Strategi Rasulullah dalam Membangun Madinah

Madinah merupakan negara yang baru terbentuk dan tidak memiliki harta warisan sedikit pun. Hal ini merupakan implikasi nyata dari kehidupan masyarakat Madinah di masa lalu yang selalu dihiasi oleh berbagai peperangan antar suku yang tidak pernah berhenti, hingga Islam hadir di tengah-tengah mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kondisi masyarakat Madinah masih sangat tidak menentu dan memprihatinkan yang mengindikasi bahwa negara tidak dapat dimobilisasi dengan waktu dekat.

Oleh karena itu, Rasulullah harus memikirkan jalan untuk memikirkan jalan untuk mengubah keadaan secara perlahan-lahan dengan mengatasi berbagai masalah utama tanpa tergantung pada masalah keuangan. Dengan demikian, Rasulullah menerapkan berbagai strategi untuk membangun negara Madinah. Dalam hal ini, strategi Rasulullah dalam membangun madinah dan menyelesaikan masalah negara yang serba kompleks adalah sebagai berikut :

Membangun masjid

Membangun masjid merupakan asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Muslim. Rasulullah menyadari bahwa komitmen terhadap sistem, akidah dan tatanan Islam baru akan tumbuh dan berkembang dari kehidupan sosialyang dijiwai oleh semangat yang lahir dari aktivitas masjid, karena di masjid inilah kaum muslimin akan sering bertemu dan berkomunikasi, sehingga tali ukhuwwah dan mahabbah semakin terjalin kuat.

Merehabilitasi kaum Muhajirin

Tugas berikutnya yang di lakukan oleh Rasulullah adalah memperbaiki tingkat kehidupan sosial dan ekonomi kaum Muhajirin (penduduk Mekkah yang berhijrah ke Madinnah). Kaum Muslimin yang melakukan hijrah pada masa ituberjumlah sekitar 150 keluarga, baik yang sudah di Madinah maupun yang masih dalam perjalanan, dan berada dalam kondisi yang memperhatinkan karna membawa sedikit bekal. Pada masa itu pemerintah belum mempunyai kemampuan untuk memberikan bantuan keuangan kepada masyarakat. Untuk memperbaiki keadaan ini Rasulullah SAW menerapkan kebijakan yang sangat arif dan bijaksana, yaitu dengan cara menanamkan tali persaudaraan antara kaum muhajirin dan kaum anshor (penduduk muslim Madinah). Dalam hal ini Rasulullah SAW membuat suatu bentuk persaudaraan baru yakni persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan darah.

Membuat konstitusi negara

Setelah mendirikan masjid dan mempersaudarakan kaum muhajirin dengan kaum anshor selanjutnya Rasulullah  menyusun konstitusi negara yang menyatakan tentang kedaulatan madinah, pemerintah menegaskan tentang hak, kewajiban dan tanggung jawab, setiap warga negara, baik muslim maupun non muslim, serta sistem pertahanan dan keamanan negara. Sesuai dengan prinsip-prinsip islam Rasulullah SAW melarang setiap individu memotong rumput, menebang pohon, atau membawa masuk senjata untuk tujuan kekerasan ataupun peperangan disekitar kota madinah.

Meletakkan dasar-dasar sistem keuangan negara

Setelah melakukan berbagai upaya stabilisasi dibidang sosial, politik serta pertahanan dan keamanan negara, Rasulullah meletakkan dasar-dasar sistem keuangan negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan al-Quran. Seluruh paradigma berfikir dibidang ekonomi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari yang tidak sesuai dengan ajaran islam dihapus dan digantikann dengan paradigma baru yang sesuai dengan nila-nilai Qurani, yakni persaudaraan, persamaan, kebebasan, dan keadilan.

Sistem ekonomi pada masa Rasulullah

Setelah menyelesaikan masalah politik dan urusan konstitusional, Rasulullah SAW merubah sistem ekonomi dan keuangan negara, sesuai dengan ketentuan al-Quran “Islam tidak memisahkan kehidupan manusia menjadi dua bagian, tubuh dan roh”. Islam melihat kehidupan sebai suatu kesatuan bahkan setelah kehidupan dunia ini atau akhirat. Kehadiran islam bukan untuk diingkarimelainkan untuk dipatuhi. Islam tidak mempercai kehidupan yang hanya berorientasi pada akhirat tanpa memikirkan duniawi, atau pun sebaliknya. Disandarkan pada (QS. 28:77).

Islam mengakui kepemilikan pribadi. Mencari nafkah sesuai hukum yang berlakudan dengan cara yang adil, merupakan suatu kewajiban yang sesuai dengan kewajiban dasar islam. Kewajiban tersebut tidak membatasi jumlah kepemilikan swasta, produksi barang dagang atau suatu perdagangan, tetapi hanya melarang kekayaan melaluai cara-cara yang ilegal atau tidak bermoral. Islam juga sangat tidak menyetujui perbuatan menimbun kekayaan atau mengambil keuntungan atas kesulitan orang lain. Perlu diperhatikan juga bahwa dalam peraturan hukum yang berlaku, usaha-usaha selisih keuntungan, skala gaji, pembayaran upah, keuntungan investasi selalu lebih rendah, karena itu tidak memungkinkan bagi seorang untuk menjadi milioner dalam waktu singkat.sementara disisi lainnya berjudi, penimbunan kekayaan, penyelundupan, pasar gelap, spekulasi, korupsi, bunga, Riba dan sejenisnya bukan hanya tidak sesuai dengan hukum dan dilarang, tetapi juga akan mendapatkan balasan (hukuman).

Keuangan dan pajak pada masa Rasulullah

Pada masa-masa awal pemerintahan, pendapatan dan pengeluaran hampir tidak ada. Rasulullah SAW sendiri adalah seorang kepala negara, pemimpin di bidang hukum, Qadi besar dan Mufti, pemimpin dan penanggung jawab dari keseluruhan administrasi. Rasulullah SAW tidak mendapatkan gaji atau upah sedikit pun dari negara atau masyarakat, kecuali hadiah kecil yang umumnya berupa bahan makanan.

Pada masa Rasulullah SAW belum ada tentara dalam bentuk formal dan tetap. Setiap muslim yang memiliki fisik yang kuat dan mampu berperang bisa menjadi tentara. Mereka tidak memperoleh gaji yang tetap, tetapi diperbolehkan mendapat bagian dari harta rampasan perang, seperti senjata, kuda, unta dan barang-barang bergerak lainnya.

Pada tahun kedua hijriyah, Allah SWT mewajibkan kaum muslimin menunaikan zakat fitrah dibulan Ramadhan. Besar zakat ini adalah 1 sha’ kurma, tepung, keju lembut, atau kismis, atau setengah sha’ gandum, untuk setiap muslim, baik budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, muda atau tua, serta dibayarkan sebelum pelaksaan sholat id. Setelah kondisi perekonomian kaum muslimin stabil, tahap selanjutnya Allah SWT mewajibkan zakat Mal (harta) pada tahun ke-9 hijriyah.

Pada masa pemerintahanya, Rasulullah SAW. Menerapkan jizyah yakni pajak yang dibayarkan oleh orang non muslim khususnya ahli kitab, untuk jaminan  perlindungan jiwa, properti, ibadah, bebas dari nilai-nilai dan tidak wajib militer, besarnya jizyah adalah satu dinar per tahun untuk setiap orang laki-laki dewasa yang mampu membayarnya.

Disamping itu, Rasulullah juga menerapkan sitem kharaj, yakni pajak tanah yang dipungut dari kaum nonmuslim ketika wilayah Khaibar ditaklukkan. Sistem pajak lainnya ialah ushr, sebuah jenis pajak yang telah berlangsung pada masa arab jahiliyah, khususnya di Makkah yang merupakan pusat perdagangan terbesar pada masa itu. Pada masa pemerinthannya, Rasulullah menerapkan ushr sebagai bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang dan dibayar hanya sekali dalam setahun, serta hanya berlaku terhadap barang-barang yang bernilai lebih dari 200 dirham.

Di antara sumber-sumber pendapatan negara pada masa Rasulullah SAW, zakat dan ushr (zakat atas hasil pertanian dan buah-buahan) merupakan dua pendapatan yang paling utama dan penting. Keduanya berbeda dengan pajak dan tidak diperlakukan seperti pajak. Zakat dan ushr merupakan kewajiban agama dan termasuk salah satu rukun Islam. Pengeluaran untuk keduanya sudah diuraikan secara jelas dan eksplisit didalam al-Quran. Oleh kerena itu, zakat tidak dapat dibelanjakan untuk pengeluaran umum negara.

Editor: Lismanto

0 Response to "Strategi Rasulullah dalam Membangun Madinah"

Post a Comment