Banjir dan Konservasi Pati

Oleh Hamidulloh Ibda
Ketua Umum Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Cabang Pati 2011-2013, Mahasiswa Pascasarajana Universitas Negeri Semarang

Banjir yang melanda Pati, Kudus dan sekitarnya memberikan ledakan kesadaran bagi masyarakat dan kritik bagi pemerintah untuk serius menangani bencana. Akan tetapi sebenarnya akar banjir tidak hanya akibat gundulnya hutan, namun juga tidak adanya konservasi alam di semua tempat.

Jika sekadar reboisasi, menurut penulis belum mampu menjadi formula jitu mencegah banjir, namun juga perlu “konservasi alam” di wilayah Pati dan Pantura pada umumnya. Pasalnya, reboisasi hanya salah satu jalan untuk mencegah banjir, terbukti dengan banjir di 40 desa di Kabupaten Pati tak lama ini. Reboisasi hanya bisa dilakukan masyarakat sekitar hutan, namun belum bisa dilakukan warga yang berada di kota. Padahal, akar banjir tidak hanya bencana alam, namun juga dosa sosial akibat moral manusia dan keserakahan pemimpin. Maka dari itu, perlu adanya konservasi untuk menjawab bencana banjir Pati.

Akar banjir Pati

Secara sederhana banjir terjadi karena adanya air hujan berlebihan. Banjir juga menjadi bukti “ekspresi alam” terhadap perbuatan manusia. Karena selama ini, masyarakat Pati dan sekitarnya apatis terhadap alam, mulai dari penebangan dini pohon Jati, Mindi, Akasia, Mahoni, Sengon, Trembesi dan sebagainya, serta membuang sampah sembarangan dan “cuek” terhadap pelestarian alam. Maka tak heran jika Pati dan daerah sekitarnya termasuk bencana terluas di Indonesia.

Banjir di Kota Bumi Mina Tani merupakan komplikasi dari berbagai macam penyebab. Mulai dari sistem tata kota yang semakin hari semakin tidak teratur, pembangunan gedung-gedung baru tanpa ramah lingkungan dan peran pemerintah yang “setengah hati” dalam melakukan reboisasi di kawasan hutan Pati.

Bencana banjir melanda Pati dan sekitarnya harus menjadi “introspeksi akbar” untuk melakukan perbaikan di semua aspek. Karena  akibat banjir tersebut, masyarakat gagal panen dan kerugian ekonomi yang diderita warga Pati dan sekitarnya cukup besar. Jadi, pemerintah, masyarakat, aktivis alam harus bersinergi menciptakan konservasi Pati agar menjadi formula cerdas mencegah banjir. Pascabanjir, pemerintah Pati dan semua elemen harus menerapkan formula konservasi sebagai jawaban atas komplikasi alam yang terjadi.

Konservasi Pati


Di Jawa Tengah, konservasi merupakan gagasan yang diusung pertama kali oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebagai bukti kepedulian dan keramahan terhadap persoalan lingkungan, karena persoalan lingkungan merupakan persoalan dunia. Konservasi bisa dilakukan di berbagai hal, bisa alam, sosial, moral dan konservasi kota. Lalu, apakah Pati bisa menjadi wilayah konservasi? Tentu bisa.

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, kawasan konservasi diartikan sebagai kawasan yang ditetapkan pemerintah sebagai kawasan suaka alam yaitu cagar alam dan suaka margasatwa, kawasan pelestarian alam yaitu taman nasional, taman wisata alam dan taman hutan raya, dan taman buru. Gagasan Pati untuk menjadi “kota konservasi” sangat berat, maka yang terpenting “ruh konservasi” bisa diterapkan di Kota Bumi Mina Tani.


Prof Dr Sudijono Sastroatmodjo MSi (2012) menjelaskan konservasi merupakan harga mati yang tak bisa lagi ditawar untuk melestarikan lingkungan dan mencegah bencana alam. Jika ingin menerapkan konservasi, pemerintah Pati harus memperhtikan 7 pilar konservasi, meliputi arsitektur hijau dan transportasi internal, biodiversitas, energi bersih, seni budaya, kaderisasi konservasi, kebijakan nir kertas dan pengolahan limbah. Pati sebagai wilayah yang terkena banjir harus mulai berbenah di berbagai hal. Pascabanjir, gagasan konservasi harus diwujudkan dan dijadikan rumusan pemerintah untuk mengatasi musibah alam. Untuk mewujudkan konservasi perlu keseriusan semua elemen, baik jangka panjang dan pendek.


Pertama, konservasi Pati bisa dilakukan dengan melakukan gerakan pemeliharaan dan perlindungan alam sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan dan melestarikan alam.

Kedua, pengelolaan sumber daya alam (hayati) dengan mamanfaatkannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keragamannya. Apalagi, hutan di Bumi Mina Tani gersang dan botak sejak tragedi penggundulan tahun 1998-1999. Pemerintah dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) Pati juga harus mempertegas regulasi kepemilikan “mburgan” (hutan yang dikelola masyarakat) untuk tidak ditebangi secara liar.

Ketiga, untuk mengurangi debit sungai hasil hujan harus dilakukan reboisasi di wilayah hulu, sehingga air hujan terserap dan tidak lari ke sungai. Mengurangi debit sungai dengan membangun danau atau embung-embung. Pemerintah perlu melakukan normalisasi sungai  hilir, tengah dan hulu agar air mengalir normal, tidak meluap, seperti sungai di sepanjang Demak, Kudus, Jepara, Pati dan Juwana.

Keempat, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika sungai penuh sampah, aliran sungai jadi macet dan air meluap menjadi banjir. Maka konservasi dan penyadaran masyarakat dapat memecahkan masalah sampah di Pati.

Kelima, pemerintah Pati perlu membuat sistem penyerapan air limbah rumah tangga seperti sumur resapan, pralon, septic tank dan sebagainya. Penelitian Prof Dr Dewi Liesnoor Setyowati MSi (2002) menjelaskan pentingnya resapan air sebagai salah satu cara mengantisipasi banjir di kawasan rawan bencana banjir.

Selain alam, konservasi moral, budaya, pendidikan dan birokrasi harus digencarkan semua masyarakat Pati. Itu menjadi penting karena banjir tidak sekadar bencana alam, namun juga bencana sosial.

Jiwa konservasi harus tumbuh di benak warga Pati pascabanjir. Hal itu merupakan amanat alam yang harus dijalankan dengan segera. Konsekuensi dari hal itu, semua lini di Kota Bumi Mina Tani harus menjaga alam, membenahi moral sebagai wujud konservasi. Konservasi memang bukan segalanya, namun segalanya termasuk mencegah banjir bisa berawal dari sana.

0 Response to "Banjir dan Konservasi Pati"

Post a Comment