk di dalamnya ahli astronomi, politisi, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, para tabib, juru tulis dan intelektual agama. Kisah itu kemudian ditulis antara lain di Ming Shi (“Sejarah Dinasti Ming”) dan sumber-sumber sejarah lain dari Dinasti Tiongkok.

Sejak tahun 1405, awal mula Cheng Ho mengadakan pelayaran sampai wafatnya pada tahun 1433 ia telah mengadakan pelayaran selama tujuh kali dan mengunjungi lebih dari 37 negara: dari berbagai pelabuhan di Nusantara (khususnya Jawa dan Sumatra) dan Samudra Hindia sampai ke Sri Langka, Quilon (Caylon), Kocin, Kalikut, Ormuz, Jeddah, Magadisco dan Malindi. Dari Campa hingga India, dan dari sepanjang Teluk Persia dan Laut Merah hingga pesisir Kenya.

Dilihat dari kuantitas dan waktu, ekspedisi Cheng Ho jauh melampaui para pengembara manapun di Eropa: Chistopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Francis Dranke dan lain-lain. Karena prestasinya yang luar biasa menjadikan Cheng Ho semakin dimitoskan dan diberi julukan kaisar sebagai Ma San Bao (Ma “Si Tiga Permata”). Julukan ini merupakan plesetan dari sejenis ungkapan sayang China. Dalam komunitas China (Tionghoa) dewasa ini lepas dia seorang Muslim atau tidak, tokoh Cheng Ho ini menjadi semacam tokoh mitologi yang diagungkan.

Ia tidak hanya dipuja dan dikagumi sebagai seorang “Bahariwan Agung” tetapi juga disembah sebagai dewa di berbagai kelenteng dengan sebutan “Sam Po Kong” terutama oleh penganut agama leluhur China. Di kemudian hari, sang maestro ini dikenal dengan berbagai sebutan: Sam Poo Tay Djin, Sam Poo Tay Kam, Sam Poo Toa Lang dan lain-lain. Ini adalah sebuah anakronisme historis. Sebab, Cheng Ho yang manusia biasa dan Muslim itu kemudian “diberhalakan” sebagai dewa yang disembah di kelenteng.

Lebih menyedihkan lagi, sejarah Cheng Ho selalu ditulis secara hagiografis (berlebih-lebihan yang cenderung “melampaui manusia lumrah”) bukan menggunakan pendekatan “sejarah kritis.” Akibatnya, sosok Cheng Ho tampil sebagai manusia yang nyaris sempurna yang hanya pantas ada di alam mitos. Padahal, Cheng Ho adalah seorang Muslim Tionghoa lumrah sebagaimana yang lain yang tentunya juga memiliki keterbatasan sejarah. Jasa terbesarnya barang kali adalah telah menjalin persahabatan antara Tiongkok dengan negara atau kerajaan lain di dunia ini yang diperkukuh dengan pertukaran kebudayaan (exchange of cultures) yang masih tampak hingga dewasa ini, termasuk di Jawa.

Di Jawa memang telah terjadi apa yang pernah saya sebut sebagai “Sino-Javanese Muslim Cultures” yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho (dan China Islam lain) dengan masyarakat Jawa. Bentuk Sino-Javanese Muslim Cultures itu tidak hanya tampak dalam berbagai bangunan peribadatan Islam yang menunjukkan adanya unsur Jawa, Islam, China tetapi juga berbagai seni/sastra (batik, ukir) dan unsur kebudayaan lain. Sayang, fenomena Sino-Javanese Muslim Cultures itu tidak terpelihara dengan baik bahkan oleh masyarakat Tionghoa muslim sendiri. Banyak dari mereka yang tidak mengerti mengenai asal-usul/genealogi mereka.

Melihat realitas Cheng Ho yang banyak “dimitoskan” itu, Gubernur Melaka dalam sambutannya mengajak peserta konferensi untuk menggali historisitas Cheng Ho dan menempatkannya sebagai “tokoh sejarah” bukan “tokoh mitos”. Tidak bisa dipungkiri Cheng Ho memang telah menjelma menjadi “tokoh sejarah yang dimitoskan” bukan “tokoh mitos yang disejarahkan”. Meskipun ada banyak orang-orang China modern yang menganggap Cheng Ho sebagai “tokoh mitis” atau “tokoh legenda”, akan tetapi berdasarkan data-data kesejarahan, sumber-sumber arkeologis, dan kronik Dinasti Ming Tiongkok menunjukkan dengan jelas bahwa Cheng Ho memang benar-benar tokoh sejarah.

Professor Leo Suryadinata dalam “keynote speech”-nya juga menganjurkan untuk kembali mengkaji sosok Cheng Ho dan kisah pelayarannya dari berbagai sudut pandang sehingga mampu melahirkan dokumen komprehensif tentang Cheng Ho. Harapan Gubernur Melaka dan Professor Leo sepertinya sudah terlaksana. Selama empat hari penuh seminar tentang Cheng Ho itu telah membahas secara intensif sejarah pelayaran Cheng Ho dan jejak yang ditinggalkannya serta dampak kultural-politik dari misi “naval expedition” sang maestro.

Selesai konferensi pembicara dan peserta konferensi pun diajak jalan-jalan mengelilingi kota Melaka guna mengunjungi situs-situs sejarah, museum, dan peninggalan-peninggalan Cheng Ho. Sejarah Melaka sendiri seperti ditulis Tan Ta Sen dalam buku Cheng Ho and Malacca tidak bisa dilepaskan dengan “Indonesia” (saya sengaja memakai tanda kutip karena nama Indonesia secara resmi baru lahir 1945) dan Tiongkok. Kita tahu pendiri Kesultanan Melaka, Parameswara, adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sriwijaya (ia sendiri pernah memerintah Sriwijaya dari tahun 1388 sampai 1389).

Di kemudian hari, tepatnya awal abad ke-15, ia meng-set up Kesultanan Melaka dengan tujuan untuk memelihara tradisi dan kebudayaan Melayu dan memperluas otoritas kepolitikan Sumatra-Melayu. Dalam sejarah sosial-politik kerajaan di Nusantara, abad ke-15 ditandai dengan konfrontasi geo-politik-budaya antara “tradisi Melayu berbasis di Sumatra” yang diwakili Sriwijaya dengan “tradisi Jawa yang sudah mengalami proses Indianisasi” yang direpresentasikan oleh Majapahit.

Namun, saat itu Sriwijaya sedang mengalami masa senja yang ringkih. Paramewara—dibantu oleh para petualang Bugis yang setia terhadapnya—kemudian berinisiatif dan memberanikan diri membentuk Kesultanan Melaka guna menjaga warisan budaya Melayu. Dalam proses pendiriannya, Parameswara kemudian berkolaborasi dengan Dinasti Ming dan Laksamana Cheng Ho untuk membendung serbuan dua raksasa kerajaan kala itu: Majapahit dan Siam.

Sisa-sisa peninggalan sejarah itu masih tampak jelas hingga kini. Pihak pemerintah dan swasta di Melaka sengaja memelihara warisan sejarah mereka dengan mengabadikannya dalam bentuk pembangunan museum. Ada banyak sekali museum di Melaka yang berisi koleksi benda-benda dan teks-teks bersejarah. Sebut saja, Museum Layang-Layang, Museum Orang Asli, Museum Sastra, Museum Pendidikan, Museum Islam, Museum Rakyat, Museum Kecantikan, Museum Dunia Melayu, Museum Sejarah dan Etnografi, Museum Cheng Ho, dan masih banyak lagi.

Jika tidak ada benda aslinya maka pemerintah atau pihak yang peduli dengan sejarah membuat replika (seperti replika kapal Portugis) untuk mengenang warisan sejarah mereka. Karena keterbatasan waktu saya hanya mengunjungi beberapa museum dan tempat bersejarah saja. Di antara tempat-tempat bersejarah yang saya kunjungi adalah Porta De Santiago atau A’Famosa, sebuah benteng Portugis (kini terletak dekat Gereja St. Paul) yang dibangun Laksamana Alfonso d’Albuquerque tahun 1511—tahun jatuhnya Melaka ke tangan Portugis.

Ketika Belanda menyerbu Melaka tahun 1641, benteng ini rusak berat. Tetapi kemudian diperbaharui (isinya juga diselamatkan) oleh Sir Stamford Raffles dari Inggris tahun 1808. Sampai kini benteng tersebut masih terawat dengan sangat baik. Pemerintah setempat menyadari benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai “historic site” tetapi juga “tourism place”. Pemandangan ini kontras dengan “Benteng Portugis” (sejak Belanda menginvasi Maluku namanya berubah menjadi “Benteng Amsterdam”) yang saya lihat di Desa Hila-Kaititu, Maluku Tengah.

Benteng ini kotor, tidak terawat, dan bau pengap. Kini, benteng bersejarah yang megah itu menjadi sarang burung dan kelelawar. Hanya bocah-bocah kecil yang menjaga benteng itu. Padahal seperti Porta De Santiago, benteng itu juga dibangun oleh Portugis setahun setelah mereka menaklukkan Malaka. Fakta di atas menunjukkan rendahnya kesadaran sejarah kita serta miskinnya perhatian pemerintah terhadap warisan sejarah dan budayanya. Sebuah benda/situs bersejarah mestinya harus dirawat dengan baik dan profesional.

Pula, sebuah situs bersejarah mestinya dijaga oleh “orang-orang profesional” yang mengerti sejarah sehingga setiap ada pengunjung yang menanyakan keberadaan dan historisitas benda atau situs itu mereka bisa menerangkannya. Selain Benteng A’Famosa, saya juga mengunjungi museum dan galeri Cheng Ho. Galeri Cheng Ho mengarsip ekspedisi kelautan Cheng Ho serta prestasi-prestasi yang berhasil ia capai dalam menjalin hubungan diplomatik dan relasi komersial antara China dan negara-negara di Asia dan Afrika.

Dalam galeri ini, kita bisa melihat porselin berbaagai dinasti Tiongkok, replik kapal-kapal yang digunakan Cheng Ho dan armadanya dalam misi pelayaran serta koleksi buku dan artikel tentang Cheng Ho. Selain galeri Cheng Ho, juga ada museum khusus yang mengoleksi tentang hal-ikhwal yang berhubungan dengan Cheng Ho dan Dinasti Ming. Museum ini diprakarsai oleh Dr. Tan Ta Sen, Presiden International Zheng He Society dan salah satu pemrakarsa konfernsi tentang Cheng Ho ini. Selain menjadi presiden International Zheng He Society, Dr. Tan juga penulis buku bagus tentang sejarah Cheng Ho dan Islam di Asia Tenggara.

Museum Cheng Ho yang diprakarsai Dr. Tan ini tergolong lengkap berisi dokumen, manuskrip, dan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Cheng Ho. Menurut Dr. Tan, ia membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk mengoleksi benda-benda dan manuskrip tentang atau yang berhubungan dengan Cheng Ho, Dinasti Ming, dan sejarah Kesultanan Melaka itu. Selain Melaka, museum Cheng Ho juga terdapat di Singapore. Saya sendiri pernah mengunjungi museum Cheng Ho di Singapore beberapa tahun lalu dan menyaksikan kolek-koleksi benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan misi pelayaran Laksamana Cheng Ho.

Lagi-lagi saya berpikir tentang kesadaran sejarah kita yang miskin. Jika Singapore saja membuat museum Cheng Ho yang begitu megah, padahal Cheng Ho hanya mampir sebentar di Temasek (kini wilayah Singapore), mengapa Indonesia tidak memprakarsai pendirian museum Cheng Ho. Padahal jelas-jelas, Cheng Ho pernah tinggal di Jawa, Palembang dan Aceh. Jangankan pembangunan museum, peninggalan-peninggalan sejarah yang berkaitan dengan ekspedisi Cheng Ho juga tidak terawat dengan baik. Mercusuar yang dibangun Cheng Ho dan Wei Ping di Cirebon misalnya, dibiarkan tidak terawat.

Demikian juga dengan kelenteng-kelenteng kuno yang berhubungan dengan ekspedisi Cheng Ho juga tidak diperhatikan. Setiap upaya untuk mengadakan konferensi internasional tentang Cheng Ho misalnya, pemerintah kita selalu berkilah, “Ah itu urusan China”. Belum ada kesadaran bahwa “masalah China di Indonesia juga masalah kita bersama” karena masyarakat China atau Tionghoa di negeri ini adalah bagian dari “kita” bukan “mereka”. Untung saja, kita pernah membuat film tentang Cheng Ho. Meskipun tidak laku di pasaran, setidaknya ada secuil perhatian tentang sejarah sang maestro Cheng Ho.

Ke depan, cepat atau lambat Pemerintah Indonesia perlu segera memikirkan dan merancang museum tentang Cheng Ho ini agar sejarah kita tidak mudah terlupakan sekaligus sebagai pengingat untuk generasi yang akan datang tentang misi muhibah Cheng Ho yang legendaris itu. Pembuatan “Museum Cheng Ho” ini bukanlah “masalah China” tetapi “masalah kita bersama” yang hidup di bumi pertiwi bernama Indonesia.

Sumber: Jurnal Justisia edisi 36