Pacaran dalam Pandangan Syariat Islam

pacaran dalam pandangan syariat Islam
Oleh Muhammad Taufik

Mahasiswa STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta; Pengajar di Pesantren Tahfidzul Quran Imam 'Ashim Depok
Moralitas sebagian besar pemuda-pemudi Islam di negeri ini semakin lama semakin tidak jelas ,diterpa angin, remang-remang, dan kabur. Terkadang mereka melakukan sesuatu yang katanya mengikuti trend dan perkembangan zaman. Bahkan, tidak jarang diberitakan oleh media-media sampai melakukan bunuh diri karena melahirkan anak di luar nikah yang berawal dari pacaran. Sungguh ini telah sangat melampaui batasan-batasan moral dalam Islam.

Berbicara moralitas pada hakikatnya adalah berbicara tentang batasan-batasan dan garis pemisah. Batas tersebut membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk, serta  pantas dan tidak pantas. Moralitas selalu berkaitan dengan sebuah ruang yang di dalamnya ada sebuah kawasan yang boleh dilalui dan ada pula sebuah kawasan yang tidak boleh dilalui, ada prilaku yang dibolehkan dan ada pula prilaku yang  dilarang. Tentunya dalam hal ini berdasarkan Quran dan Hadits.

Batasan pergaulan dalam pacaran

Dalam Islam, pergaulan antara laki-laki dan perempuan dibagi menjadi dua, yaitu hubungan muhrim dan nonmuhrim. Hubungan muhrim adalah seperti yang tertera dalam surat An-Nisa: 23, yaitu muhrim seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung maupun sebapak), bibi (dari bapak maupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung maupun sebapak), anak perempuan (baik itu asli maupun tiri dan termasuk di dalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Sedangkan selain dari yang terdapat dalam ayat tersebut adalah nonmuhrim.

Aturan untuk pergaulan sesama muhrim sudah jelas, yaitu seorang laki-laki boleh berkhalwat (berduaan) dengan muhrimnya, seperti seorang ayah dengan putrinya, kakak laki-laki dengan adik perempuannya, dan seterusnya. Demikian pula dibolehkan bagi perempuan untuk tidak berjilbab di depan muhrimnya. Adapun hubungan nonmuhrim yaitu tidak boleh berkhalwat (berduaan) dan larangan melihat tanpa berjilbab.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu bisa melakukan zina, kedua kaki itu bisa melakukan zina, dan semuanya itu akan dibenarkan dan diingkari oleh alat kelamin.

Rasulullah saw. pernah berpesan kepada Ali yang artinya, jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh. Al-Hakim meriwayatkan, hati- hatilah kamu dari bicara-bicara dengan wanita, sebab tiada seorang laki-laki yang sendirian dengan wanita yang tidak ada muhrimnya melainkan ingin berzina padanya. Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat, karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya, dan lebih jauh lagi terjerumus ke zina badan dengan saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya.

Di dalam kitab Dzam al-Hawa, Ibnu al-Jauzi menyebutkan dari Abu al-Hasan al-Waifdz, bahwa dia berkata, Ketika Abu Nashr Habib al-Najjar al-Waidz wafat di kota Basrah, dia dimimpikan berwajah bundar seperti bulan di malam purnama. Akan tetapi, ada satu bintik hitam di wajahnya. Maka orang yang melihat bintik hitam itu pun bertanya kepadanya. Wahai Habib, mengapa aku melihat ada bintik hitam di wajahmu? Dia menjawab, pernah pada suatu ketika aku melewati kabilah Bani Abbas. Di sana aku melihat seorang anak Amrad dan aku memperhatikannya. Ketika aku telah menghadap Tuhanku, Dia berfirman, wahai Habib? Aku menjawab, aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Allah berfirman, lewatlah kamu di atas neraka. Maka, aku melewatinya dan aku ditiup sekali sehingga aku berkata, aduh (karena sakitnya). Maka. Dia memanggilku, satu kali tiupan adalah untuk satu pandangan. Seandainya kamu berkali-kali memandang, pasti Aku akan menambah tiupan (api neraka).

Pacaran dan budaya masa kini

Fenomena yang terjadi sekarang ini jelas sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Berdasarkan dalil-dalil di atas, jangankan berkhalwat (berduaan), saling berpandangan saja sudah mendapat dosa, apalagi melebihi dari itu. Mirisnya lagi, para pelaku pacaran itu pun berdalih dengan alasan untuk mengenal pasangan hidup lebih jauh sebelum melanjut ke pernikahan, untuk mencari kecocokan terhadap pasangan, bahkan ada pula yang mengatakan supaya lebih semangat dalam belajar, bekerja, dan beribadah. Padahal itu jelas bertolak belakang dengan Quran dan Hadits. Namun, bukan berarti tidak ada solusi dalam Islam untuk berhubungan dengan nonmuhrim.

Dalam Islam, suka terhadap lawan jenis merupakan fitrah dan sudah sunatullah (hukum alam). Namun dalam hal ini, hubungan nonmuhrim dapat diakomodasikan dalam lembaga perkawinan melalui proses khitbah (lamaran) dan pernikahan. Apabila belum mampu menikah, maka dianjurkan untuk berpuasa sebagaimana sabda Rasulullah: Wahai golongan pemuda, barang siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Akan  tetapi, barang siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.

Selain dua hal tersebut, baik itu dinamakan hubungan teman, pergaulan laki-laki perempuan tanpa perasaan, hubungan profesional, ataupun pergaulan guru dan murid, bahkan pergaulan antar-tetangga yang melanggar aturan di atas adalah haram, meskipun Islam tidak mengingkari adanya rasa suka atau bahkan cinta.

Oleh karena itu, marilah kita mulai hidup ini dengan bersungguh-sungguh dan jangan bermain-main. Kita berusaha dan berdoa mengharap pertolongan Allah agar diberi kekuatan untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Hidup di dunia yang singkat ini kita siapkan untuk memperoleh kemenangan di hari akhirat kelak. Wallahu a`lam bi al-shawab.

0 Response to "Pacaran dalam Pandangan Syariat Islam"

Post a Comment