Meminta Hujan dalam Tradisi Suku Sunda

Meminta Hujan dalam Tradisi Suku Sunda
Dewi Susanti 

Mahasiswa STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta; Penerima Beasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta Pusat 

Suku Sunda dikenal sebagai masyarakat yang lemah lembut, suka menghargai terhadap yang lebih tua, religius, dan sangat spiritual. Kecenderungan ini tercermin dalam pepatah Sunda, “pameo silih asuh asih dan silih asuh”, yang artinya yaitu saling mengasihi, saling menyempurnakan atau  memperbaiki diri dan saling melindungi. Masyarakat Sunda juga sangat kental dengan nilai-nilai positif lainnya seperti sikap sopan, rendah hati kepada yang tua, serta menyayangi terhadap yang lebih muda. Masyarakat Sunda masih mempertahankan keseimbangan dengan melakukan upacara-upacara adat yang dilakukan dengan tata cara tertentu. Dalam ranah sosial, masyarakat Sunda masih kental dengan tradisi gotong royong  yang sudah mendarah daging.

Indonesia adalah masyarakat majemuk dengan berbagai macam budaya. Kebudayaan di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Hal ini terbukti dengan adanya budaya yang sangat beragam dan indah. Budaya tersebut lahir dari adat dan kebiasaan di tempat tersebut. Bukti nyata dari kemajemukan ini bisa dilihat dari keragaman kebudayaan yang merupakan hasil karya, rasa, cipta, dan karsa yang menjadi salah satu sumber kekayaan bangsa Indonesia.


Adat istiadat yang diwariskan turun-temurun pada masyarakat sunda masih terpelihara dan dihormati. Dalam daur hidup manusia dikenal upacara-upacara yang bersifat ritual, seperti upacara adat masa kehamilan, masa kelahiran, masa kanak-kanak, pernikahan, kematian, dan lain sebagainya. Demikian juga dalam kegiatan pertanian dan keagamaan. Namun, itu semua ditunjukan sebagai ungkapan rasa syukur, memohon kesejahteraan, keselamatan lahir batin, serta keselamatan dunia dan akhirat.


Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Seperti halnya kebudayaan yang sudah menjadi tradisi yang berada di sebuah desa bernama Cigarukgak, kecamatan Ciawigebang kabupaten Kuningan Jawa Barat. Di tempat tersebutterdapat sebuah tradisi dengan sebutan “Babangkongan” yang dilaksanakan ketika terjadi kemarau berkepabjangan.


Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk meminta hujan sebagai sarana untuk mengairi sawah-sawah yang kekeringan serta untuk kebutuhan sehari-hari. Waktu pelaksanaan biasanya dimulai sejak terbenamnya matahari (setelah waktu maghrib) hingga pukul 12 malam. Dalam hal ini harus melibatkan seorang pawang, satu anak laki-laki berusia 8-11 tahun yang menyandang status sebagai anak yatim, 4 orang laki-laki dewasa yang mempunyai tenaga yang cukup kuat untuk mengangkat anak yatim yang akan diarak. Acara dimulai dengan beberapa rangkaian ritual yang dipimpin langsung oleh pawang dengan membacakan doa, meminta izin terhadap Yang Maha Kuasa agar acara dapat diselesaikan tanpa ada halangan.

Ritual ini masih menggunakan unsur magis, terbukti dari sesaji yang disediakan yang masih menggunakan kemenyan. Setelah ritual selesai, anak yatim dibaringkan di atas bambu yang berbentuk semacam tandu serta ditutup dengan sehelai kain layaknya mayat yang siap dikebumikan. Kemudian, diarak mengelilingi desa.


Uniknya, setiap warga yang dilewati, rumahnya harus menyiapkan air, sedikitnya satu gayung penuh untuk disiramkan kepada anak yatim yang dibaringkan dan memberi uang seikhlasnya untuk anak yatim tersebut.Hal ini dimaksudkan, bahwa setiap muslim harus selalu mengasihi anak yatim. Arak-arakan ini dibarengi dengan puji-pujian dan shalawat nabi. Ritual ini dilaksanakan setiap malam selama satu pekan penuh. Setelah acara selesai, masyarakat hanya tingal menunggu datangnya hujan. Biasanya setelah dua minggu hujan akan turun.

Tradisi ini  sebenarnya mengandung sisi negatif dan positif. Adapun sisi positifnya yaitu mayarakat menjadi lebih kompak dalam menjalin silaturahim. Sedangkan sisi negatifnya yaitu menyiksa anak-anak yang dijadikan sebagai arak-arakan. Kemudian, ritual masih meniru budaya Hindu-Budha dengan menggunakan sesajen dan kemenyan.


Masyarakat sunda, khususnya daerah Cigarukgak mayoritas beragama Islam. Sedangkan dalam agama Islam, setiap sesuatu sudah diajarkan dalam Al-Quran dan Hadist, termasuk tata cara hidup yang benar, mulai dari hal yang terkecil hingga yang  besar. Dalam hal meminta hujan, umat Islam biasanya melakukan shalat sunah Istisqo (shalat meminta hujan) tanpa menggunakan sesajian yang tidak jelas maksud dan tujuannya sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran Surat Nuh ayat 10-12 yang artinya,“maka aku berkata (kepada mereka) “mohonlah ampunan kepada tuhanmu, sungguh ia maha pengampun, niscaya dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu”.


Namun dibalik itu semua, semoga tradisi “Babangkongan” ini dilestarikan hanya sebagai ungkapan rasa syukur dan mohon kesejahteraan dan keselamatan lahir batin, dunia dan akhirat yang tidak berbelok kepada kemusyrikan. Semoga kita termasuk umat yang selalu turut dan patuh dalam menjalankan sunahnya dengan berdasarkan Quran dan Hadist. Amin.

0 Response to "Meminta Hujan dalam Tradisi Suku Sunda"

Post a Comment