Menyoal Pernikahan Lintas Agama

Oleh Ulul Hidayat
Mahasiswa S1 STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta; Penerima Beasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta Pusat

Kerap kali dilontarkan tentang pernyataan bahwa cinta merupakan sesuatu  hal yang sakral dan menembus batas. Cinta juga merupakan sesuatu yang misterius karena tidak seorangpun yang tahu secara  pasti  mengapa, kapan dan bagaimanakah cinta itu datang dan menghangatkan sanubari. Agaknya dari situ muncul istilah “jatuh cinta” mengingat kehadiran cinta yang secara tiba-tiba. Cinta itu disebut menembus batas karena itulah keunikan cinta. Dikatakan semua bangunan pemisah yang di reka oleh manusia seperti suku, ras, budaya, bahasa, ideologi dan agama, pada kenyataannya tidak mampu membendung nyala api cinta.

“Cinta itu buta dan membutakan," ungkapan masyhur itulah yang memang kerap kali terbukti dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ironisnya, tekadang melupakan aturan-aturan agama. Saat ini, tidak sedikit umat manusia yang karena cinta berupaya melakukan apa saja untuk menikahi orang yang dicintai, walaupun dengan orang yang berbeda agama.

Kemudian,  bolehkah menurut hukum Islam orang laki-laki atau perempuan muslim menikah dengan selain agama Islam?  Masalah perkawinan lintas agama memang menjadi perhatian serius para ulama tanah air. Ulama Nahdatul Ulama menetapkan fatwa terkait masalah nikah lintas agama. Fatwa itu di tetapkan dalam Nuktamar ke-28 Yokyakarta pada akhir Noverber 1989, yang mengatakan bahwa pernikahan lintas agama itu tidak sah. Majelis Tarjih, Tajdid PP Muhammadiyah dan juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan hal yang serupa bahwa pernikahan lintas agama tidak sah, karena hal itu bertentangan dengan ayat Alquran Al-Baqarah ayat 221.

Seorang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof  Dr Muhammad Daud Ali menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Perkawinan Antar pemeluk Agama yang Berbeda. Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama adalah sebuah penyimpangan dari pola umum perkawinan yang benar menurut agama dan menurut undang-undang tanah air kita. Dalam hal ini, yang meskipun merupakan realita yang terjadi dalam masyarakat, namun tidak perlu adanya hukum tersendiri yang di atur oleh negara untuk melindungi orang yang melakukan penyimpangan tersebut.  Melindungi orang yang melakukan penyimpangan bertentangan dengan Pancasila sebagai cita hukum bangsa serta bertentangan dengan hukum agama yang berlaku di Negara kita.

Bagaimana dengan perkawinan di Negara kita? Perkawinan di Negara kita di atur dalam UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan.  Berdasarkan UU tersebut pekawinan diartikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan yang menjadi suami istri dengan tujuan mencapai atau membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Dan menjadi keluarga yang kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu perkawinan dianggap sah jika menurut hukum agama masing-masing dan kepercayaannya, serta telah dicatat menurut UU yang berlaku.

Pada era seperti sekarang ini, meski perkawinan beda agama dilarang, tetap saja di lakukan. Dengan menempuh  berbagai macam cara agar perkawinannya dianggap sah oleh negara.  Banyak cara yang bisa dilakukan agar pernikahan beda agama itu bisa di langsungkan. Diantaranya yaitu, menikah dengan mengikuti agama sang lelaki, kemudian menikah dengan agama sang wanita dan menikah di luar negeri.

Untuk perkawinan beda agama yang terjadi sekarang,  mantan Menteri Agama Quraisy Shihab berpendapat agar di kembalikan kepada agama masing-masing. Yang jelas didalam perkawinan harus didasari oleh persamaan agama dan keyakinan hidup. Namun pada kasus pernikahan beda agama, harus ada jaminan dari agama yang dipeluk masing-masing suami dan istri agar tetap menghormati agama pasangannya. Jadi jangan ada sikap saling menghalangi untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya.

Kesimpulannya, Islam sangat melarang yang namanya perkawinan lintas agama. Bukan hanya Islam, agama-agama yang lainpun pasti juga melarang perkawinan tersebut, karena memang apabila perkawinan tersebut terpaksa dilaksanakan, maka salah satu dari mereka (istri dan suami) pasti akan mengagung-agungkan agama mereka yang pada akhirnya akan menimbulkan permusuhan dan kerusakan rumah tangga mereka.

0 Response to "Menyoal Pernikahan Lintas Agama"

Post a Comment