Pengertian Ijtihad dan Syarat-Syarat Mujtahid

Pengertian Ijtihad dan Syarat-Syarat Mujtahid
Pengertian ijtihad adalah upaya untuk memahami suatu hukum yang diatur dalam syari'at menggunakan segenap daya upaya agar menghasilkan keputusan hukum yang maslahat. Mujtahid ialah orang yang berijtihad. Membicarakan syarat-syarat mujtahid berarti juga membicarakan syarat-syarat ijtihad. Imam al Ghazali menyatakan mujtahid mempunyai dua syarat, yaitu:
  • Mengetahui dan menguasai ilmu syara, mampu melihat yang zhanni di dalam hal-hal yang syara dan mendahulukan yang wajib.
  • Adil, menjauhi segala maksiat yang mencari sifat dan sikap keadilan (`adalah). Menurut Asy Syathibi, seseorang dapat diterima sebagai mujtahid apabila mempunyai dua sifat, yaitu mengerti dan paham akan tujuan syari`at dengan sepenuhnya, sempurna dan menyeluruh. Mampu melakukan istimbath berdasarkan faham dan pengertian terhadap tujuan-tujuan syari`at tersebut.

Menurut Dr. Wahbah az Zuhaili, seorang mujtahid mempunyai dua syarat yang harus dimiliki, yaitu mengetahui apa yang ada pada Tuhan dan mengetahui atau percaya adanya Rasul dan apa yang dibawanya juga mukjizat-mukjizat ayat-ayat Allah.

Al-Syatibi berpendapat bahwa mujtahid hendaknya sekurang-kurangnya memiliki tiga syarat: Syarat pertama, memiliki pengetahuan tentang Al Qur’an, tentang Sunnah, tentang masalah Ijma’ sebelumnya. Syarat kedua, memiliki pengetahuan tentang ushul fikih. Syarat ketiga, menguasai ilmu bahasa.

Selain itu, al-Syatibi menambahkan syarat selain yang disebut di atas, yaitu memiliki pengetahuan tentang maqasid al-Syariah (tujuan syariat). Oleh karena itu seorang mujtahid dituntut untuk memahami maqasid al-Syariah. Menurut Syatibi, seseorang tidak dapat mencapai tingkatan mujtahid kecuali menguasai dua hal: pertama, ia harus mampu memahami maqasid al-syariah secara sempurna, kedua ia harus memiliki kemampuan menarik kandungan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya atas maqasid al-Syariah.

Tingkatan Mujtahid 
 Mujtahid mutlaq, yaitu seorang mujtahid yang mampu memberikan fatwa dan pendapatnya dengan tidak terikat kepada madzhab apapun. Contohnya Maliki, Hambali, Syafi`i, Hanafi, Ibnu Hazhim dan lain-lain.

Mujtahid muntasib, yaitu orang yang mempunyai syarat-syarat untuk berijtihad, tetapi ia menggabungkan diri kepada suatu madzhab dengan mengikuti jalan yang ditempuh oleh imam madzhab tersebut.

Macam-macam ijtihad
Dr. ad Dualibi, sebagaimana dikatakan Dr. Wahbah (h. 594), membagi ijtihad menjadi tiga macam, yaitu:

  • Al Ijtihadul Bayani, yaitu menjelaskan (bayan) hukum-hukum syari`ah dari nash-nash syar`i.
  • Al Ijtihadul Qiyasi, yaitu meletakkan (wadl`an) hukum-hukum syari`ah untuk kejadian atau peristiwa yang tidak terdapat dalam al Qur`an dan Sunnah, dengan jalan menggunakan qiyas atas apa yang terdapat dalam nash-nash hukum syar`i.
  • Al Ijtihadul Isthishlahi, yaitu meletakkan hukum-hukum syari`ah untuk kejadian/peristiwa yang terjadi yang tidak terdapat dalam al Qur`an dan Sunnah menggunakan ar-ra`yu yang disandarkan atas isthishlah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian ijtihad adalah upaya untuk memahami hukum-hukum yang diatur dalam syari'at guna mencari dalil-dalil hukum yang sesungguhnya sebagaimana dimaksud syari'at dan mengimplementasikan dalam sebuah persoalan hukum. Untuk menjadi seorang mujtahid, setidaknya ada syarat-syarat mujtahid di mana secara garis besar syarat-syarat mujtahid harus menguasai ilmu syara' dan menjauhi kemaksiatan yang dilarang syari'at.