Melekatnya Budaya Tionghoa di Indonesia

Melekatnya Budaya Tionghoa di Indonesia


Oleh Sholikah
Alumni Fakultas Syariah IAIN Walisongo

Hoakiau telah memberikan sumbangan yang sangat berarti untuk Indonesia. Terlebih hal itu nampak jelas pada kebudayaan.  Meski, kebudayaan Tiongkok ini tidak pernah memperlihatkan watak mengangkangi bangsa-bangsa lain, atau pun mampu mengandung kecenderungan ke arah itu. Dalam sejarah kebudayaan dapat kita lihat bahwa kebudayaan Tiongkok telah menyebar keberbagai negara. Misalnya saja Jepang, Korea, Vietnam dan lain sebagainya. Dan penyebaran kebudayaan mereka itu bukan dalam rangka ekspansionistik. Tapi, lebih mengarah pada kesukarelaan. 

Jadi, ketika ada idiom yang mengatakan, ”tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” bukan hanya sebagai uraian kata-kata yang tak bermakna. Akan tetapi, ada nilai makna khusus yang tersirat dari idiom tersebut, yang secara tak langsung mampu menyatakan bahwa peradaban dan kebudayaan yang dimiliki negeri China perlu diperhitungkan.

Sejak 300 tahun atau tepatnya 30 abad sebelum Islam datang, negeri China sudah menunjukkan kemajuannya lewat teknologi dan ilmu pengetahuan. Sehingga, tak heran ketika Timur Tengah termasuk Arab, mulai mengenal China lewat ilmu astronomi, perkapalan dan perkisaran mata angin. Hingga dengan bekalnya itu, China dengan mudah bisa melalang-buana sampai Timur Tengah. Dalam penempatan ini, negeri China pun membawa oleh-oleh dari perjalanannya tersebut dengan menyebarkan agama Islam ke Asia, termasuk negara yang disinggahi adalah Indonesia.

Pada kisaran abad ke-7, agama Islam mulai dikenal di Nusantara, termasuk Jawa. Mereka mendarat di Banten juga Cirebon, atau tepatnya di pantai utara dengan menggunakan jalur perdagangan. Selain menyebarkan agama Islam, mereka juga memperkenalkan kebudayaan asli China kepada penduduk setempat. Sekitar abad ke-14 sampai 16 M terjadi “silang budaya” dan “persimpangan niaga” antar negara sebagai akibat dari watak budaya kosmopolitanisme Jawa yang memberi “ruang” kepada “orang asing” untuk turut berpartisipasi dalam menciptakan sebuah tatanan sosial-politik-ekonomi yang dinamis. 

Adanya ruang keterbukaan dengan masuknya unsur-unsur luar ini, pelan-pelan tapi pasti, budaya China pun mampu membaur dengan budaya setempat yang selanjutnya muncul suku Betawi sebagai wujud akulturasi dari dua kebudayaan tersebut. Ambil sebagai misal, kesenian cokek dan lenong merupakan hasil dari akulturasi budaya China dan Betawi. Begitu pula, musik Tanjidor yang merupakan musik khas Betawi pun menggunakan alat musik khas ala China, seperti rebab, dan lain-lain. Coba Anda perhatikan mengenai pakaian pengantin Betawi, yang mirip pakaian pengantin di zaman dinasti-dinasti yang berkuasa di China pada abad ke-7. 

Bukan hanya di Jawa, tapi ketika kita melihat sulaman pakaian yang digunakan pada acara pernikahan orang Minangkabau, dan benar-benar memperhatikan hiasan yang terdapat pada perangkat-perangkat, sepintas terkesan oleh indra penglihatan kita bahwa kain sutra yang bersulam itu mendapat pengaruh dari Tiongkok.  Adanya ragam hias pada sulaman yang digunakan orang Minangkabau itu, biasanya digunakan untuk melengkapi perangkat kebutuhan-kebutuhan adat. Seperti, tirai dulang yang pada pinggiran sulamannya menggunakan ragam hias pucuak rabung. Sedangkan untuk sebagai penutub dulang digunakan ragam hias kaluak paku.  

Dua Akulturasi 

Tak ketinggalan. Batik dari pesisir utara Jawa Tengah juga dapat dikatakan sebagai simbol hubungan harmonis antara etnis China dengan penduduk lokal perihal bagaimana orang etnis China berusaha untuk memaduharmonikan budaya mereka dengan budaya setempat. Karena itu, pada batik Pekalongan ini sekilas nampak bermotif dari China, dan batik ini mampu diterima dengan baik sebagaimana sebuah versi batik yang sah di antara versi lainnya. 

Memang, seni batik di Jawa telah mengalami perkembangan artistik yang tinggi. Tetapi, dengan kemajuan teknis yang tidak begitu banyak (zaman dulu-Red), kemungkinan berasal dari Tiongkok Selatan dan Birman Utara. Sebagaimana masih bisa dilihat dari sisa-sisa kerajinan batik, maka di Tiongkok pun sampai sekarang masih ada tradisi ”cap biru” yang juga menjadi salah satu unsur pewarnaan dalam batik dengan penggunaan indigo. 

Dan ada lagi kebudayaan unik yang dimiliki orang Tionghoa yaitu hari raya yang biasa kita kenal dengan sebutan tahun baru Imlek. Atau, tahun baru tradisional orang China yang berdasarkan sistem penanggalan bulan. Kini, di negara China biasa disebut musim semi. Dengan pesta ini dirayakan, hidupnya kembali dari alam semesta sesudah berada dalam keadaan mati selama musim semi. Disebutkan, dengan pesta ini dirayakan hidupnya kembali dari alam semesta, sesudah berada dalam keadaan mati selama musim dingin yang gelap dan suram. Tahun baru Imlek ini di Indonesia oleh sebagian orang dirayakan. Pada hari itu dilakukan sembahyang tahun baru di Kuil atau di meja abu. 

Sembahyang tahun baru ini harus diselenggarakan dengan sebersih-bersihnya. Bukan saja bersih lahir, melainkan juga bersih batin. Di atas meja abu itu harus disediakan semacam kue yang di Indonesia terkenal dengan nama kue China atau kue keranjang. Di Jakarta ada pula makanan keperluan tahun baru Imlek yang khas, yaitu ikan bandeng. Arti ikan bandeng yang disatu-padukan dengan kue keranjang  di kota ini amat besar, sehingga suatu pertunangan dapat terputus jikalau seorang pemuda melalaikan kewajibannya untuk menyumbang kue China dan ikan bandeng menjelang tahun baru. Pada tahun baru ini orang tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar dan menyapu selama tiga hari. Larangan ini dimaksudkan agar rejeki tidak tersapu keluar.

Dalam bulan ketarikh Imlek 5/6 April (berdasarkan bulan), jatuh hari raya Cheng Beng (bersih terang). Pada hari itu orang Tionghoa berziarah kemakam leluhur mereka dengan membawa batang dupa, lilin kertas sembahyang dan sedikit sesajian. Mereka pergi ke kuburan leluhur untuk membersihkannya.
Lain-lain hari orang Tionghoa yang juga dirayakan di Indonesia adalah Pek Chun atau pesta air: sembahyang Chioko untuk ruh-ruh yang tidak disembahyangkan oleh kaum kerabatnya di dunia, perayaan bulan purnama pada bulan ke-7 tahun Imlek: dan perayaan Tong Che pada permulaan tahun baru. 

Peran perayaan Capgomeh, Pehcun dsb. bukan saja merupakan pesta bagi golongan Hoakiau, tetapi bagi pribumi, sekalipun di sana-sini sudah tentu ada warna daerah atau warna  setempat sesuai dengan selera penduduk setempat. Ambil contoh di Tangerang, Pehcun dipusatkan di pinggir kali, di kota-kota pesisir sulawesi di rayakan di pantai.

Dan tak lengkap hari-hari besar China tanpa adanya sebuah pertunjukan barongsai. Pertunjukan  ini sudah kita kenal selama berabad-abad lamanya, yang biasanya sering kita lihat pada perayaan Imlek dan perayaan lainnya. Pertunjukan ini dengan mudah dapat kita kenal dari barongsai Tiongkok. Dan pertunjukan barongsai ini berabad-abad telah menghibur rakyat dalam acara pesta, perayaan, hari-hari besar dan perkawinan.

Pram mengutip dari Kwee Kek Beng bahwa, ketika leluhur Tionghoa datang ke Indonesia mereka bukan hanya membawa agama orang Arab dan orang barat, tetapi mereka membawa makanan yang lambat laun menjadi makanan rakyat Indonesia jelata. Kalau bangsa barat membawa keju dan mentega, maka makanan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan populer dan murah makanan Tionghoa seperti bakpao, yang merupakan kuliner yang diadopsi dari China yang sekarang ini dengan mudahnya dapat kita temui di mana saja. Terbukti, dengan maraknya kereta dorong yang menjual  roti isi daging ayam, kacang hijau atau coklat ini untuk pengganjal perut di sepanjang jalan. 

Makanan lain yang lebih populer dari bakpao yaitu mie. Hampir semua daerah di Indonesia punya racikan mie yang khas. Bandung dengan mie kocoknya, soto mie di Jakarta, atau gurihnya mie Jawa. Mie benar-benar asli dari China. Arkeolog menemukan fosil mie yang berusia empat ribu tahun di Tiongkok. Selain itu, ada makanan yang akrab dengan keseharian ibu rumah tangga seperti  tahu, kecap, dan tauge.

Masih banyak kuliner Indonesia yang terpengaruh budaya Tionghoa. Hanya saja, ada transformasi rasa yang membuat kuliner Tionghoa lebih bercitarasa lokal. Misalnya penambahan sambal atau cabe merah dalam masakan Tionghoa sehingga rasa masakan bisa diterima di lidah lokal. Bahkan jika dibandingkan kuliner ini lebih enak dibandingkan kuliner asli Tionghoa. Penambahan bumbu berupa pete atau kluwek juga dapat menjadi salah satu cara melokalkan kuliner Tionghoa.

Peran para pedagang juga cukup penting dalam mengubah masakan Tionghoa menjadi ciri khas Indonesia. Misalnya, tahu pong yang biasa disajikan dengan sambal, agar lebih praktis disajikan dengan cabe rawit. Contoh lain yaitu siomay, yang aslinya terbuat dari terigu diisi campuran daging, udang dan lain-lain. Tapi di Indonesia, siomay yaitu aneka macam sayuran seperti kol, mentimum, pare, kentang diisi bakso daging campur ikan yang dikukus dan disajikan dengan saus kacang.

Segala macam makanan tersebut tidak pernah dipaksakan untuk dimakan oleh bangsa Indonesia. Karena pengambilan itu bersifat sukarela. Sebelum masakan China mulai populer di kalangan orang Indonesia, sebenarnya Orang Indonesia asli telah banyak bergaul dengan Tionghoa Indonesia: tetapi sebagian besar, belum mengenal golongan penduduk ini dengan wajar.  Orang Tionghoa yang ada di Indonesia, sebenarnya tidak merupakan satu kelompok berasal dari satu daerah di negara China, tetapi terdiri dari beberapa suku-bangsa yang berasal dari dua propinsi yaitu Fukien dan Kwangtung, yang sangat terpencar-pencar di daerah-daerah. 

 Setiap imigran ke Indonesia memang membawa kebudayaan suku-bangsanya, bersamaan dengan perbedaan bahasanya. Bahasa-bahasa yang dimaksudkan di sini adalah bahasa nasional RRC, yaitu bahasa Hwa Yu, bahasa-bahasa daerah di China seperti bahasa Hokian dan dialek-dialek lain seperti Hing Hwa, Katon dan lain-lain.

Bahasa Hokkian merupakan salah satu di antara bahasa-bahasa daerah di negara China. Bahasa Hokkian adalah bahasa suku bangsa Hokkian. Bahasa ini hanya digunakan ketika bertemu kakak-kakaknya yang sudah lebih tua. Inipun tidak selalu setiap bertemu menggunakan bahasa Hokkian. Hanya dalam waktu-waktu tertentu (yang sulit diidentifikasi kepastiannya) dan dalam membicarakan masalah tertentu (juga sulit ditemukan masalah apa). Kakak beradik itu menggunakan bahasa Hokkian. Mereka melihat situasi dan selera yang cocok dengan penggunaan bahasa Hokkian.  

Sementara Bahasa Hwa Yu adalah bahasa nasional Republik Rakyat China. Bahasa ini di Indonesia sering disebut dengan Bahasa Mandarin. Sebagaimana Bahasa Hokkian, Bahasa Hwa Yu juga hanya digunakan untuk orang yang sangat terbatas. Bahasa ini misalnya digunakan untuk kenalan, atau saudara-saudara yang sebaya atau lebih tua  yang menguasai bahasa tersebut.

Seperti halnya Bahasa Hokkian dan Hwa Yu, dialektika Hing Wang, Kanton, Ge lang juga hampir memiliki kesamaan penggunaan bahasa. Hanya yang membedakan adalah bahasa ini digunakan tergantung pada lawan bicara dan situasi saat itu. Ambil contoh Bahasa Katon. Dan dialek Katon ini diguanakan untuk membicarakan hal-hal yang rahasia yang hanya boleh diketahui oleh anggota keluarga.  

Kita bangsa Indonesia harus berterimakasih pada bangsa China. Karena dalam perkembangan bahasa Indonesia sampai dewasa ini, orang tak dapat membantah adanya pengaruh besar dari Melayu-Tionghoa mempunyai berbagai macam varian sesuai dengan tempat-tempat berdomisilinya. Tetapi bahasa Melayu-Tionghoa  yang mempunyai pengaruh terbesar ialah yang tumbuh di Jakarta, suatu perpaduan yang aneh dari bahasa Melayu-Betawi, Melayu golongan Tionghoa, dan kebutuhan akan kebutuhan akan bahasa perhubungan yang praktis.

Timbulnya bahasa Melayu-Tinghoa disebabkan, kebutuhan akan bahasa perhubungan yang praktis dan bahasa ini bukan saja dibutuhkan oleh orang Hoakiau terhadap golongan masyarakat luar, tetapi juga di dalam lingkungan Hoakiau sendiri. Meraka terdiri atas beberapa macam suku Tiongkok: yang satu sama  lain tidak bisa bicara, sekalipun melalui huruf Tionghoa.

Memang ada golongan di dalam masyarakat Indonesia dan biasanya mereka adalah guru-guru bahasa Melayu, yang mengejek nilai dari bahasa Melayu-Tionghoa ini tanpa mengindahkan proses sosial  dan sosiolozik dari fungsi bahasa gado-gado ini. Mereka berpegang teguh pada bahasa buku, yang secaratradisionil diakui dan mula-mula dipuji oleh Raffles dan kemudian disahkan oleh pemerintah Hindia Belanda, yang disandarkan atas karya-karya Abdullah bin Abdulkadir Munsji.

Bagaimanapun kekurangan yang ada pada Melayu-Tiongho, namun lama kelamaan bahasa inipun semakin meluas pada masa pertengahan abad kedua. Nama lie kim-hok, juga tidak dapat dilupakan dalam hal ini. Bahkan kepemimpinannya sendiri diakui guru bahasa Melayu, Ibrahim  gelar Marah Soetan (1857-1954) dan juga Haji Agus Salim. Pemuka Melayu-Tionghoa seperti Phoa Tjoen Hoat dan Phoa Tjoen Hoay dan beberapa penulis dan wartawan lain menamakannya, Bapa Melayu-Tionghoa. Pengaruh dari Melayu-Tionghoa Lie Kimhok yang menjalar luas dikalangan Melayu-Tionghoa di Indonesia, dikemudian hari menjadi standar bahasa gado-gadoyang aneh, tapi enak didengar. Dan sesudah runtuhnya penjajah Belanda pada tahun 1942, bahasa belanda pun ikut gulung tikar. Dan bahasa Indonesia menggantiakan secara mutlak, dan kemudian dipakailah bahasa Melayu-Tionghoa sebagai bahasa Indonesia resmi.  

Dalam sebuah negara, di mana keanekaragaman etnis China terlihat nyata sekali dan disemboyankan dalam motto nasionalnya, “Bhineka Tunggal Ika”. Orang Tionghoa itu menonjol sebagai suatu kelompok etnis tersendiri. Kalau sebagaian besar dari penduduknya hidup sebagai petani di daerah pedesaan, maka orang Tionghoa Indonesia sebaliknya hampir dalam sejarah mereka hidup terkosentrasi dengan kokoh di kota-kota besar dan kecil.  

Pemukiman-pemukiman kecil orang Tionghoa sudah ada di Indonesia jauh sebelum kedatangan orang Eropa, terutama di bandar-bandar perdagangan di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Ketika Belanda memantapkan kedudukan di Jawa, penduduk Tionghoa lalu bertambah banyak dan tersebar luas. Orang-orang China sudah ada di Indonesia sebagai pedagang selama berabad-abad dan sejak tahun 1619, mereka sudah menjadi bagian penting dari perekonomian Batavia . Di sana mereka aktif sebagai pedagang, tukang yang terampil, penggiling tebu, dan pengusaha toko. Pada tahun 1740 terdapat 2.500 rumah orang China di dalam tembok batavia, sedangkan keseluruhan orang China di kota itu dan daerah-daerah sekitar ditaksir tidak kurang dari 15.000 jiwa.  Menjelang tahun 1860, diperkirakan penduduk Tionghoa di Indonesia sebanyak 222.000 orang, dua pertiga berdiam di Jawa.  

Orang Tionghoa bukanlah pendatang baru atau minoritas imigran melainkan kelompok penduduk yang menetap. Sekalipun seperti sebagian keluarga yang lebih tua di Jawa, sedikit saja yang dapat mengatakan bahwa mereka telah menetap di Indonesia selama berabad-abad. 

Untuk hidup Orang Tionghoa, mereka berada di perkampung Tionghoa di kampung-kampung kota yang biasanya merupakan deretan rumah yang berhadap-hadapan di sepanjang jalan pusat pertokoan.  Bagian depan dari rumah  merupakan ruangan tamu dan tempat meja abu.  Sesudah itu ada lorong dengan sebelah kanan-kiri ada kamar tidur. Di bagian belakang ada dapur dan kamar mandi.

Yang menunjukkan kekhasan dari rumah orang Tionghoa adalah di setiap rumah memiliki atab yang lancip pada bagian ujung-ujungnya. Serta dihiasi ukiran dengan bentuk naga. Kadang juga ditemui di rumah-rumah, pada tiang bermotifkan ukiran-ukiran dengan bentuk balok. Biasanya hanya orang-orang kaya saja yang memiliki ukiran tiang di rumahnya. 

Dalam  tiap-tiap perkampungan Tionghoa selalu ada satu atau dua kuil. Bangunan ini memiliki bentuk yang khas dan kaya dengan ukiran-ukiran Tionghoa. Kuil ini bukanlah merupakan tempat peribadahan, tetapi hanya merupakan tempat orang-orang meminta berkah, meminta anak dan tempat bagi orang mengucapkan syukur.  Untuk itu ia membakar hio (dupa) kepada dewa yang melindunginya. Dan kuil-kuil itu terbagi dalam tiga golongan yaitu : Kuil Budha, Kuil Tao dan kuil yang dibangun untuk menghormati dan memperingati orang-orang yang pada masa hidupnya telah berbuat banyak jasa bagi masyarakat.

Keunikan bangunan China tidak hanya ditemukan pada bangunan rumahnya saja. Pada masjid-masid orang Islam juga ditemukan hal yang serupa. Kesan kita yang selama ini terbangun sisi-sisi Islam selalu berbau erat dengan bahasa dan dunia arab, baik dalam sastra, terutama tradisi-tradisi keagamaan. Sehingga di benak kita, hal-hal yang berbau Tionghoa sudah sangat identik dengan kelenteng atau bahkan identik dengan ritual membakar dupa.

Namun tidak demikian jika berkunjung ke Masjid Muhamad Cheng Hoo di Surabaya. Masjid yang didirikan tahun 2002 dan diresmikan oleh Mentri Agama RI Prof KH Agil Syiraz Almunawar itu, mulai lantai hingga kubah sama sekali tidak menunjukkan arsitektur Timur Tengah. Seperti lengkungan kubah yang dijumpai di masjid-masjid. 

Sebenarnya bukan hanya masjid Cheng Hoo saja yang mempunyai nuansa arsiktektur China. Bahkan masjid-masjid yang sering kita jumpai di beberapa daerah juga mengandung unsur China. Sejarahwan ternama Belanda yang sepanjang hayatnya didedikasikan untuk menulis sejarah Jawa, Graaf dan Pigeaud, dalam Chinese Muslim In Java (1984: 179-180), juga menyatakan, atap bertingkat yang  menjadi style masjid-masjid kuno  di Jawa itu  menyerupai  pagoda di China non-muslim di Semarang di bawah koordinator Gan Si Cang sebagai wujud partisipasi atas pendirian Demak yang diprakarsai “China Islam” pada tahun 1479 mendukung mendukung hipotesis tentang asal usul China pada gaya Masjid Jawa yang memiliki atap bertingkat. 

Dan jika kita perhatikan lebih jauh, bentuk hiasan di atas masjid (biasanya disebut mustaka), yang berbentuk bola dunia yang menyerupai  stupa dengan dikelilingi empat ular, jelas terinsprirasi dari tradisi China. Hiasan ini hampir selalu ada di masjid-masjid kuno Jawa sebelum gaya gaya arsitektur Timur Tengah  memasuki wilayah ini.

Di masjid demak tempat mihrab (dekat pengimaman) terdapat sebuah tableu yang disemen dalam tembok bergambarkan kura-kura. Gambar kura-kura tersebut bermakna tahun saka 1401/ 1479 M (kepala=1, kaki=4, badan=0, ekor=1) atau candrasengkala “Sasira Sunyi Kiblating Gusti”. Tahun ini diduga merujuk pada pendirian masjid Demak. Lambang kura-kura ini mempunyai banyak makna. Dalam tradisi setempat gambar kura-kura melambangkan kehati-hatian saat memasuki masjid suci. Tetapi ada tafsiran lain, yaitu gambar kura-kura ini konon menjadi simbol kemenangan Dinasti Ming saat berhasil menguasai rezim. Tafsir ini sangat memungkinkan mengingat pembangunan masjid Demak bersamaan dengan masa romantisme hubungan Jawa dengan China yang pada waktu itu sedang dikuasai rezim Ming.

Pengaruh China dalam bangunan ke-Islaman klasik tidak sebatas masjid Demak, tetapi juga masjid Mantingan, Jepara. Di masjid Mantingan ini terdapat ukiran padas dengan hiasan berbentuk bunga teratai terbayang siluet seekor gajah yang jelas diilhami dari oleh tradisi China. Bukan hanya itu saja, di komplek makam termasuk dinding masjid Mantingan juga terdapat keramik buatan China dengan berbagai macam motif hiasan. Menariknya, hampir semua masjid-masjid  kuno di pesisir Jawa selalu dihiasi dengan keramik produksi China ini. Bahkan di Cirebon, keramik ini menjadi hiasan utama yang mendominasi bangunan-bangunan kuno seperti kompleks keraton, masjid maupun makam kesultanan di gunung Sembung.
Ada banyak motif dalam keramik itu yang semuanya menunjukkan pengaruh China, antara lain motif naga, perahu, bunga teratai, kapal, rumah China, Konghucu. Yang unik di antara hiasan keramik yang ada di komplek makam itu terdapat beberapa motif kaligrafi bertuliskan ,”Allahu Wahdah La Syarikat Lahu Muhammad Rosullullah Fainnaka Manshura” dan “La Ilaha Illa Allahya Aba Bakrin Ya Umar Ya Ali Ya Utsman”. 

Selama ini relatif jarang pula dibahas tentang pengaruh pertukangan (terutama batu dan kayu) China terhadap bangunan masjid-masjid kuno (abad 15 dan 16) di Jawa. Kesaksian pelaut Belanda pada abad ke-17. Gambaran yang paling kuno tentang bentuk masjid di Jawa secara tertulis di dapat dari buku: Oost Indische Vojage (1660), Der Mooren Tempel in Java” yang ditulis oleh Wouter Schouten. Schouten menggambarkan bangunan masjid di Jepara pada abad-17 tersebut sebagai bangunan konstruksi kayu, lima lantai, dan di kelilingi oleh parit. Atapnya runcing dan dihiasi oleh ornamen. Tiap lantainya bisa dicapai dari dalam dengan tangga kayu. 

Di buku tersebut juga terdapat gambar dari kota Jepara dilihat dari arah laut, di mana bangunan masjid merupakan bangunan yang tertinggi di Jepara waktu itu. Sayang sekali bahwa dalam tulisan Wouter Schouten tidak dijelaskan secara mendetail tentang mesjid kuno tersebut. Bangunan masjid kuno di Jawa pada umumnya di kelilingi oleh kolam. Kolam biasanya digunakan untuk air wudu ketika akan sembahyang. Gambaran secara garis besar mesjid kuno Jawa yang dibangun pada abad 15 dan 16 mempunyai ciri-cri sbb: pertama, atapnya bersusun lima. Kedua, bentuknya segi empat dan simetri penuh. Ketiga, denahnya di kelilingi oleh kolam, yang digunakan sebagai air wudhu ketika akan sembahyang.

Atap masjid biasanya mempunyai susunan yang jumlahnya ganjil (tiga, lima), tapi bentuk atap masjid Jepara bersusun lima, lebih menyerupai pagoda. Seperti dalam naskah Peter Mundy yang pada tahun 1637 meninggalkan sebuah sketsa. Di sebelah kiri nampak dengan sempurna “masitt” (artinya masjid): dasarnya yang bujur sangkar dan atapnya empat tingkat yang mengawali masjid-masjid minangkabau zaman sekarang. Dan ada yang menjadi persoalan, yaitu jumlah tingkat atap masjid-masjid yang lebih mutakhir yang masih terpelihara pada umumnya ganjil.  Pada prinsipnya juga tidak ada menara pada mesjid Jawa kuno, tapi itu tidak berlaku bagi masjid Banten. Pada masjid biasanya juga tedapat kolam yang terletak di bawah  tangga yang menuju ke ruang salat, akan tetapi ada kalanya seperti di Jepara , kolam itu mengaliri suatu saluran air yang mengelilingi bagian dasar masjid. Tapi ada yang selalu hadir pada masjid Jawa kuno yaitu ‘serambi’ yang cukup lebar di depan ruang untuk salat, dan kentongan atau bedug yang terbuat dari kulit kerbau atau kentongan dari kayu nakus.

Pada umumnya bedug terbuat dari sebatang pohon yang dikeruk, dengan rentangan kulit kerbau pada satu atau kedua sisinya , Selain waktu salat, pukulan bedug juga menandai awal dan akhir puasa, serta hari raya haji. Orang Arab tidak menemukan istilah yang cocok dalam kamus mereka untuk bedug masjid. Asal usul bedug  diletakkan di serambi-serambi mesjid Jawa, merupakan pengaruh dari arsitektur China, di mana bedug diletakkan tergantung di serambi kelenteng. Tapi di masjid menara Kudus, bedugnya justru diletakkan dibagian atas Menara. 

Itulah keberagaman kebudayaan di Indonesia yang jarang sekali kita sadari keberadaannya. Dan hal itu pula yang menunjukkan pada kita betapa kebudayaan yang ada di Indonesia juga menerima unsur-unsur kebudayaan dari luar, termasuk salah satunya adalah China. Dan kenapa kenapa kebudayaan China yang harus masuk di Indonesia?  Dan Jawabanya karena memang China adalah negara yang memiliki budaya dan peradaban yang tinggi. Dan negara kita adalah salah satu negara yang mengakui hal tersebut, sebab mulai dari kuliner, arsitektur sampai sulaman pun masih melekat kuat nuansa ke-China-annya dan itu pembuktian yang nyara. Jadi tak ada salahnya kebudayaan yang sudah ada ini, kita lestarikan untuk menunjukan identitas negara Indonesia, sebagai  negara yang menerima keberagaman, mulai dari agama, sampai kebudayaan.

(Jurnal Justisia)

0 Response to "Melekatnya Budaya Tionghoa di Indonesia"

Post a Comment