Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Rumah Pintar

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Rumah Pintar
Makalah disusun oleh Dety Fitriani
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang

I.    LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam UU Sisdiknas No. 20  tahun  2003 bab 1 pasal 1 yang dimaksud pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan merupakan transformasi nilai dari pendidik kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung. Pendidikan juga sebagai upaya dalam rangka membangun, membina, dan mengembangkan kualitas manusia yang dilakukan terstruktur dan terprogram serta berkelanjutan. Oleh karena itu, pendidikan sebagai proses belajar harus dimulai sejak dini.

Dengan pendidikan manusia dapat membentuk peradaban yang lebih mulia dan bermartabat di banding dengan makhluk-makhluk yang lain. Karena pada dasarnya manusia lahir dengan membawa banyak fitrah yang mencakup fitrah, seperti fitrah agama, intelektual, fitrah sosial, fitrah ekonomi dan beberapa fitrah yang lain. Fitrah intelektual disinggung dalam al-Qur’an (QS. 7/al-A’raf: 179), yang berbunyi:
  •                               
Artinya:”Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. 7/al-A’raf: 179)

Dijelaskan bahwa PAI adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional.

Dalam berbagai pengamatan aspek pendidikan selalu selalu berkaitan dengan proses, mutu dan hasil pendidikan. Ketiga aspek inilah yang paling menentukan dalam menilai pendidikan itu menemukan titik cerah proses pendidikan islam. Antara pendidikan islam dan pendidikan umum secara umum memiliki beberapa kesamaan identifikasi problem dalam rangka transfer of knowledge kepada peserta didik.  

Pada lingkup yang lebih khusus pendidikan agama merupakan bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai antara lain akhlak keagamaan. Oleh karena itu pendidikan agama juga menjadi tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah. 

Dalam kenyataannya selain terdapat pendidikan formal terdapat juga pendidikan informal dan non formal yang diselenggarakan bagi bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. 

Dalam undang-undang RI no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional disebutkan adanya tiga jalur pendidikan yakni pendidikan formal, nonformal, informal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang berjenjang dan berstruktur terdiri atas pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Pendidikan nonformal adalah pendidikan di luar jalur formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Di rumah pintar yang termasuk dalam lembaga pendidikan non formal memiliki tema disetiap harinya yang diajarkan di masing-masing harinya. Dan tema-nya yaitu : day of knowledge, day of skill, day of art, day of sport, day of relegion, day of health. (15/3).  

Day of religion diisi dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yang mengajarkan beberapa nilai antara lain : seperti pendidikan moral, mengajarkan untuk berperilaku santun, berperilaku hidup sehat, mau menerima dan menghargai pendapat orang lain, mengajarkan tentang kerukunan beragama, serta Pendidikan Agama Islam.

Rumah Pintar berdiri karena dilatarbelakangi pendidikan yang tidak dapat dinikmati semua kalangan pada khususnya kalangan menengah kebawah. Dan keprihatinan yang dirasakan oleh beberapa tokoh masyarakat dengan masalah semakin merosotnya (degradasi), mental, akhlak, dan khususnya agama bagi anak-anak. 

Banyak yang berkomentar bahwa sistem pembelajaran mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Sebagian menganggap lebih rumit. Karena output- nya adalah perbaikan dan peningkatan ibadah, akhlak dan pengetahuan siswa terhadap pengetahuan ke-Islaman. 

Kendati begitu, jika hanya mengandalkan jumlah jam pertemuan di kelas, sangat mustahil mampu mewujudkan hasil pembelajaran yang baik. Walau bagaimanapun, mata pelajaran PAI merupakan penyeimbang mata pelajaran lain dalam rangka membentuk karakter anak didik. Terutama untuk memberikan pengaruh positif bagi anak didik dalam beramal sholih, berakhlak mulia dan bersopan santun sesuai dengan ajaran Islam.

Menyadari betapa pentingnya memberikan pendidikan agama, maka penulis mencoba membahas pembelajaran pendidikan agama Islam.

II.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam kajian ini adalah:
1.    Bagaimana pembelajaran Pendidikan agama Islam di Rumah Pintar?

III.    PEMBAHASAN

A.    Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
 
1.    Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Dalam kitab Attarbiyah Wa Turuquttadris disebutkan bahwa:
ان التعلم: هو تغيير فى ذهن المتعلم يطرأ على خبرة سابقة فيحدث فيها تغييرا جديدا. 
”Belajar adalah suatu perubahan di dalam pemikiran siswa yang dihasilkan dari pengalaman terlebih dahulu kemudian menumbuhkan perubahan yang baru dalam pemikiran siswa.”

Jadi, belajar adalah suatu proses yang kompleks untuk memperoleh perubahan baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Proses pembelajaran tersebut melibatkan siswa secara langsung. Sehingga memberikan pengalaman tersendiri bagi siswa yang pada akhirnya menumbuhkan perubahan yang positif pada tingkah lakunya. 

 Menurut E. Mulyasa pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.  Pembelajaran merupakan proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap.  

Jadi, pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan belajar yang diatur guru untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut, juga harus didukung oleh fasilitas yang disediakan sekolah sesuai dengan materi yang diajarkan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Sedangkan menurut F. J. Mc. Donald pendidikan adalah: Education is a process or an activity which is directed at producing desirable changes in the behaviour of human beings.  Bahwa pendidikan adalah sebuah proses atau sebuah aktivitas yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan.

Menurut Oemar Hamalik pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tujuan pengajaran. 

Menurut Zakiyah Daradjat yang telah dikutip oleh Abdul Majid dan Dian Andayani menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan belajar yang telah diatur oleh guru yang berguna untuk membina dan mengasuh secara sistematis dan pragmatis dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani hingga mengamalkan ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antarumat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa melalui ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam al Qur’an dan Hadis.

2.    Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam berarti membentuk kepribadian muslim yaitu suatu kepribadian dimana seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran agama Islam yang bertujuan dalam rangka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ridho Allah.
Tujuan pembelajaran Agama Islam yaitu untuk membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah dan senantiasa meningkatkan keimanannya melalui pemupukan pengetahuan serta pengalamannya tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan dan ketakwaannya dalam berbangsa dan bernegara sehingga tercapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

B.    Rumah Pintar
1.    Pengertian Rumah
Rumah pintar memiliki peran yang cukup strategis dalam konteks peningkatan kualitas sumber daya manusia dan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap agama dan nilai-nilai ajaran islam dalam rangka untuk membantu pemerintah dalam rangka membudayakan membaca pada masyarakat.
Rumah Pintar adalah tempat dimana masyarakat dapat mengakses pendidikan secara gratis, dan rumah pintar termasuk kedalam pendidikan non formal yang berupaya untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di rumah pintar merupakan tempat untuk memperoleh pendidikan agama islam khususnya bagi anak-anak dan remaja, dan umumnya bagi warga masyarakat yang karena suatu hal tidak dapat memperoleh pendidikan agama atau belum didapatkan dan melengkapi pada pendidikan formal atau sekolah.

Bekerjasama dengan Universitas Negeri Jakarta dan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Ibu Ani memaparkan latar belakang gagasan ini. Buta aksara di Indonesia pada tahun 1945, kata Ibu Ani, mencapai 97 persen dari total penduduk Indonesia dan terus mengalami penurunan sehingga pada tahun 2006 tinggal 8,7 persen atau setara dengan 12,8 juta orang ."Pendidikan di Indonesia adalah tanggung jawab pemerintah, komunitas masyarakat, dan individu termasuk LSM yang telah memainkan peran yang penting dalam melayani dan melakukan program pemberantasan buta aksara,"

Rumah pintar yang menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan moral, agama, mengajarkan untuk berperilaku santun, berperilaku hidup sehat, mau menerima dan menghargai pendapat orang lain, mengajarkan tentang kerukunan beragama, serta pendidikan lainnya yang termasuk dalam pendidikan non formal, diharapkan dapat pula mendukung program-program pemerintah kota yang disesuaikan dengan tema harian yang ada di rumah pintar.

2.    Manfaat Rumah Pintar
Salah satu dari manfaat dengan keberadaan rumah pintar adalah untuk memberikan dan menyediakan wadah untuk masayarakat guna mengakses pendidikan yang gratis untuk warga masyarakat. Manfaat rumah pintar tidak hanya dirasakan oleh para ibu-ibu dan remaja putri, anak-anak juga dapat. "Di rumah pintar ada Tempat pembelajaran Pendidikan agama islam, Al Quran atau TPA yang banyak diikuti anak-anak sekitar rumah pintar,". Kegiatan ini biasanya dilakukan sore hari hingga menjelang maghrib.

3.    Fungsi Dan Tujuan Rumah Pintar
Program pembelajaran pendidikan agama islam diRumah Pintar Tresno Asih Semarang berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan pengetahuan serta pemahaman terhadap agama islam yang dibutuhkan dan tidak didapatkan dibangku sekolah, kepada peserta didik (Peserta didik), sehingga dapat meningkatkan pemahaman yang lebih bagi Peserta didik Progran ini bertujuan:
a.    Memberikan pengetahuan agama kepada peserta didik.
b.    Mengembangkan dasar-dasar pembentukan warga negara yang beriman, dan bertaqwa dan bermartabat.
c.    Meningkatkan kemampuan membaca, menulis.
d.    Meningkatkan pengalaman belajar yang mandiri, kreatif, dan produktif
e.    Memberikan kecakapan hidup untuk bekerja dan berusaha mandiri
f.    Memberikan bekal pengetahuan, kemampuan, dan sikap dasar yang memungkinkan peserta didik tidak terjerumus ke jalan yang salah.

C.    Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Rumah Pintar
1.    Materi pembelajaran pendidikan agama Islam di rumah pintar
Adapun pokok-pokok pendidikan yang harus diberikan di rumah pintar adalah pelajaran agama, jadi untuk lingkungan masyarakat beragama islam adalah pendidikan agama islam yaitu ajaran Islam yang secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu: akidah, ibadah, dan akhlak. 
a.    Pendidikan Akidah
Pada kehidupan anak, dasar-dasar akidah harus terus-menerus ditanamkan pada diri anak agar setiap perkembangan dan pertumbuhannya senantiasa dilandasi oleh akidah yang benar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membiasakan anak mengucapkan kata-kata yang mengagungkan Allah, tasbih, istigfar, sholawat dan do’a-do’a pendek. Anak dilatih mengulang kata-kata pendek tersebut seperti asma Allah, tasbih, tahmid, basmalah. 
b.    Pendidikan Ibadah
Pendidikan ibadah hendaknya dikenalkan sedini mungkin dalam diri anak agar tumbuh menjadi insan yang benar-benar takwa, yakni insan yang taat melaksanakan segala perintah agama dan taat pula dalam menjauhi segala larangan-Nya.
c.    Pendidikan Akhlak
Dalam rangka menyelamatkan dan memperkokoh akidah Islamiah anak, pendidikan anak harus dilengkapi dengan pendidikan akhlak yang memadai. Maka dalam rangka mendidik akhlak kepada anak-anak, selain harus diberikan keteladanan yang tepat, juga harus ditunjukkan bagaimana harus menghormati dan seterusnya. Misalnya membiasakan anak makan bersama, sebelum makan cuci tangan dahulu, tidak boleh makan sebelum membaca do’a.
Peserta didik juga dibiasakan untuk berkata sopan dengan membiasakan salam sebelum masuk kedalam ruangan dan menegur orang dengan salam.

d.    Metode pembelajaran pendidikan agama Islam di rumah pintar
Metode merupakan cara yang paling efektif dan efisien dalam mencapai tujuan. Metode pembelajaran hendaknya menantang dan menyenangkan, dan belajar. 
Beberapa metode yang digunakan untuk pembelajaran yaitu:

a.    Presentasi dan cerita
Metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pembelajaran.  Metode ini baik digunakan untuk mengungkap kemampuan, perasaan, dan keinginan anak. Guru dapat menyuruh dua atau tiga orang anak untuk bercerita apa saja apa yang ingin diungkapkan anak. Pada saat anak bercerita, guru dapat melakukan evaluasi pada anak tersebut. Kemudian topik yang diceritakan anak dapat dilanjutkan sebagai bahan pembelajaran.
b.    Wisata religi
Metode wisata religi adalah metode pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara mengajak peserta didik untuk mengunjungi tempat yang berkaitan dengan pengetahuan keislaman.
c.    Karyawisata
Metode karyawisata adalah metode pengajaran yang dilakukan dengan mengajak para siswa keluar kelas untuk mengunjungi suatu peristiwa atau tempat yang ada kaitannya dengan pokok bahasan.
d.    Pengawasan
Awalnya anak perlu diperhatikan dan diawasi agar berada dijalan yang lurus dan tidak menyimpang.kelak pada saat ia telah mencapai kematangan ruhaniah, ia telah memiliki dasar untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Contohnya: menjaga anak agar tidak mengucapkan kata-kata kotor, tidak menyakiti atau mengganggu teman, anak harus berkata jujur, dalam bermain anak harus mengembalikan barang yang ia pinjam.  
e.    Keteladanan
Melalui metode ini, para orang tua dan pendidik memberi contoh dan teladan terhadap anak/peserta didik bagaimana cara berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah dan sebagainya.
f.    Pembiasaan
Supaya pembiasaan dapat lekas tercapai dan baik hasilnya, maka harus memenuhi beberapa syarat:
-    Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, jadi sebelu anak punya kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan.
-    Pembiasaan hendaknya terus-menerus dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi kebiasaan yang otomatis.
-    Pendidik hendaknya konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh terhadap pendirian yang telah diambil. Tidak membiarkan anak melanggar pembiasaan yang telah ditetapkan.
-    Pembiasaan yang mulanya mekanistis harus menjadi pembiasaan yang disertai kata hati anak itu sendiri. 
g.    Bermain
Bermain merupakan metode belajar yang terbaik bagi anak usia dini. Yaitu dengan menggunakan prinsip bermain sambil belajar yang mengandung arti bahwa setiap kegiatan pembelajaran harus menyenangkan, gembira, aktif, dan demokratis.
Bermain merupakan wahana dimana anak mengenal dan memahami dunianya dan dunia orang lain. Dengan mendapatkan kesempatan bermain secara cukup serta benar, anak memperoleh peluang lebar untuk menjadi sehat, cakap, bahagia, serta produktif kelak dikemudian hari. Caranya yaitu dengan menyediakan waktu, ruang, serta sarana yang memadai bagi anak untuk bermain.  

2.    Evaluasi pembelajaran pendidikan agama Islam di rumah pintar
Evaluasi di rumah pintar digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program juga untuk mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar anak. Evaluasi pada anak tidak dilakukan di kelas pada akhir program atau diakhir tahun, tetapi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sehingga kemajuan belajar siswa dapat diketahui.
Tujuan diadakan penilaian menurut Brewer sebagaimana dikutip oleh Soemiarti Patmonodewo menyatakan bahwa penilaian adalah penggunaan sistem evaluasi yang bersifat komprehensif (menyeluruh) untuk menentukan kualitas dari suatu program atau kemajuan dari seorang anak.  Apabila guru melakukan penilaian biasanya dikaitkan dengan penilaian terhadap perkembangan sosial, emosional, fisik maupun perkembangan intelektualnya.

Pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk anak, yang perlu dievaluasi adalah bidang akidah, ibadah, dan akhlak. Dalam bidang akidah dilihat dari kebiasaan anak untuk membaca do’a-do’a pendek, bertasbih, dan menyebut nama Allah. Bidang ibadah misalnya pada saat praktek wudhu, melaksanakan sholat. Pada bidang akhlak dilihat dari kebiasaan anak untuk membaca do’a sebelum melakukan kegiatan, mencuci tangan sebelum makan, dan lain-lain.

Adapun cara mengevaluasi anak yaitu dengan cara pengamatan (observasi). Observasi adalah suatu cara untuk mendapatkan keterangan mengenai situasi dengan melihat dan mendengar apa yang terjadi, kemudian semuanya dicatat dengan cermat.  Pencatatan kegiatan belajar anak dilakukan setiap pertemuan sesuai dengan aspek-aspek perkembangan yang hendak dicapai dalam setiap pertemuan dengan lembar cheklist perkembangan anak dan melihat seluruh hasil karya anak sebagai bahan evaluasi sehingga mempermudah dalam merekap untuk dilaporkan kepada orang tua murid.

IV.    KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, pembelajaran pendidikan agama Islam sangat penting diberikan kepada anak sebagai dasar untuk menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agama Islam yang bersumber pada al-qur’an dan hadits. 

Kedua, pembelajaran pendidikan agama Islam untuk anak dilakukan dengan cara memberikan materi-materi yang sesuai dengan usia mereka yang nantinya sangat dibutuhkan sebagai bekal menjalani kehidupan. Diantaranya materi yang berkaitan dengan penanaman akidah, misalnya dengan cara membiasakan mengucap basmalah setiap akan melakukan kegiatan. Materi ibadah dengan cara pembiasaan sholat berjamaah sehingga pada akhirnya anak-anak terbiasa melaksanakan sholat secara berjamaah. Sedangkan materi akhlak, misalnya membiasakan makan dengan tangan kanan, menghormati orang yang lebih tua. Dan membiasakan salam dan kata-kata yang sopan. Dalam penyampaian materi harus menggunakan metode yang tepat dan disesuaikan dengan tahap perkembangan anak agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.  

Ketiga, evaluasi yang dilakukan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam untuk anak yaitu dilakukan setiap kali pertemuan sesuai dengan aspek-aspek perkembangan yang hendak dicapai dalam setiap pertemuan dengan lembar cheklist perkembangan anak dan melihat seluruh hasil karya anak sebagai bahan evaluasi sehingga mempermudah dalam merekap untuk dilaporkan kepada orang tua murid.

V.    PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis susun dengan semaksimal mungkin. Apabila terdapat kekurangan, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Aziz, Sholih Abdul dan Abdul Aziz Abdul Madjid, Attarbiyah Waturuquttadris, juz I, Makkah: Darul Maarif, t.th.
Az-Zubaidi, Imam Zaenuddin Ahmad bin Abdul Latif, Mukhtasor Sakhih Bukhori, Juz 1, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, tth.
Daradjat, Zakiah, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, Jakarta: CV. Ruhama, 1993.
______________, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996, Cet. 15.
Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005, Cet. I.
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999.
Madjid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Makmun, Abin Syamsuddin, Psikologi Kependidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000.
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. 
Maya dan Wido, Serba-Serbi Bijak Mendidik dan Membesarkan Anak Usia Pra Sekolah, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006.
Mc. Donald, F. J., Educational Psychology, California: Wadsworth Publishing, 1959.
Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004.
Muchtar, Heri Jauhari, Fikih Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003.
Patmonodewo, Soemiarti, Pendidikan Anak Prasekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), Cet. I.
Poerwanti, Endang dan Nur Widodo, Perkembangan Peserta Didik, Malang: UMM Press, 2002.
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998.
Sudono, Anggani, Sumber Belajar dan Alat Permainan (Untuk Pendidikan Anak Usia Dini), Jakarta: PT Grasindo, 2000.
Sujiono, Bambang, dan Yuliani Nurani Sujiono, Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini Panduan Bagi Orang Tua dalam Membina Perilaku Anak sejak Dini, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2005.
Suyanto, Slamet, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat Publishing , 2005, Cet. I.
Usman, Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
UU Sisdiknas RI No. 20 tahun 2003, Jakarta: Sinar Grafika, 2005, Cet. 2.
Wahyudi dan Dwi Retna Damayanti, Program Pendidikan Anak Usia Dini di Prasekolah Islam, Jakarta: Grasindo, 2005.
Yusuf, Syamsu LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000, Cet. 1.