Pembentukan Karakter Anak Remaja Melalui Pondok Pesantren

Oleh Irfan Maulana, A.Md.
Anggota Dewan Pengajar PPMQA Semarang

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaruh budaya asing sangat sulit untuk dikendalikan. Akibat dari hal itu, kalangan remaja dan dewasa mudah teracuni iming-iming gemerlap budaya asing yang menyuguhkan berbagai macam kesenangan dunia. Tak hanya di perkotaan saja, budaya asing pun kini tengah leluasa merambah di pedesaan.


Walhasil, tak jarang remaja zaman sekarang lebih senang memakai budaya asing ketimbang budaya kita sendiri, yaitu budaya timur yang terkenal ramah dan beretika. Pengaruh budaya asing sekarang banyak kita jumpai dari remaja yang rambutnya dicat warna-warni, tubuh bertato, memakai celana yang dirobek bagian lututnya, bertutur kata kasar, mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Perempuan pun zaman dulu yang erat dengan budaya malu dan ramah, kini tak mau kalah dengan laki-laki yang lebih berani menampilkan bagian-bagian lekuk tubuhnya, tidak mau menutup aurat, menghiasi diri yang tidak diperuntukkan mahrom-nya, bertutur kata kasar, mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Latar belakang pendidikan formal yang berdedikasi tinggi dalam memberantas kebodohan dan mencerdaskan rakyat ternyata tidak luput juga dari pengaruh budaya asing, bahkan justru penggiat “budaya asing” terbanyak justru dari kalangan orang-orang yang berpendidikan. Hal ini bukan berarti pendidikan formal tidak lagi berkualitas, tetapi “racun budaya barat” yang mempengaruhi para remaja akibat dari rapuhnya iman yang berdampak pada hilangnya moral pada diri remaja itu sendiri.

Orang tua seyogianya memperhatikan pendidikan yang akan ditempuh anak-anaknya, karena pendidikan yang ditempuh anak-anak akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Pendidikan yang berkualitas bukan dinilai dari mahalnya biaya pendidikan maupun dari hebatnya bahasa asing anak. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang bisa mendeskontruksi pemikiran anak yang awalnya bodoh menjadi anak yang cerdas, militan dan ber-“akhlakul karimah.”

Membentuk karakter melalui pendidikan pondok pesantren
Sebagai orang tua yang lebih mementingkan moral anaknya, pondok pesantren yang notabene-nya adalah “bengkel akhlak” kiranya tepat menjadi tempat belajar anak yang tidak ingin terenggut masa depannya oleh gemerlap “budaya barat”. Gemerlap budaya barat dalam hal ini budaya asing yang dapat merusak moralitas remaja Indonesia masa kini.

Perlu diketahui, pendidikan pondok pesantren sebagai pendidikan non-formal juga tidak kalah dengan pendidikan formal pada umumnya, baik dari segi keilmuan pengetahuan umum maupun keterampilan (life skill), terutama keilmuan agama. Dalam pesantren, santri diajarkan berbagai macam hal, antara lain belajar untuk disiplin dan mematuhi peraturan, menjalankan kewajiban dengan penuh tanggung jawab. Dalam hal disiplin ilmu, santri juga dibekali cara membaca Al-Qur’an dan hadis serta pemahamannya, cara membaca kitab karangan ulama terdahulu, cara berdialog dengan bahasa arab maupun inggris (billingual), dan lain sebagainya.

Terkait dengan soft skill, para santri saat lulus dari pesantren dibekali ragam ketrampilan, di antaranya menjahit, bercocok tanam, berternak, membatik, mengelola koperasi, berwirausaha, cara berdagang, menulis atau jurnalistik, dan kemampuan soft skill lainnya. Meski tidak semua pondok pesantren memberikan bekal soft skill tersebut, tetapi pondok pesantren sekarang banyak yang memberikan keterampilan untuk membekali santri agar menjadi generasi bangsa yang kompeten dan berkarakter.

Wallahu a’lam Bis showab