Pasar Modal dan Pasar Uang Syariah

Sebagaimana yang telah diuraikan dalam berbagai literatur bahwa ada perbedaan yang jelas antara pasar modal dengan pasar uang dalam dunia investasi. Yang dimaksud dengan pasar modal adalah semua kegiatan yang bersangkutan dengan perdagangan surat-surat berharga yang telah ditawarkan kepada publik yang akan atau telah diterbitkan oleh emiten sehubungan dengan penanaman modal atau peminjam uang dalam jangka menengah atau panjang termasuk instrumen derivatifnya. Sedangkan pasar uang adalah pasar surat berharga jangka pendek seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SPBU), Commercial Paper Notes (CPN) dan sebagainya.

Dari pengertian di atas tersebut dapat diketahui bahwa pasar modal syari’ah adalah pasar modal yang dijalankan dengan prinsip-prinsip syari’ah, setiap transaksi surat berharga di pasar modal dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. Sedangkan pasar uang syari’ah adalah pasar yang dimana diperdagangkan surat berharga yang diterbitkan sehubungan dengan penempatan atau peminjaman uang dalam jangka pendek dan memanage likuiditas secara efesien, dapat memberikan keuntungan dan sesuai dengan syari’ah. Dana ini bisa dimiliki masyarakat yang hanya ingin menanamkan modalnya dalam jangka pendek serta lembaga keuangan lainnya yang memiliki kelebihan likuiditas sementara yang bersifat jangka pendek, bukan jangka panjang.

Pertama kali lembaga keuangan yang concern didalam mengoperasionalkan portfolio syari’ah di pasar modal adalah Amanah Income Fund yang didirikan pada bulan Juni 1986 oleh para anggota The North American Islamic Trust yang bermarkas di Indiana, Amerika Serikat. Tidak lama kemudian wacana membangun pasar modal yang berbasis syari’ah disambut dengan antusias oleh para pakar ekonomi Muslim di Kawasan Timur Tengah, Eropa, Asia, dan juga wilayah AS yang lain. Beberapa negara yang pro aktif dalam menyambut kedatangan para investor muslim maupun investor yang ingin memanfaatkan pasar modal yang berprinsip syari’ah adalah Bahrain Stock di Bahrain, Amman Financial Market di Amman, Muscat Securities Kuwait Stock Exchange di Kuwait dan KL Stock Exchange di Kuala Lumpur Malaysia.

Pasar syari’ah tidak hanya berkembang di negara-negara yang mayoritas muslim, tetapi berkembang juga di negara-negara sekuler yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bursa Efek dunia New York Stock Exchange meluncurkan produk yang bernama Dow Jones Islamic Market Index (DJIMI) pada bulan Februari 1999. Untuk menjaga agar investasi yang dilakukan oleh pasar modal syari’ah ini aman dari hal-hal yang bertentangan dengan prinsip syari’ah, maka dibentuklah Dewan Pengawas Syari’ah yang disebut dengan nama Syari’ah Supervisory Board. Perkembangan lembaga keuangan syari’ah dalam bentuk investasi di Pasar Modal Syari’ah di berbagai negara disambut baik oleh para pakar ekonomi muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang ditandai dengan Jakarta Islamic Indeks pada tahun 2000.

Demikian juga pasar uang yang berbasis syari’ah, di Malayisa dan Sudan sudah mulai dioperasikannnya pasar modal. Segala macam surat berharga dengan prinsip syari’ah dan tidak boleh adanya praktek investasi yang bersifat penipuan, kezaliman, unsur riba, insider trading, window dressing dan segala transaksi yang tidak jujur lainnya. Negara Yordania juga sudah menerapkan pasar uang syari’ah dengan mengeluarkan Mutual Loan Bonds (MLB) untuk membiayai segala kegiatan pemerintah. IDB juga menerbitkan Trusts Invesment Units Funds dan Islamic Bank Portfolio for Trade Finance. Dalam pasar uang syari’ah di Indonesia dikenal dengan Pasar Uang Antar Bank berdasarkan prinsip Syari’ah (PUAS). Sedangkan piranti yang dipergunakan dalam pasar uang syari’ah ini adalah dalam bentuk Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (IMA) dan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI).

Dalam rangka merespon segala hal yang berhubungan dengan investasi syari’ah sebagai akibat pesatnya perkembangan ekonomi syari’ah di seluruh dunia, di Jakarta dibentuk Jakarta Islamic Index (JII) yang dikeluarkan oleh PT Bursa Efek Jakarta pada tanggal 3 Juli 2000. Perusahaan-perusahaan (emiten) yang kegiatan utamanya tidak sesuai dengan syari’ah maka akan dikeluarkan dari kelompok JII. Bagi perusahaan yang telah didaftar di JII paling tidak perusahaan tersebut telah memenuhi filter dari prinsip-prinsip syari’ah dan sudah terpenuhi kriteria untuk indeks yang telah ditetapkan. Sedangkan tolak ukur filter syari’ah adalah usaha emiten bukan usaha perjudian, tidak menggunakan unsur ribawi sebagaimana dalam investasi konvensional, bukan emiten yang mendistribusikan dan memproduksi barang-barang haram, atau barang-barang yang merusak moral bangsa.

Adapun prinsip pasar modal syari'ah adalah sebagai berikut:


Penyebab Haramnya Transaksi
Implikasi di Pasar Modal
Li Dzatihi
Efek yang diperjualbelikan harus merupakan representasi dari barang dan jasa yang halal
Li Ghairi
Tadlis
1. Keterbukaan/transparansi Informasi
2. Larangan terhadap informasi yang menyesatkan.
Riba Fadhl
Larangan terhadap transaksi yang mengandung ketidakjelasan objek yang ditransaksikan, baik dari siis pembeli maupun penjual
Riba Nasiah
Larangan atas pertukaran efek sejenis dengan nilai nominal berbeda
Riba Jahiliyah
Larangan atas short selling yang mentapkan bunga atas pinjaman
Bai’ Najasy
Larangan melakukan rekayasa permintaan untuk mendapatkan keuntungan di atas laba normal, dengan cara menciptakan false demand
Ikhtikar
Larangan melakukan rekayasa penawaran untuk mendapatkan keuntungan di atas laba normal, dengan cara mengurangi supply agar harga jual naik
Tidak sah akad
Rukun&Syarat
Larangan atas semuja investasi yang tidak dilakukan secara sport
Ta’alluq
Transaksi yang settlementnya dikaitkan dengan transaksi lainnya (menjual saham dengan syarat)
2 in 1
Dua transaksi dalam satu akad, dengan syarat:
1. Objek sama
2. Pelaku sama
3. Periode sama

0 Response to "Pasar Modal dan Pasar Uang Syariah"

Post a Comment