SMARTA School Semarang Rumuskan Konsep Sastra Anak


SEMARANG, Islamcendekia.com – Selama ini banyak pendidik tidak terlalu paham tentang sastra anak. Mereka rata-rata hanya mengetahui sastra orang dewasa saja, maka ketika mendidik sastra anak, mereka belum fokus dan menyentuh substansi sastra anak. Padahal, sastra anak sangat berbeda dengan sastra orang dewasa, karena sastra anak bahasanya tidak terlalu tinggi dan berprinsip mendidik dan menghibur. Demikian sedikit pemaparan Hamidulloh Ibda selaku pendiri SMARTA School dalam agenda diskusi sastra anak di kantor SMARTA School Semarang, Rabu (26/3/2014).

Diskusi sastra anak ini dihadiri beberapa tutor dan peserta SMARTA School Semarang. Menurut Ibda yang juga mahasiswa Pascasarjana Unnes, pembelajaran sastra anak sangat berbeda dengan sastra orang dewasa. “Jika salah konsep, maka anak-anaka justru memahami sastra sebagai sarana “berbahasa alay”, apalagi saat ini bahasa alay sudah membudaya di kalangan anak-anak,” paparnya.
Dalam kajian teori sastra, banyak pendapat dan beberapa konsep. Secara teoretis, sastra itu berasal dari bahasa sanskerta yaitu “sas” yang berarti mengarahkan, mengajarkan atau memberi petunjuk. Sedangkan “tra” artinya menunjukkan alat atau sarana. Jadi, sastra berarti alat atau sarana yang digunakan untuk mengajar.

Dian Marta Wijayanti yang juga Direktur Eksekutif SMARTA School berpendapat bahwa potensi sastra anak saat ini harus diaktualisasikan ke media massa. Artinya, sastra anak tidak sekadar menjadi pengetahuan, melainkan harus ditransformasikan menjadi suatu karya nyata. Sesuai kajian teori sastra, dalam sastra anak memeliki ciri menggembirkana. “Ciri lain juga menyebutkan di dalam sastra anak, tokoh yang terlibat  dalam cerita diperkenalkan terlebih dahulu, dalam penceritaan selalu dibarengi dengan gambar, dan enggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami,” tuturnya.

Dalam diskusi ini juga dihadiri Wahyu Ambarwati selaku Sekretaris SMATRA School. Menurutnya, bahasa yang digunakan dalam penceritaan sastra anak cenderung mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan tidak menggunakan bahasa yang kompleks seperti karya sastra yang ditujukan untuk remaja atau dewasa. Di dalam sastra anak juga kajiaannya tidak terlalu jauh. “Temanya sangat dekat dengan anak, seperti tema alam, keluarga, sekolah, guru dan sebagainya”, ungkapnya.

Ke depan, SMARTA School akan mengajarkan pada anak-anak menulis karya sastra berupa puisi dan cerpen atau laporan mini yang bisa dikirim ke media massa. “Saya akan terus mengajarkan anak-anak di SMARTA School untuk menulis karya sastra konkret agar bisa dikirim di media massa,” ungkap Hamidulloh Ibda pada akhir diskusi. Untuk tahap awal, anak-anak harus dikenalkan dengan karya sastra sederhana. “Jika sudah paham, mereka akan kami ajak menulis langsung karya sastra anak,” tutur mahasiswa Dikdas konsentrasi Pendidikan Bahasa Indonesia PPS Unnes tersebut.

Reporter: Eka Dewi Pujayanti

0 Response to "SMARTA School Semarang Rumuskan Konsep Sastra Anak"

Post a Comment