Kondangan sebagai Khazanah Budaya Jawa


Salah satu tradisi kondangan di Blora, Jawa Tengah
SEMARANG, Islamcendekia.com – Kondangan, selama ini hanya dipahami sebagai pergi menghadiri undangan perkawinan untuk mengucapkan selamat dan mendoakan. Namun, dalam tradisi Jawa, kondangan merupakan acara “selametan”, baik itu acara pernikahan, syukuran ketika mendapat rezeki, memperingati hari kelahiran/kematian, acara kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dan sebagainya.

Menurut salah satu pegiat pendidikan dan budaya, Dian Marta Wijayanti, kondangan merupakan hasil percampuran budaya Jawa, Islam dan Hindu-Budha, yang terwujud dalam suatu kegiatan doa-doa dan makan-makan. “Kondangan merupakan ekspresi rasa syukur atas nikmat dari Tuhan,” tuturnya pada Islamcendekia.com pada Rabu (26/3/2014). Kondangan juga disebut disebut sebagai perjamuan makan untuk memperingati peristiwa. Sedangkan berkat (bungkusan makanan) merupakan istilah dari “dibrekkan” dan “diangkat”.

Sedangkan menurut pendapat lain, kondangan berasal dari bahasa Arab, kun (ada) da’a (doa). Jadi, kondangan merupakan perkumpulan yang di situ ada doa-doa dan makanan sebagai rasa syukur. Ada juga pendapat kondangan berasal dari "kondang mangan" (disuruh segera makan). Meskipun kondangan dalam hukum Islam masih simpang siur, namun sebenarnya hal itu tergantung niat dari orang yang melakukan. “Jika niat baik dan suci, semua menjadi boleh asalkan tujuannya mendekatkan diri pada Tuhan,” tutur Dian Marta Wijayanti yang juga guru SDN Sampangan 1 Kota Semarang.

Menurut Dian, di Desa Tunjungan, Blora, banyak sekali ritual kondangan dengan berbagai acara. Bahkan, sebelum membuat sumur pun harus ada kondangan agar tidak terjadi bencana. “Meskipun sederhana dan tidak terlalu agamis, kondangan menjadi tradisi dan kekayaan orang Jawa yang harus dilestarikan,” pungkasnya.

Reporter: Hamidulloh Ibda

0 Response to "Kondangan sebagai Khazanah Budaya Jawa"

Post a Comment