Membumikan Islam Mazhab Ngaliyan

Oleh: Hamidulloh Ibda
Direktur Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah; Penggagas Islam Mazhab Ngaliyan

"Aku ingin kebenaran itu telanjang, karena kebenaran telanjang tanpa embel-embel lebih indah daripada yang diberi asesoris." (Ahmad Wahib).

Islam merupakan agama unik dan aneh. Unik karena banyak kelompok-kelompok di dalamnya dan aneh karena banyak ormas Islam menjadi “sakral” dan bahkan lebih menjadi agama daripada Islam itu sendiri.

Kita pasti tahu organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti NU, Muhammadiyah, FPI, LDII, HTI, MTA yang saat ini membumi di nusantara. Terkadang ormas tersebut menjadi “agama” dan mendiskreditkan Islam itu sendiri. Itulah wajah Islam di negeri ini.


Siapa yang benar? Hemat penulis benar semua. Karena mereka hanyalah kripik, gethuk, sawut, onde-onde, yang terpenting telonya sama. Artinya, apa saja ormas dan mazhabnya, yang penting telonya Islam, dasar dan fondasinya Islam. Karena tiada yang indah, kecuali menegakkan agama Islam. Jika kita memperdebatkan agama sampai mati pun tidak akan pernah selesai.


Bahkan, Huston Smith secara jelas menerangkan bahwa jika manusia tidak hati-hati dalam beragama, maka manusia hanya akan jatuh jadi atheis atau fundamentalis. Lebih jelas lagi, Karen Armstrong memaparkan bahwa fundamentalisme dalam agama akan membawa manusia ke lembah kekerdilan dan pertikaian.

Lalu, bagaimana dengan fenomena Islam yang bermazhab? Tentu menarik dikaji, salah satunya Islam mazhab Ngaliyan yang mungkin masih asing di telinga.


Islam Mazhab Ngaliyan


Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah merupakan tempat lahirnya intelektual muda Islam. Tak hanya politisi, akademisi, jurnalis dan pengusaha, namun Ngaliyan menjadi embrio lahirnya intelektual muda Islam yang mampu mempengaruhi Indonesia bahkan dunia. Ngaliyan hebat karena tidak terekspos media massa, namun tempat ini menjadi kawah candradimuka intelektual muda Islam yang menggetarkan dunia.


Nama-nama seperti Abdul Jamil, Sumanto Alqurtuby, Amin Syukur, M Yudhie Haryono, Dani Muhtada, Abdul Mu’ti, Mohammad Nasih, Ahmad Fauzi, Jabir Alfaruqi dan sebagainya merupakan sebagian kecil dari intelektual Islam yang lahir dari rahim Ngaliyan. Karena mereka menjadi mercusuar pembaharuan Islam di Indonesia. Pemikiran mereka menjadi acuan orang Islam dalam kehidupan sehari-hari.


Mazhab di sini bukan berarti haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam seperti mazhab Hanafi, Hambali, Maliki dan Syafii. Namun, mazhab Ngaliyan ajaran untuk menegakkan Islam sesuai fitrahnya. Mazhab Ngaliyan merupakan golongan pemikir yang sepaham dalam teori, ajaran, atau aliran tertentu di bidang ilmu agama Islam yang berusaha memajukan dunia. Karena Indonesia akan maju lewat Ngaliyan.


Selain terdapat kampus IAIN Walisongo, PGSD Unnes dan AIS Muhammadiyah, banyak pula aliran sempalan di Ngaliyan. Terdapat puluhan organisasi pemuda Islam seperti HMI, PMII, KAMMI, IMM, Formaci Jateng, HI Study Centre, CDIS, yang menjadi embrio lahirnya pemuda cendekia Islam.

Islam mazhab Ngaliyan bukanlah aliran Islam baru yang membuat gaduh atau kacaunya Islam. Bukan pula lembaga dakwah, ormas, apalagi institusi Islam yang mengutamakan formalisme simbolis. Namun, mazhab ini lebih mengutamakan Islam yang selalu menebar kedamaian, cinta dan kasih sayang. Karena hakikat beragama adalah menciptakan kedamaian bagi semua makhluk, bukan menebar kegeraman dan pertikaian. Jika ada orang Islam, organisasi Islam dan pemimpin Islam tidak menciptakan kegembiraan semua orang di lingkup wilayahnya, maka hakikatnya mereka tidak memenuhi prinsip rahmatal lilalamin. Islam itu damai dan adem. Maka, kewajiban orang Islam adalah memberikan kedamaian bagi siapa saja, baik pada orang Islam maupun di luar Islam.


Indonesia merupakan negara berbasis Islam dengan sejuta aliran dan mazhab. Maka, tak heran jika banyak pemeluk agama mendera “patologi agama” yang menjadi sumber kekerdilan beragama dan pertikaian umat. Apa saja mazhab dan ideologi Anda, jangan sampai menebar kerusakan dan melahirkan konslet agama. Karena hakikatnya, Islam adalah milik semua orang, bukan hanya menjadi “institusi” yang menjadi sarang kaum radikal perusak seperti ormas-ormas Islam saat ini.


Mazhabku, Mazhab Anda, Mazhab Kita


Memang benar, bertuhan tak harus beragama, dan berislam tak harus bermazhab. Namun sebaik-baiknya berislam adalah mereka yang mempunyai dasar (tabiin), berpegang teguh pada mazhab yang ada dasarnya, landasan, kaidah dan gurunya. Jika tak ada guru dan tak bermazhab, maka tipe beragama seperti ini sangat berbahaya dan cenderung tersesat di jalan salah. Mazhab apa saja boleh, asalkan membawa kedekatan pada Tuhan. Dan apa saja tidak boleh, jika hasilnya menjauhkan diri dari Tuhan.


Fenomena agama saat ini yang paling rentan adalah kekerasan atas nama agama. Padahal, Gus Dur dalam bukunya secara jelas memberikan pencerahan bahwa “Tuhan tak perlu dibela”. Tesis Gus Dur sangat logis dan harus diamalkan. Diperkuat lagi dengan argumennya Cak Nur dalam buku  Islam Universal menjelaskan bahwa ajaran Islam itu hakikatnya adalah milik semua manusia. Inti ajaran Islam adalah memanusiakan manusia, bukan sekadar memanusiakan orang Islam saja.


Namun, saat ini kita sering terjebak dalam formalisme Islam yang lebih menekankan pemahaman agama yang literal dan tekstual. Padahal, memahami agama tidak sekadar tekstual, namun perlu kontekstual dan interteksual. Memahami agama itu harus menyeluruh, universal dan komprehensif. Jangan sampai pemeluk agama hanya memahami bungkus dan melalaikan isinya. Bahkan, terkadang banyak orang beragama, sok alim, namun perbuatannya, keputusannya mencerminkan orang yang ateis dan tidak beragama.


Padahal, Paulo Coelho dalam novel spiritualismenya menjelaskan bahwa Tuhan bukanlah institusi, juga buka tafsiran tunggal. Jika para ahli agama sering menafsirkan Tuhan melalui kitab suci, Coelho mengambil jalan lain melalui pendekatan sastra-spiritual yang sangat menyentuh. Akibatnya, tulisan-tulisan Coelho melintasi umur dan kelamin, teritori dan suku, agama dan kebudayaan. Tawaran Coelho juga menginspirasi manusia untuk memahami agama tanpa formalisme buta.


Maka, sudah saatnya intelektual Islam menggelorakan “gerakan Islam antipekok”. Itulah gagasan yang diusung Islam mazhab Ngaliyan yang selalu menyeru pada perdamaian dan toleransi.


Dalam hal ini, orang Islam harus bisa membedakan antara Islam dan Arab, karena kedua entitas ini jelas berbeda. Secara jelas, Indonesia bisa diislamkan, namun tidak bisa diarabkan. Bali bisa dihindukan, tapi tidak bisa diindiakan. Artinya, untuk mencari solusi akan hal itu, kita harus menjalankan tesis baru, yaitu “Jowo digowo, Arab digarab dan Barat diruwat.” 


Artinya, orang beragama harus mampu menyinergikan unsur budaya dan agama. Jangan terlalu “pekok” dalam beragama. Di sini lah tawaran Islam mazhab Ngaliyan yang mendentumkan toleransi, perdamaian dan pemahaman agama secara universal dan tidak setengah hati. Yang terpenting, beragama atau tidak, bermazhab atau tidak, manusia harus mencari kemulyaan dan menciptakan kegembiraan bagi semua manusia. Bukankah itu sangat baik daripada mengaku beragama tapi menjadi sumber kekacauan?


Karena selama ini banyak orang Islam justru sering bertengkar dan tidak memberi suasana adem bagi manusia. Inilah urgensi Islam mazhab Ngaliyan yang didedikasikan untuk mengembalikan ajaran Islam yang damai dan toleran. Karena Islam adalah agama ku, agama anda dan agama kita. Ngaliyan adalah mazhab ku, mazhab anda dan mazhab kita.


Jika Ngaliyan memberikan pencerahan dalam agama, lalu apa yang Anda berikan untuk Ngaliyan?

0 Response to "Membumikan Islam Mazhab Ngaliyan"

Post a Comment