Rhenald Kasali Kritik Metode Peringkat Kelas dalam Sistem Pembelajaran di Indonesia

Islamcendekia.com - Sistem pemeringkatan kepintaran peserta didik sebetulnya metode yang keliru. Parahnya, sebagian besar metode pembelajaran di Indonesia memberikan peringkat kepada setiap peserta didik. Di sebagian besar negara maju, seperti Amerika Serikat, tidak ada metode pemeringkatan tingkat kecerdasan atau kepintaran anak melalui sistem peringkat. Begitu kritik Prof. Dr. Rhenald Kasali, Ph.D saat memberikan motivasi bertema “Be A Great Entrepreneur” dalam acara launching C Radio di Hotel Grand Candi, Semarang, Jumat (24/1/2014)

“Bagaimana kita bisa memberikan peringkat satu, dua, tiga, dan seterusnya jika masing-masing anak memiliki kecerdasan, kemampuan, dan kualitas diri yang berbeda dengan anak yang lain?” tutur Rhenald Kasali. Rhenal melanjutkan, anak yang memiliki kemampuan melukis dan berbakat di seni rupa tidak akan bisa diperingkat dengan anak yang punya kemampuan matematika. “Hal itulah yang diterapkan di negara maju. Tidak ada sistem peringkat karena masing-masing anak punya kemampuan, kecerdasan, bakat, dan kualitas yang tidak bisa disamakan,” pungkas Rhenald Kasali.

Rhenald Kasali juga mengkritik pengajar, pendidik, guru, dosen yang hanya menekankan peserta didiknya untuk menghafal dan menghafal yang pada akhirnya tidak bermanfaat pada tataran aplikasi.  Menghafal hanya akan membuat siswa pintar di otak yang tidak melibatkan aspek kecerdasan yang lain.

“Ibarat ikan lele, orang yang berpedoman pada hafalan hanya besar di kepala. Iklan lele kadang ada yang besar di kepala, tetapi badannya kecil yang pada akhirnya tidak enak untuk dimakan. Maka jadilah lele yang besar seluruhnya, mulai kepala hingga seluruh badan sehingga proporsional dan enak dimakan,” papar Rhenald. Yang dimaksud Rhenald Kasali, dengan melibatkan seluruh aspek kecerdasan dan bakat yang tidak selalu menekankan aspek hafalan, anak didik akan memiliki bakat sejak dini yang baik untuk perkembangan ke depan. Itu yang dibutuhkan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Dengan cara ini, setiap generasi bangsa akan diasah sejak dini untuk mempersiapkan pribadi unggul untuk menjawab tantangan masa depan bangsa Indonesia. “Bangsa Indonesia itu tidak hanya butuh ahli hafalan yang minim aplikasi. Bangsa Indonesia itu butuh pelukis, butuh pemikir, butuh ilmuwan, butuh mekanik, butuh penulis, butuh arsitek, butuh ekonom, butuh artis, butuh seniman, butuh budayawan dan butuh ekspert-ekspert lain di bidangnya sehingga kritik Rhenald Kasali memang benar. Kita tidak bisa memberikan peringkat kepada masing-masing siswa-siswi dalam kelas,” komentar Ririn Pinawati, pendidik di Pyna Private Course.

Paradigma yang keliru

Sebagai orang tua, tidak semestinya kita menuntut anak untuk berprestasi di sekolah dengan sistem peringkat. Apabila anak kita cerdas di bidang kesenian, tidak bisa kita “goblokkan” hanya gara-gara anak lain mendapatkan nilai 9 di bidang matematika dan anak kita mendapatkan nilai di bawah 9.

Paradigma ini keliru dan patut dibenahi agar generasi bangsa tidak terjebak pada generasi hafalan yang pintar di kepala, namun minim di bidang lainnya. Demikian kritik Rhenald Kasali memberikan motivasi peserta yang sebagian besar diikuti pengusaha muda dan mahasiswa.


(Lismanto)

0 Response to "Rhenald Kasali Kritik Metode Peringkat Kelas dalam Sistem Pembelajaran di Indonesia"

Post a Comment