Macam-macam Hak dalam Islam

Macam-macam hak dalam Islam biasanya dikemukakan oleh fuqaha atau ulama fikih di mana masing-masing fuqaha memiliki kecenderungan definisi dan klasifikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian, pada dasarnya klasifikasi dan definisi tersebut secara substansi sama. Ulama fiqih mengemukakan bahwa macam-macam hak dilihat dari berbagai segi, yaitu:

1. Dari segi pemilik hak

Dilihat dari segi ini, hak terbagi menjadi tiga macam :

a) Hak Allah SWT, yaitu seluruh bentuk yang dapat mendekatkan diri kepada Allah mengagungkan-Nya, seperti melalui berbagai macam ibadah, jihad, amar ma’ruf nahi munkar. 
Hak Allah SWT terealisasi dalam dua hal, yaitu :

1) Hak taqarrub, yaitu hak-hak Allah atas manusia untuk mengagungkan dan melaksanakan syiar-syiar agamanya, seperti shalat, puasa, haji, zakat, jihad, nazar, dan amar ma’ruf nahi munkar.

2) Hak publik (al-haq al’am), yaitu hak Allah atas semua manusia untuk mewujudkan kemaslahatan umum, seperti tidak berbuat kejahatan, pelaksaan hukuman zina, tuduhan palsu, pencurian, minuman keras, pelaksanaan hukuman ta’zir atas berbagai  pelanggaran umum seperti perilaku monopoli dalam dagang, dan penjagaan barang-barang milik umum seperti sungai, jalan, masjid, dan lain sebagainya.

b) Hak manusia (haq al-‘ibad), yaitu hak yang  pada hakikatnya untuk memilihara kemaslahatan setiap pribadi manusia. Hak ini ada yang bersifat umumseperti menjaga (menyediakan) sarana kesehatan, menjaga ketentraman, melenyapkan tindakan kekerasan (pidana) dan tindakan-tindakan lain yang dapat merusak tatanan masyarakat pada umumnya.

Kemudian ada lagi hak manusia yang bersifat khusus, seoerti menjamin hak milik seseorang, hak isteri mendapatkan nafkah dari suaminya, hak ibu memelihara anaknya, dan hak berusaha (berikhtiar) dan lain-lain yang sifatnya untuk pribadi (individu).

Mengenai hak manusia ini, seseorang boleh menggugurkan haknya, memaafkanya, mengubahnya dan boleh pula mewariskannya kepada ahli waris. Jadi, ada kebebasan berbuat dan bertindak atas dirinya sendiri.

c) Hak gabungan antara hak Allah SWT dan hak manusia (al-haq al-musytarak)
Mengenai hak  ini, adakalanya hak Allah yang lebih dominan (lebih berperan) dan adakalanya hak manusia yang lebih dominan. Umpamanya dalam masa ” iddah” terdapat dua hak, yaitu hak Allah terhadap pemeliharaan terhadap nasab janin dari ayahnya, agar tidak bercampur dengan nasab suami kedua. Disamping itu juga terdapat hak manusia, yaitu pemeliharaan terhadap nasab anaknya. Dalam kasus ini, hak Allah lebih dominan, karena pemeliharaan terhadap nasab seseorang merupakan kepentingan setiap orang dan termasuk hak masyarakat. Karena itu hak-hak tersebut tidak dapat dimaafkan digugurkan atau diubah.

Contoh lain ialah menjaga atau melindungi manusia (hidupnya, akalnya, kesehatanya, dan hartanya). Dalam masalah ini ada dua hak, yaitu hak Allah dan hak manusia, tetapi hak Allah lebih dominan, karena manfaat menyeluruh kepada masyarakat banyak.

Kemudian hak manusia dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Hak yang dapat digugurkan
Pada dasarnya, seluruh hak yang berkaitan dengan pribadi, bukan yang berkaitan dengan harta benda, (materi) dapat digugurkan.

b) Hak yang tidakdapat digugurkan
Hak yang belum tetap.
Hak yang dimiliki seseorang secara pastiberdasarkan atas ketetapan syara’.
Hak-hak yang apabila digugurkan berakibat pada perubahan hukum-hukum syara’.
Hak-hak yang di dalamnya terdapat hak orang lain.

Kemudian Ulama fiqih juga membagi hak pewarisan. Macam-macam hak waris dalam Islam adalah sebagai berikut:

a) Hak-hak yang dapat diwariskan
Hak yang dapat diwariskan menurut Ulama Fiqih diantaranya adalah hak-hak yang dimaksudkan sebagai suatu jaminan atau kepercayaan.

b) Hak-hak yang tidak dapat diwariskan
Mengenai hak-hak yang tidak dapat diwariskan, Ulama fiqih berbeda pendapat. Mahzab Hanafi berpendapat, bahwa hak dan manfaat tidak dapat diwariskan, karena yang dapat diwariskan hanya soal materi (harta benda) saja, sedangkan hak dan manfaat, tidak termasuk materi. Akan tetapi jumhur ulama fiqih berpendapat, bahwa warisan itu tidak hanya materi, hak dan manfaat juga mempunyai nilai sama dengan harta benda.

2. Dari segi obyek hak

a. Hak maali 
Hak yang berhubungan dengan harta seperti hak penjual terhadap harga barang yang di jualnya dan hak pembeli terhadap barang yang dibelinya.

b.  Hak ghairu maali
Hak-hak yang tidak berkaitan dengan harta benda atau materi seperti hak suami untuk mentalak istrinya karna mandul.

c. Hak asy-sakhsyi
Hak-hak yang ditetapkan syara’ bagi pribadi berupa kewajiban terhadap orang lain seperti hak penjual untuk menerima harga barang yang dijualnya.

d.  Hak al-aini 
Hak seseorang yang ditetapkan syara’ terhadap suatu dzat sehingga ia memiliki kekuasaan penuh untuk menggunakan dan mengembangkan haknya itu seperti hak memiliki suatu benda.

e. Hak mujarrad dan ghairu mujarrad 
Hak mujarrad adalah hak murni yang tidak meninggalkan bekas apabila di gugurkan melalui perdamaian atau pemanfaatan. Hak ghairu mujarrad adalah suatu hak yang apabila diguugurkan atau dimaafkan meninggalkan bekas terhadap orang yang dimaafkan.

3. Dari segi kewenangan pengadilan (hakim) terhadap hak tersebut
Dari segi ini ulama fiqih membaginya kepada dua macam:

a. Hak diyaani (keagamaan) 
Hak-hak yang tidak boleh dicampuri atau intervensi oleh kekuasaan kehakiman. Misal dalam persoalan hutang yang tidak dapat dibuktikan oleh pemberi utang, karana tidak cukup alat-alat bukti didepan pengadilan. Sekalipun tidak dapat dibuktikan didepan pengadilan, maka tanggung jawab yang berhutang dihadapan Allah tetap ada dan di tuntut pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Oleh sebab itu, bila lepas dari hak kekuasaan kehakiman, seseorang tetap di tuntut di hadapan Allah dan di tuntut hati nuraninya sendiri.

b. Hak qadhaai 
Seluruh hak di bawah kekuasaan pengadilan atau hakim dan pemilik hak itu mampu membuktikan haknya di depan hakim. Misal seseorang yang mentalakkan istrinya dalam keadaan slaah, yaitu dia tidak bermaksud tidak menjatuhkan talak seorang hakim dalam hal ini menetapkan talak itu jatuh, karena melihat lahirnya dan tidak mengetahui hakikatnya (batin) orang itu. Sedangkan dilihat dari hak diyaani, talak itu tidak jatuh, dan dalam hal ini sangat bergantung antara orang itu dengan Allah, karena memang pada hakikatnya dia tidak mentalakkan istrinya.

Referensi:

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalah), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,  2003


Muhammad, Alimin,  Etika dan Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2000

1 Response to "Macam-macam Hak dalam Islam"

  1. terimakasih banyak, membantu sekali :)

    ReplyDelete