Poligami Menurut Islam

Banyak kontroversi terkait dengan poligami. Meskipun secara fikih poligami diperbolehkan dalam syarat dan ketentuan tertentu, tetapi poligami dipandang negatif oleh sebagian besar masyarakat. Kabar yang banyak beredar mengenai poligami yang dianggap negatif adalah poligami yang dilakukan AA Gym. Sontak, AA Gym menuai kecaman dari berbagai pihak, hingga AA Gym tidak lagi banyak muncul di televisi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat tampaknya tidak sepakat dengan poligami, meskipun dalam syariat Islam sendiri memperbolehkan poligami.

Namun yang harus digarisbawahi adalah Islam menganjurkan poligami dengan syarat dan batasan tertentu, bukan berarti Islam seketika menyetujui poligami tanpa alasan dan syarat yang ketat. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Islam menyetujui poligami dalam batasan dan syarat tertentu dan hal itu tidak bisa digeneralisasikan bahwa Islam pro terhadap poligami secara membabi buta dan tanpa pertimbangan.

Dalam hukum Islam, Islam memperbolehkan poligami dengan jumlah wanita yang terbatas dan tidak mengharuskan umatnya untuk melaksanakan monogami mutlak dengan pengertian bahwa seorang laki-laki hanya boleh beristri seorang wanita dalam keadaan dan situasi apa pun.

Bisa dikatakan bahwa Islam pada dasarnya menganut sistem monogami dengan memberikan kelonggaran dibolehkannya poligami terbatas. Prinsipnya, seorang laki-laki hanya memiliki seorang istri dan sebaliknya seorang istri hanya memiliki seorang suami. Poligami hanya dilakukan pada konteks, situasi dan kondisi tertentu.

Poligami menurut Islam dibenarkan meskipun syaratnya sederhana tapi sebetulnya sangat ketat, yaitu menjamin keadilan bagi istri-istrinya. Keadilan inilah yang pada faktanya sebetulnya sangat susah untuk dijalankan. Jika tidak menjamin tegaknya keadilan bagi istri-istrinya, maka poligami sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Islam membenarkan seorang laki-laki menikah dengan empat istri. Hal ini termaktub dalam Q.S An-Nisa’ 4 ayat 3

ﻓﺎﻧﻜﺤﻭ۱ﻤﺎﻄﺎﺐﻠﻜﻡﻤﻦ۱ﻠﻨﱢﺴﺎﺀﻤﺜﻨﻲﻭﺜﻼﺙﻭﺮﺑﻊۖﻓﺎﻦﺨﻓﺘﻡﺃﻻﱠﺘﻌﺪﻟﻮﺍﻓﻮﺍﺤﺪﺓ

“....Hendaklah kamu mengawini diantara perempuan-perempuan yang kamu senangi, dua atau tiga atau empat. Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil, cukuplah seorang saja.”

Poligami ditetapkan berdasarkan apa yang pernah dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabat Nabi, baik bersifat praktik maupun persetujuan Rasulullah Muhammad Saw atas perbuatan sahabatnya. Islam membenarkan poligami dengan menetapkan dua syarat, yaitu :

a. Memiliki kemampuan material dan kesehatan fisik;
b. Mampu berbuat adil secara material terhadap istri-istrinya.

Keadilan poligami

Keadilan yang diperintahkan dalam poligami adalah adil dalam mempergauli istri, memberi pelayanan dan pemberian materi, bukan adil yang mencakup sisi rohani. Rasulullah Muhammad Saw selalu berlaku adil terhadap istri-istrinya dalam memberikan pelayanan material, tetapi dalam hal kasih sayang lebih mengasihi Aisyah.

Keadilan yang ditekankan dalam Islam adalah keadilan yang bersifat manusiawi, yaitu keadilan dalam melaksanakan hak dan kewajiban, bukan dalam cinta dan perasaan hati yang berada dalam kekuasaan Allah untuk membolak-balikkanya sesuai dengan kehendakNya. Meskipun demikian, keadilan jasmani dan rohani semestinya harus ditegakkan. Artinya, meskipun kadar cinta dengan istri-istri tidak sama, tetapi setidaknya suami harus memiliki kecintaan yang sama pada istri-istrinya.

Editor : Lismanto

Referensi:
Tihani,  Sahrani Sohari,  Fikih Munakahat,  Jakarta:  PT Rajagrafindo Persada,  2009

1 Response to "Poligami Menurut Islam"

  1. KOREKSI

    Salah satu tuduhan keji yang sering dilontarkan adalah terkait pernikahan Nabi Muhammad dan Poligami beliau SAW. mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad melakukan poligami untuk kesenangan sema-mata bahkan lebih keji lagi mereka menuduh bahwa semua itu dilakukan untuk memuaskan nafsu, Sungguh ini tuduhan yang sangat sangat keji sekali, mereka mengomentari sesuatu yang belum ia ketahui permasalahannya.

    Mari kita akan membahas tentang pernikahan dan Poligami yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW

    Khadijah Binti Khuwalid r.a
    Khadijah Binti Khuwalid r.a adalah seorang Janda dari bani Asad, yang berprofesi sebagai pedagang yang kaya dan dihormati, ia biasa mengupah orang Quraisy untuk memperdagangkan hartanya. Mendengar tentang sifat­ sifat Nabi Muhammad SAW, Khadijah pun menawari beliau, dan sejak saat itu Nabi memperdagangkan harta Khadijah ke Siria (Syam), disertai oleh Maisara, budak Khadijah. Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata beliau mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Pada saat beliau berumur dua puluh lima tahun, setelah perjalanan dagang ini Khadijah menawari Nabi Muhammad untuk menikah dengannya – Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. la yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya-. Dan beliau menerima tawaran tersebut

    Hingga mencapai usia 50 tahun, Siti khadijah merupakan istri beliau satu satunya , artinya Selama 25 tahun Rasulullah SAW menghayati sebagian besar masa mudanya dengan hidup bersama seorang istri saja yakni Khadijah Binti Khuwalid.

    Rasulullah Berpoligami

    Masa lima tahun Rasulullah SAW hidup berpoligami adalah masa perjuangan mempertaruhkan hidup mati demi kebenaran islam dan kesentosaan kaum muslimin. Madinah tempat beliau hijrah bertubi tubi dirong rong dan diincar serta berulangkali nyaris diserbu oleh kaum Musrikin yang hendak menghancurkan islam dan kaum muslimin. Belum lagi menghadapi kaum Yahudi dan kaum munafik. Tidak sedikit jumlah sahabat yang gugur, satu demi satu dibunuh musuh secara gelap. Apakah dalam keadaan itu beliau sempat menikmati keadaan santai dan bersenang senang dengan istri istrinya?

    Belum lagi kita bicara tentang ibadah beliau yang siang malam selalu menghadapkan diri kepada Allah SWT. Bahkan menurut hadis, Rasulullah menghabiskan separoh malam, bahkan lebih untuk menunaikan shalat dan membaca Alquran hingga kaki beliau bengkak.

    Marikita renungkan bersama

    Jika memang Rasulullah berpoligami untuk mencari kesenangan,

    Mengapa Rasulullah baru berpoligami saat sudah menginjak usia lanjut? Mengapa tidak saat muda beliau berpoligami?
    mengapa yang dipoligami semuanya Janda (hanya Aisyah yang bukan) dan rata rata berusia sudah tua? Mengapa tidak yang masih gadis saja?

    Buku Refrensi :

    Siratul Mustofa
    Islam Dihujat

    ReplyDelete