Masa Disintegrasi Islam

Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayyah di Andalusia Spanyol. Di satu sisi Abd al Rahman al Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika masa itu), sedangkan disisi yang lain ia tidak tunduk pada khalifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abd rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap ali bin abi tholib.  Sebagaimana telah kita ketahui bersama hanya pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Pada periobe sesudahnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama dibidang politik.

Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap kholifah cenderung ingin lebih mewah dari pendahulunya, kehidupan mewah khalifah-khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Kecenderungan bermewah-mewah serta ditambah dengan kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kekuasaan bani Abbas di dalam khalifah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar dan hal ini merupakan awal dari keruntuhan dinasti Abbasiyah, meskipun setelah kejadian tersebut usianya masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun. 

Masa disintegrasi

Semenjak pemerintahan Harun ar-Rasyid (786-809M/170-194H)  dikatakan bahwa pada masa itu terjadi masa keemasan Bani Abbasiyah. Tetapi pada waktu inilah terjadi benih benih disintegrasi tepatnya saat penurunan tahta. Harun ar-Rasyid telah mewariskan tahta kekhalifahan pada putranya yaitu Al-Amin dan putera yang lebih muda yaitu al-Ma’mun (saat itu menjabat sebagai gubernur khurasan). Setelah wafatnya harun al-Rasyid , al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Inilah yang akhirnya menjadi awal masa perpecahan, yang akhirnya dimenangkan oleh al-Ma’mun.

Pada masa kekhalifahan al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M) juga mengalami didintegrasi yang menyebabkan munculnya dinasti Thaahiriyah yang didirikan oleh Thahir. Beliau diangkat menjadi jendral militer Abbasiyah karena telah membantu dalam memperebutkan kekuasaan al-Amin. Pemberian jabatan ini dimaksudkan agar al-Ma’mun dapat menjalin kerja sama dengan kalangan elit yang dinaungi oleh Thahir. Namun upaya untuk menyatukannya tidak dapat terwujud dan akhirnya kekuasaan dikuasai oleh penguasa gubernur besar.

Dalam periode pertama,sebenarnya banyak tantangan dan gangguan yang dihadapi dinasti Abbasiyah. Beberapa gerakan politik yang merongrong pemerintah dan mengganggu stabilitas muncul dimana-mana, baik gerakan di kalangan intern Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Namun semuanya dapat diatasi dengan baik. Keberhasilan penguasa Abbasiyah mengatasi gejolak dalam negeri ini semakin memantapkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Kekuasaan betul-betul berada ditangan khalifah. Keadaan ini sangat berbeda dengan periode sesudahnya. Setelah periode pertama berlalu, kekuatan khalifah mulai melemah, mereka berada dibawah pengaruh kekuasaan lain. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara professional asal Turki untuk menguasai kakuasaan.

Kekuasaan turki tidaklah selamanya mengalami kejayaan, pada akhir periode kedua, pemerintahan tentara turki mulai melemah dengan sendirinya, didaerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan dinasti-dinasti kecil. Inilah yang menjadi permulaan masa disintegrasi dalam sejarah plitik islam.

Faktor kemunduran dinasti abbasiyah

Adapun faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah pada periode ini, sehingga banyak daerah  memerdekakan diri adalah:

1) Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah sementara komunikasi  pusat dengan daerah sulit dilakukan. Rasa saling percaya di kalangan penguasa dan pelaksana pemerintah sangat lemah. 
2) Dengan profesionalisai angkatam bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
3) Keuangan Negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad. 
4) Beberapa orang khalifah Abbasyiah, seperti Al-Makmun, Al-Mu’tasim, Al-Watsik, amat terpengaruh oleh bid’ah-bid’ah agama yang mengakibatkan bertumbuhnya bermacam-macam mazhab dan pengotak-kotakan umat Islam, sehingga mereka terpecah-pecah dalam berbagai macam partai dan golongan. 
5) Ancama dari luar banyaknya pemberontakan, bani fatimiyyah (syi’ah) berdiri di Mesir, serangan dinasti mongol dipimpim Hulagu Khan, Bagdad rata dengan tanah dan berakhirlah masa dinasti Abbasyiah.

Referensi:

Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005 ), hlm. 117
Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 111
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), hlm. 61-62

0 Response to "Masa Disintegrasi Islam"

Post a Comment