Makna Kepo, Narsis dan Alay


Makna Kepo, Narsis dan Alay
Oleh Hamidulloh Ibda
Pegiat Kajian Filologi pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Direktur Eksekutif Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah

Saat berbicara dengan beberapa teman, di facebook, twitter dan ponsel, sering penulis jumpai idiom “kepo, narsis dan alay”. Sontak, penulis heran, bingung dan ingin mengkaji epistemologi dan filologi bahasa tersebut. Karena di era digital seperti ini, perkembangan bahasa begitu cepat. Ia berkembang biak seperti manusia, beranak-pinak dan selalu bertambah laiknya populasi manusia.

Sebagai pegiat filologi dan bahasa Indonesia, sangat menarik untuk mendekonstruksi bahasa-bahasa aneh yang sering digunakan remaja dan pemuda saat ini. Pasalnya banyak di antara mereka yang menggunakan bahasa tersebut dengan fasih, namun jika ditanya artinya apa, mereka tidak tahu seluk-beluknya. Mereka hanya praktis memakai sebagai pengguna bahasa modern dan berbau slang. Meskipun tidak tahu artinya, namun mereka PD (percaya diri) menggunakan ragam bahasa tersebut.

Memilih Ragam Bahasa

Dalam dunia bahasa, masyarakat dianjurkan memilih bahasa yang mudah dipahami, renyah, gurih dan mudah dicerna. Bahasa di sini tidak harus sesuai EYD, namun pemilihan “ragam bahasa” menjadi penting daripada pemilih bahasa itu sendiri. Setahu penulis, ragam atau variasi bahasa itu adalah bentuk atau wujud bahasa yang ditandai oleh ciri-ciri linguistik tertentu, seperti fonologi, morfologi dan sintaksis.

Dalam paradigma linguistik ada beberapa pembagian ragam bahasa. Pertama, berdasarkan pokok pembicaraan, ragam bahasa dibedakan antara lain ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa sastra.

Kedua, berdasarkan media pembicaraan, ragam bahasa dibedakan atas ragam lisan yang antara lain meliputi ragam bahasa cakapan, ragam bahasa pidato, ragam bahasa kuliah dan ragam bahasa panggung. Sedangkan ragam tulis yang antara lain meliputi ragam bahasa teknis, ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa catatan dan ragam bahasa surat.

Ketiga, ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibedakan menurut akrab tidaknya pembicara meliputi ragam bahasa resmi, ragam bahasa akrab, ragam bahasa agak resmi, ragam bahasa santai dan sebagainya.

Artinya, ragam bahasa itu harus dipilih dan digunakan ketika kondisi formal, non formal dan santai. Formal ketika saat di sekolah, kampus dan biasanya dipakai acara resmi, kantor, birokrasi dan kenegaraan, begitu pula dengan non formal yang digunakan di dalam kondisi selain acara formal. Sedangkan ragam santai digunakan ketika kondisi santai saat mengobrol dengan teman sebaya, berbincang-bincang dengan keluarga dan sebagainya. Ini harus dipahami semua orang agar tidak terlalu ndakik-ndakik dalam menggunakan bahasa.

Karena banyak orang mengira dengan menggunkan bahasa Inggris atau bahasa asing, ia bisa dikatakan sebagai “orang hebat” dan “pandai berbahasa”. Padahal hakikatnya tidak demikian, justru orang seperti itu tidak tahu dan tidak bisa “memilih ragam bahasa” yang tepat, termasuk idiom narsis, alay dan kepo. Ini merupakan ilmu sederhana, namun sedikit orang yang paham.

Terlepas dari itu, saat ini pemuda memang sering memilih ragam bahasa slang. Artinya, mereka memilih ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern dangan maksud agar yang tidak anggota kelompok tidak mengerti. Itulah bahasa slang yang sering digunakan para pemuda yang tingkat keimanan pada EYD sangat kurang.

Makna Kepo

Kepo. Dalam EYD bahasa Indonesia tidak ada istilah kepo. Bahasa ini hanya bahasa slang. Satu akar kata dengan kepo adalah kepol artinya pergi, kepoh artinya menangkis dan mementalkan, sedangkan kepodang itu burung pemakan serangga, buah-buahan dan berbulu kuning. Kepo dalam bahasa slang diartikan sebagai akronim dari knowing every particular object. Artinya, sebutan untuk orang yang serba tahu detail dari sesuatu.

Berarti apakah orang kepo itu orang “laduni” begitu? Atau jika indikatornya akademisi ia bergelar doktor (Dr) atau profesor (Prof)? Karena Prof/Dr adalah seorang yang tahu segala hal dan ilmunya mendalan di bidang tertentu. Berarti, para dosen, doktor dan profesor adalah kepo, benarkah?

Menurut penulis, kepo itu bukan mengetahui segala hal secara detail, namun kepo adalah sebutan untuk orang yang “sok tahu”. Ini boleh dibenarkan dan boleh ditolak. Karena pada dasarnya, bahasa adalah hasil kesepatakan dari sekelompok orang tertentu. Jika Anda menggunakan bahasa kepo untuk menyebut orang yang sok tahu, hal itu sah-sah saja. Karena kepo adalah orang yang “sok pintar”, dan ketika ada orang yang kelihatan sok tahu, maka dia disebut kepo.

Makna Narsis

Selain kepo, narsis juga sering terdengar di telinga kita. Biasanya, jika ada seorang yang suka pamer, sok ganteng, sok cantik, sok kaya dikatakan “narsis”. Jadi, narsis itu digunakan untuk menyebut orang yang suka pamer. Padahal di dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) tidak demikian. 

Di dalam KBBI, narsis itu merupakan tumbuhan berbunga putih, krem, atau kuning, terdapat di daerah subtropis. Narsis itu Amarylidaceae atau bunga narsis. Sedangkan narsisme, adalah hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan. Bisa juga keadaan mempunyai kecenderungan/keinginan seksual dengan diri sendiri.


Sigmund Freud (1914) dalam karyanya “On Narcissism: An Introduction” menjelaskan “narsisisme” dari bahasa Inggris atau “narsisme” dari bahasa Belanda diartikan sebagai perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist). Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.

Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir. Andrew Morrison (1997) dalam karyanyna “Shame: The Underside of Narcissism” juga  berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia.

Sifat narsis berarti berlebihan. Semua yang berlebihan tidak baik bagi dan untuk siapa saja. Semua harus seimbang dan pas. Bahkan, konsep Islam menyuruh manusia hidup sesuai kebutuhan, karena berlebihan (mubaddir) merupakan teman setan. Jadi, orang narsis adalah “teman setan”. Apakah Anda tetap narsis?

Makna Alai

Selain kepo dan narsis, kata “alay” juga menjadi bahasa tren pemuda saat ini. Dari beberapa pengertian, alay merupakan singkatan dari “anak layangan, anak lebay, anak layu, atau anak kelayapan”. Alay sering diidentikan dengan pemuda yang kelayapan dan jarang pulang. Idiom ini sering digunakan para pemuda yang awalnya berasal dari desa. Karena sebenarnya, tingkat “alay” berlebihan itu melekat pada anak desa. Mereka sok keren tapi rata-rata dari kampung yang suka minum-munuman keras, berkuku panjang, rambutnya merah karena suka bermain layang-layang. Maka, disebutklah mereka alay.

Karena populer dan menjadi “bahasa slang” para pemuda, maka tak heran jika idiomatik ini diabadikan dalam sebuah lagu berjudul “Alay (anak layangan)” yang dipopulerkan Lolita salah satu penyanyi dangdut. Entah apa arti substansialnya, namun kata alay sudah membumi di kalangan remaja. Jika ada remaja sok keren, maka disebutklah alay.

Sedangkan menurut penulis sendiri, alay atau alai adalah “kedaung”. Anda tahu kedaung? Kedaung adalah pohon kayu besar yang berbuah polong (seperti buah petai), dapat dibuat obat, bijinya berwarna hitam. Jika Anda alai, berarti Anda petai.

Jika ditelisik lebih dalam, kata alay memang berhubungan dengan narsis karena sama-sama “berlebihan”. Maka, sebenarnya puncak dari alay adalah berlebihan dalam segala hal. Padahal, mubaddirin atau orang-orang yang berlebihan adalah teman setan. Jadi, narsis dan alay adalah teman setan. Lalu, akankah Anda tetap menjadi alay dan narsis? Anda punya pilhan!

0 Response to "Makna Kepo, Narsis dan Alay"

Post a Comment