Perkembangan Pasar Modal Syariah di Indonesia

Pemikiran untuk mendirikan pasar modal syari’ah dimulai sejak munculnya insturumen pasar modal yang menggunakan prinsip syari’ah yang berbentuk reksadana syari’ah. Usaha ini baru bisa terlaksana pada tanggal 14 Maret 2003 dengan dibuka secara resmi pasar modal Syari’ah oleh Menteri Keuangan Boediono dan didampingi oleh Ketua Bapepam Herwidayatmo, wakil dari Majelis Ulama Indonesia dan wakil dari Dewan Syari’ah Nasional serta Direksi SRO, Direksi Perusahaan Efek, pengurus organisasi pelaku dan asosiasi profesi di pasar Indonesia. Peresmian pasar modal syari’ah ini menjadi sangat penting sebab Bapepam menetapkan pasar modal syari’ah dijadikan prioritas kerja lima tahun ke depan sebagaimana dituangkan dalam Master Plan Pasar Modal Indonesia tahun 2005-2009. Dengan program ini pengembangan Pasar Modal Syari’ah memiliki arah yang jelas dan semakin membaik.

Ada beberepa alasan yang mendasari pentingnya keberadaan sebuah pasar modal yang berbasis Islam, yakni   pertama: Harta yang melimpah jika tidak diinvestasikan pada tempat yang tepat sangat disayangkan . Selama ini harta yang melimpah banyak diinvestasikan di negara-negara non Muslim, kedua: fuqaha dan pakar ekonomi Islam telah mampu membuat surat-surat berharga yang berlandaskan Islam sebagai alternatif bagi surat-surat berharga yang beredar dan tidak sesuai dengan hukum Islam, ketiga: melindungi para penguasa dan pebisnis Muslim dari ulah para spekulan ketika melakukan investasi atau pembiayaan pada surat-surat berharga, keempat: memberikan tempat bagi lembaga keuangan Islam dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teknik perdagangan. Sekaligus melakukan aktivitas yang sesuai dengan syari’ah.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, pada tanggal 4 Oktober 2003 Dewan Syari’ah Nasional (DSN) telah mengeluarkan fatwa Nomor 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syari’ah di bidang Pasar Modal. Fatwa ini dikeluarkan mengingat Pasar Modal di Indonesia telah lama berlangsung dan perlu mendapat kajian dan perspektif hukum Islam. Beberapa dasar hukum atas pelaksanaan pasar modal ini harus sesuai dengan QS An-Nisa’ ayat 29, Al–Maidah ayat 1 dan Al-Jumu’ah ayat 10 serta beberapa hadist Rasulullah saw.

Melihat perkembangan pasar Modal Syari’ah di Indonesia sampai pertengahan Juli 2007 ini menunjukkan prospek yang sangat menggembirakan. Pengukuran secara keseluruhan dengan menggunakan sharve index, kinerja saham syari’ah yang beroperasi di pasar modal syari’ah yang konsisten masih lebih baik dibandingkan dengan kinerja saham syari’ah yang tidak konsisten. Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa saham-saham yang termasuk dalam kelompok JII memiliki kinerja yang lebih baik dalam hal return yang diberikan dan dari prinsip resiko relatif lebih rendah dibandingkan dengan saham-saham kelompok non JII.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka kinerja pasar modal syari’ah yang selama ini cukup baik maka harus dipertahankan, sebab fungsi dan keberadaannya sangat dipelukan. Menurut Metwally   fungsi dari keberadaan pasar modal syari’ah yaitu pertama: memungkinkan bagi masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan, kedua: memungkinkan para pemegang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas, ketiga: memungkinkan perusahaan meningkatkan modal dari luar untuk membangun dan mengembangkan lini produksinya, keempat: memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional, kelima: memungkinkan investasi pada ekonomi itu ditentukan oleh kinerja kegiatan bisnis sebagaimana tercermin pada harga saham.

Menurut Hedi Sudarsono  ada sejumlah kendala dalam melaksanakan pengembangan pasar modal syaria’ah antara lain: pertama: belum ada ketentuan yang menjadi ligimitasi pasar modal syari’ah dari BAPEPAM atau pemerintah misalnya undang-undang. Perkembangan keberadaan pasar modal syari’ah saat ini merupakan gambaran bagaimana legalitas yang diberikan Bapepam dan pemerintah lebih tergantung dari “permintaan” pelaku pasar yang menginginkan keberadaan pasar modal syari’ah., kedua: selama ini pasar modal syari’ah lebih populer sebagai sebuah wacana dimana banyak bicara tentang bagaimana pasar modal disyari’atkan. Dimana selama ini praktek pasar modal tidak bisa dipisahkan dari riba, maysir dan gharar, bagaimana memisahkan dari ketiganya dari pasar modal ketiga: sosialisasi instrumen syari’ah di pasar modal perlu dukungan dari berbagai pihak, khususnya praktisi dan akademisi. Praktisi dapat menjelaskan keberadaan pasar modal secara pragmatis sedangkan akademisi bisa menjelaskan secara ilmiah.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Heri Sudarsono  juga menyebutkan beberapa strategi yang diperlukan dalam mengembangkan pasar modal syari’ah, yaitu pertama: Keluarnya Undang-Undang Pasar Modal Syari’ah sangat diperlukan guna mendukung segala investasi yang dilakukan oleh orang Islam agar tidak bercampur dengan riba, maysir dan gharar. Setidak-tidaknya perlu dipikirkan cara untuk mendorong keluarnya legitimasi dari Bapepam dan pemerintah, kedua: perlu keaktifan dari pelaku bisnis muslim untuk membentuk kehidupan ekonomi yang Islami. Hal ini guna memotivasi meningkatkan image pelaku pasar terhadap keberadaan instrumen pasar modal yang sesuai dengan syari’ah, ketiga: diperlukan rencana jangka pendek maupun jangka panjang oleh Bapepam untuk mengakomodir perkembangan instrumen-instrumen syari’ah dalam pasar modal. Sekaligus merencanakan keberadaan pasar modal syari’ah di tanah air, keempat: diperlukan kajian-kajian ilmiah mengenai pasar modal syari’ah.

Transaksi produk maupun industri pasar modal dan pasar uang syari’ah relatif masih sangat baru yang beroperasi di pasar modal Indonesia. Sehingga transaksi dan produknya pun masih terbatas dan masih mencari bentuk dan legalitas dari aparat yang berwenang dan para pakar hukum Islam Indoensia. Oleh karena itu, langkah-langkah sosialisasi perlu dilakukan guna membangun pemahaman akan keberadaan pasar modal syari’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat dewasa ini. Keterlibatan para praktisi, akademisi dan ulama sangat diperlukan dalam usaha membangun pasar modal dan uang yang berbasi syari’ah.

0 Response to "Perkembangan Pasar Modal Syariah di Indonesia"

Post a Comment