Ngaji Politik dengan Jokowi

Hamidulloh Ibda
Oleh Hamidulloh Ibda
Pengikrar Saatnya Kaum Muda Memimpin Indonesia; Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang


Nek pengen pinter nyupir, ngajio karo sopir. Nek pengen wangi nyedako karo bakul minyak. Nek pengen pinter dagang, ngajio karo pedagang. Nek pengen pinter berpolitik, ngaji karo politisi.”

Demikianlah ungkapan kiai saya waktu di pondok pesantren dulu. Pesan itu sepele, tapi bermakna besar. Bisa dimaknai bahwa jika manusia ingin hebat, maka harus belajar dan mendekat dengan orang hebat. Salah satu orang hebat dalam dunia politik dan kepeminpinan di negeri ini adalah Jokowi.

Sejak menjadi Gubernur DKI Jakarta, nama Jokowi melangit dan membumi. Tiada cacat politik baginya, bahkan hingga saat ini dia tetap menjadi pijakan para politisi dalam kampanye. Jokowi merupakan salah satu pemimpin visioner yang dimiliki Indonesia. Setidaknya, ia patut dicontoh semua pemimpin di Indonesia maupun dunia. Yang menjadi ciri khas dari Jokowi adalah karakternya. Karakter kepemimpinan Jokowi antara lain diwarnai oleh sistem nilai inklusif, pada tataran personal dan tataran kebijakan.

Meskipun banyak kebobrokan yang belum diungkap media massa, diketahui publik, namun Jokowi tetap bisa bertahan, dan dia digadang-gadang menjadi “presiden” di pentas politik 2014. Namun, sebagai intelektual, kita patut mencontohnya, karena bagaimana pun juga, dia adalah sosok pemimpin yang menjadi “ikon” di Indonesia.

Keunikan Jokowi

Karakter Jokowi menjadi sorotan masyarakat. Apalagi, gaya pembangunan inklusif Jokowi tidak memusuhi kelas atas. Bahkan, toko mewah tetap ada dan jaringan waralaba bermodal besar tetap tumbuh. Namun keberpihakan dan perlindungan Jokowi terhadap wong cilik sungguh di atas rata-rata yang dilakukan oleh sebagian besar daerah lain. Itulah kehebatan Jokowi. Berbicara tentang Jokowi, lebih karena pesona seorang Joko Widodo yang menjadi pemberitaan media massa di mana diperlihatkan betapa masyarakat mengelu-elukannya di setiap kunjungan ke lapangan. Padahal, Jokowi “hanya” melakukan apa yang seharusnya dikerjakan oleh pemimpin yang melihat masalah langsung ke  tengah masyarakat.

Ini menjadi fenomenal karena kita “miskin” akan kehadiran pemimpin yang baik saat ini. Hal itu juga bisa terjadi karena berita pemimpin jelek di media informasi lebih dominan. Ternyata jauh di dalam hati begitu banyak yang rindu akan sosok pemimpin sederhana merakyat, jauh dari birokrasi yang rumit dan protokoler sehingga bisa melihat dan mendengar dengan baik. Fenomena Jokowi ini mampu membuktikan adanya “pengristalan” terhadap sosok yang dianggap akan mampu karena memang semestinya harus teruji oleh waktu untuk menjadi pemimpin yang menyelesaikan masalah sebagian besar kelompok masyarakat yang memilihnya.

Melihat sosok Jokowi bisa dilihat contoh kesederhanaanya. Atribut yang melekat pada Jokowi adalah pakaian maupun kendaraan dinas yang digunakannya. Harapan publik terhadap atribut ini ditampilkan sebagai sebuah kesederhanaan seorang pemimpin, jauh dari pakem materialistis, sehingga jelas atribut ini disukai oleh sebagian besar masyarakat yang memilih Jokowi dan mereka merasa tidak berbeda. Selanjutnya terhadap tindakannya. Apa yang dilakukannya saat ini walaupun sporadis dan kasusistis tapi jelas membalik gambaran tentang elitenya seorang pemimpin. Tindakan Jokowi mendapat pujian sebagian besar masyarakat dan ini juga tidak lepas dari peran media yang menyebarluaskan tindakan ini terhadap publik.

Yang terakhir adalah karakter atau kepribadian yang membutuhkan waktu untuk membuktikan tindakan dan bahkan atributnya, ini yang membutuhkan konsistensi karena perlu menghadapi perjalanan waktu, kalau dari masa lalu menjadi track record/rekam jejak misalnya dari masa muda sampai terakhir sebagai Wali Kota Solo dan ke masa yang akan datang menjadi pembuktian dalam jabatan sekarang dan dalam kontek persaingan jabatan politik itu menjadi juga sebuah janji politik.

Citra Jokowi

Salah satu masalah pelik yang dicari politisi adalah “citra dan pencitraan”. Citra menurut kamus bahasa Indonesia adalah rupa; gambar; gambaran; yaitu suatu gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk; juga suatu kesan mental atau bayangan visual yangg ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, sehingga dalam kontek ini bisa diartikan sebagai sesuatu yang ditampilkan seseorang, baik melalui atribut yang melekat maupun penggambaran karakter atau kepribadian melalui tindakan diikuti dengan public view/pandangan publik, baik secara langsung maupun melalui sarana media dan multimedia.

Pandangan masyarakat ini sangatlah besar peran media karena tidak mungkin semua publik bisa melihat secara langsung apa yang dilakukan oleh pemimpin atau juga calon pemimpin. Untuk membentuk opini publik yang kuat, citra atau gambaran kepribadian ini harus mampu ditampilkan konsisten sehingga memerlukan “perlakuan” seandainya citra atau gambaran kepribadian itu bukan karakter atau kepribadian yang sebenarnya, tetapi sebaliknya ia akan natural jika memang merupakan karakter atau gambaran kepribadian sebenarnya dari pemimpin ataupun calon pemimpin.

Melihat secara langsung konteks citra dengan keterbukaan informasi dewasa ini baik melalui berbagai media termasuk media sosial seperti Facebook dan Twitter yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menginformasikan secara real time setiap peristiwa maka alangkah repot dan juga mahal  jika citra kepribadian itu merupakan sesuatu yang sifatnya artifisial. Apalagi jika ini dikaitkan dengan persaingan untuk suatu jabatan politik.

Berapa banyak biaya politik yang harus dikeluarkan untuk membangun dan menjaga konsistensi citra, dan sebaliknya jika tokoh yang akan bersaing itu memang murni memiliki kepribadian yang diinginkan publik maka bukan sesuatu yang sulit untuk menjaga konsistensi. Kita juga tentu berharap media bisa terus berada pada koridor yang benar sebagai penyampai informasi publik dan bebas dari kepentingan. Bukankah yang terjadi seharusnya demikian?

Seharusnya, hal di atas harus tetap dijaga Jokowi. Artinya, selama ini banyak orang mengritik Jokowi sebagai seorang pemimpin yang “paling mania” diliput media. Jokowi sering disebut sebagai pemimpin yang paling intens dalam melakukan segala aktivitasnya dimasukkan media massa. Namun, apapun yang terjadi, tentunya media harus benar-benar memberitakan aktivitas Jokowi sebagaimana mestinya. Jangan sampai media memberitakan Jokowi dengan tidak benar, apalagi Jokowi disebut paling suka diliput media.

Tapi, yang jelas sebagai masyarakat biasa, kita bisa mengambil tauladan positif dari Jokowi. Kita bisa “ngaji politik” yang diajarkan dari Jokowi. Banyak pemimpin di negeri yang bisa kita ambil jiwa kepemimpinannya, namun hanya Jokowi yang bisa mengajarkan “blusukan”, progresivitas dan optimisme dalam memimpin.

Yang perlu diperjelas di sini, apa yang sudah diberikan Jokowi untuk Indonesia?

0 Response to "Ngaji Politik dengan Jokowi"

Post a Comment