Hukum Ekonomi Islam dalam Hadis

Hadis adalah sumber kedua dalam perundang-undangan Islam. Di dalamnya dapat kita jumpai khazanah aturan perekonomian Islam, di antaranya seperti sebuah hadis yang isinya memerintahkan untuk menjaga dan melindungi harta, baik milik pribadi maupun umum serta tidak boleh mengambil yang bukan miliknya.

"... Sesungguhnya (menumpahkan) darah kalian, (mengambil) harta kalian, (mengganggu) kehormatan kalian haram sebagaimana haramnya hari kalian saat ini, di bulan ini, di negeri ini….” (HR. Bukhari).

Dalam konteks hukum Islam, sunnah yang secara harfiah berarti “cara, adat istiadat, kebiasaan hidup” mengacu pada perilaku Nabi SAW yang dijadikan teladan; sunnah sebagian besar didasarkan pada praktek normatif masyarakat di zamannya. Pengertian sunnah jadi mempunyai arti tradisi yang hidup pada masing-masing generasi berikutnya.

Sebagai sumber hukum ekonomi Islam, hadis memberi gambaran perilaku Rasulullah dalam melakukan kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan Beliau dan sesuai dengan dengan tujuan syar’i.

Contoh hadist tentang kesucian hak milik

Dari Abu Hurairah tentang seseorang yang bertanya pada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika ada orang yang ingin mengambil hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan kamu berikan hartamu kepadanya!” Ia bertanya lagi, "Jika ia menyerang untuk membunuhku?” Beliau menjawab, "Seranglah ia!” Ia bertanya lagi, "Bagaimana pendapat anda jika bila ia membunuhku?” Beliau menjawab, "Kamu adalah seorang yang syahid.” Ia bertanya lagi, "Bagaimana bila saya membunuhnya?” Beliau menjawab,” ia masuk neraka."

0 Response to "Hukum Ekonomi Islam dalam Hadis"

Post a Comment