Landasan Hukum Kewajiban Zakat Profesi

Jatuhnya kewajiban zakat dari hasil profesinya tersebut dikarenakan yang bersangkutan mendapatkan gaji terus menerus sepanjang tahun. Apabila jumlah gajinya telah mencapai nisab dalam satu tahun, maka ditetapkan untuk wajib mengeluarkan zakat karena terdapat illat (penyebab) yang menurut Fuqoha adalah sah dan nisab merupakan landasan di wajibkannya zakat.

Berdasarkan uraian di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa setiap keahlian dan pekerjaan apapun yang halal, baik yang dilakukan sendiri maupun yang terkait dengan pihak lain, seperti seorang pegawai atau karyawan, apabila penghasilan dan pendapatannya mencapai nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya.

Landasan hukum kewajiban zakat profesi

Semua penghasilan melalui semua kegiatan apabila telah mencapai nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan nash-nash yang bersifat umum, misalnya firman Allah dalam surat at-Taubah: 103 dan al-Baqarah: 267 dan juga surat adz-Dzaariyaat: 19 yang berbunyi: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian."

Sayyid Quthub dalam tafsirnya fi zhilalil-Qur’an ketika menafsirkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 267 menyatakan bahwa nash ini mencakup seluruh hasil usaha manusia yang baik, halal dan mencakup pula seluruh yang dikeluarkan Allah SWT dari dalam dan atas bumi, seperti hasil pertanian, maupun hasil pertambangan seperti minyak. Karena itu nash ini mencakup semua harta, baik yang terdapat di zaman Rasulullah saw, baik yang sudah diketahui secara langsung, maupun yang di qiyaskan kepadanya. Al Qurthubi menyatakan bahwa yang dimaksud pada sutat adz-Zaariyaat: 19 zakat yang diwajibkan artinya semua  harta yang yang dimiliki dan semua penghasilan yang didapatkan, jika telah memenuhi persyaratan kewajiban zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya.

0 Response to "Landasan Hukum Kewajiban Zakat Profesi"

Post a Comment