Melestarikan Budaya Tarup Blora

Melestarikan Budaya Tarup Blora
Ilustrasi tradisi tarup di Blora. Foto: Hamidollah Ibda
BLORA, Islamcendekia.com - Di tengah gempuran globalisasi, modernisasi dan pergeseran budaya Indonesia, masyarakat Jawa harus kuat dan pandai-pandai membentengi diri serta melestarikan budaya lokal (local wisdom) agar tidak punah. Pasalnya budaya Jawa yang asli Jawa saat ini hampir punah dan masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan “baju Jawanya”.

Budaya Tarup merupakan salah satu khazanah budaya Jawa Tengah yang harus dilestarikan. Tradisi ini sering disematkan pada acara pernikahan di daerah Jawa Tengah, seperti Blora, Yogyakarta dan sebagainya. Sebagai orang Jawa, kita harus melestarikannya. Pasalnya, saat ini pemuda, khususnya Blora tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang tradisi Tarup. Padahal budaya seperti ini sangat sederhana, namun banyak orang tidak paham karena apatis terhadap kekayaan budaya lokal.


Secara sederhana, Tarup merupakan tradisi pemberian pernak-pernik dari bambu, pisang di sisi kanan dan kiri, kelapa muda, daun tebu, kembang 7 rupa dan sebagainya. “Semua dihias dan ditaruh di depan rumah sebagai pintu selamat datang sebelum acara resepsi pernikahan,” tutur Dian Marta Wijayanti, SPd salah satu lulusan SMA 1 Blora. Pemasangan Tarup, lanjut Dian, dipajang di depan rumah biasanya satu minggu sebelum acara pernikahan.


Dian menambahkan, Tarup juga berasal dari bahasa Indonesia “Tarup” yang artinya bisa lumbung, pelampang atau yang dipakai sebagai atap untuk sementara (selama upacara berlangsung). “Pelampang merupakan rumah sementara beratap kajang (tempat menerima tamu pada waktu ada pesta), sedangkan kajang merupakan anyaman dari bambu,” tutur Dian yang juga lulusan terbaik PGSD Unnes pada April 2013 itu.


Tarup itu berasal dari filosofi Jawa, ditoto (ditata), ben iyub (agar akrab, bahagia, harmoni). Ada juga yang mengakan Tarup itu ditoto ben guyub (ditata agar guyub, rukun, bersama). Maka, lanjut Dian, ada istilah Jawa paguyuban yang artinya masyarakat atau kelompok yang ikatan sosialnya didasari oleh ikatan perseorangan yang kuat.


 Menurut pengamatan Islamcendekia.com, Tarup dipasang dengan pernak-pernik beranekan ragam yang disatukan menjadi satu sebagai simbol pasangan pernikahan. Salah satunya pada saat acara pernikahan Inggit Asih Pawestri, SPd dan Bachtiar Aji Purwandoyo, SPd pada Minggu (2/3/2014) di Tempelan, Blora, Jawa Tengah.


Selain Tarup, kata Inggit selaku pengantin, ada juga budaya midodareni (menghias pengantin perempuan seperti bidadari) pada saat malam hari sebelum akad nikah. Midodareni, lanjut Inggit, adalah representasi dari kata “bidadari”, karena pernikahan merupakan momentum menjadi raja dan bidadari.

(Hamidulloh Ibda)

0 Response to "Melestarikan Budaya Tarup Blora"

Post a Comment