Surga itu Tidak Penting

Oleh Lismanto, Sarjana Hukum Islam IAIN Walisongo Semarang

Tulisan ini hanya sebagai refleksi terhadap hiruk-pikuk, karut-marut kehidupan beragama di mana setiap tingkah laku dan perbuatan selalu dikaitkan dengan sebuah pengharapan: surga. Setiap kali ulama dan Kiai memberikan ceramah, ia selalu memberikan iming-iming surga dan pahala dalam berbuat kebaikan. Tidak heran jika setiap tingkah laku, perilaku dan perbuatan yang baik selalu berujung pada imbalan berupa pahala, selalu mengharap dan mendamba surga dengan segala kesenangan hakiki di dalamnya.

Beberapa waktu lalu saya ketemu dengan seorang yang sedang menekuni fikih. Ia merasa bahwa fikih adalah segalanya, bisa menuntun kepada kebaikan hakiki tanpa menghiraukan aspek-aspek lainnya. Ia datang ke rumah saya dan melihat foto kakak saya yang berjubah putih dengan ikat kepala berwarna hijau laiknya para sunan, sementara kakak saya bukan orang alim, bahkan baca Al Quran saja belum bisa, apalagi soal fikih dengan segala kerumitan nahwu sorof-nya. “Kalau melihat fotonya, harusnya ilmu nafwu sorofnya mahir betul ini,” komentarnya sembari menyindir.

Mendengar itu, saya hanya berkomentar, “Rahasia Allah itu luas dan tidak bisa dilogika dengan ilmu-ilmu fikih semata. Jalan menuju Allah bukan saja bisa ditempuh dengan menghafal nahwu sorof, tetapi bisa ditempuh dengan banyak jalan. Rahasia Allah yang begitu agung tidak bisa ditebak dan dirasionalisasikan, bahkan penuh dengan misteri. Kita sebagai manusia sebatas berusaha untuk berbuat kebaikan dan mencoba untuk mendekatkan diri pada-Nya. Masalah apakah Allah menerima ikhtiar dan usaha kita, itu bukan urusan kita,” ujar saya kepadanya. Mendengar kata-kata saya, ia tampaknya lebih memilih logikanya dan mementahkan kata-kata saya dengan mencoba mendebatnya. Saya sendiri lebih memilih diam.

Di lain kesempatan, saudara saya yang menekuni ilmu tarekat sempat bercurhat kepada saya. “Kata guru saya, ilmu syari’at tidak bisa digunakan untuk masuk surga. Mendengar itu, hati saya bergetar dan langsung ikut jamaah tarekat. Dengan ikut jamaah tarekat, maka kita bisa saling berpegangan tangan dengan guru kita, ulama, sampai kepada Nabi Muhammad untuk masuk surga. Kalau tidak ada pegangan, kita tidak akan bisa masuk surga,” ujarnya.

Saya sendiri berpikir, “Kenapa syari’at dengan segala kemuliaannya yang diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk kehidupan malah dikatakan tidak bisa dijadikan dasar untuk masuk surga? Kenapa hidup selalu dihadapkan pada sebuah pengharapan surga tanpa menyadari bahwa kita adalah khalifah fil ardh, pemimpin bumi yang seharusnya mengelola bumi dengan baik, menebar kebaikan dan kemaslahatan bagi segenap makhluk serta alam, bersosial kepada setiap makhluk dengan baik?”

Dari dua peristiwa tersebut, hati saya terkoyak. Di satu sisi, orang fikih merasa kebenaran hanya bertumpu pada fikih yang sedemikian kaku tanpa melihat kebenaran di luar itu. Kebenaran hanya diukur dari seberapa pintar dia memahami nahwu sorof. Di sisi lain, orang tarekat melepas urusan hiruk pikuk dunia semata untuk sebuah pengharapan berupa surga yang hakiki. Itu hanya beberapa contoh potret, belum lagi segala pemaknaan-pemaknaan kehidupan yang seharusnya sederhana dibuat rumit sendiri oleh paradigma-paradigma yang tidak jelas semacam itu.

Kemudian saya berdialektika dengan paradigma saya sendiri dan menyimpulkan bahwa kebenaran tidak bisa diukur dengan rasionalisasi fikih dengan segala rumus nahwu sorofnya. Kita tidak bisa mengabaikan ilmu hikmah, pesan tersirat, serta rahasia-rahasia Allah di balik itu. Fikih itu sangat bagus, tetapi bukan jadi satu-satu alat untuk menyingkap rahasia kebenaran Allah. Jika ini tidak kita sadari, kita akan menjadi “wakil Allah” yang selalu menyalahkan dan mengkafirkan kebenaran di luar pemahaman kita tentang fikih, sedangkan Allah sendiri dengan samudera kemuliaan dan rahasia kebenaran-Nya tidak bisa dirumuskan dengan formula matematikanya fikih secara “kacamata kuda”.

Berbuat kebaikan juga tidak semata berujung pada sebuah pengharapan berupa pahala dan surga. Jika kita selalu berparadigma semacam ini tanpa mengabaikan aspek-aspek lain, kita setiap hari akan dihantui oleh ritual-ritual ibadah maqdah dengan mengabaikan aspek-aspek sosial. Padahal, tujuan manusia diturunkan di bumi bukan lain sebagai tugas manusia untuk memberikan kemaslahatan kepada segenap makhluk dan alam di bumi. Kalau surga dijanjikan oleh Allah kepada manusia, hal itu merupakan konsekuensi logis yang tidak harus diburu karena sudah menjadi bagian dari sunatullah, hukum alam. Surga adalah balasan dari setiap perbuatan kebaikan. Tidak usah diharapkan, itu sudah menjadi bagian dari hukum alam yang tak dimungkiri.

Surga itu tidak penting

Dalam sebuah pengajian jamaah Maiyah bersama Muhammad Aiun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai Kanjengnya, ia mengatakan bahwa dalam kehidupan ada beberapa prinsip yang harus dipegang, yaitu ibadah (mahdhah, ketuhanan), ilmu, dan kerja keras.

Ibadah dimulai dari akil baligh, sedangkan kerja dimulai sejak manusia dilahirkan. Orang yang rajin beribadah mahdhah akan disedikan surga baginya. Sementara orang yang beribadah dan berilmu diberikan tempat surga yang lebih mulia daripada orang yang sekadar beribadah. Namun jika orang itu beribadah, berilmu, sekaligus bekerja keras untuk kebaikan, maka ia akan bertemu dan dibukakan wajah Allah untuknya. “Kalau sudah bertemu dengan Allah, ya masak masih kepengen surga?” tutur Cak Nun.

Inilah kenapa surga itu tidak penting. Bukan berarti kalimat ini dimaknai secara kaku dan skriptural, apalagi disertai dengan amarah dan kalimat pengkafiran, tetapi kalimat ini harus dimaknai sebagai sebuah penghayatan bahwa puncak tertinggi suatu kehidupan adalah perjumpaan kita kepada Sang Ilahi, bukanlah sebuah surga yang lantas karenanya kita disibukkan dengan aspek-aspek kehidupan yang hanya berkutat pada ibadah mahdhah yang mengabaikan aspek-aspek substansial lain sebagai seorang manusia.

Berawal dari sini, saya berpedoman bahwa: "Ujung daripada tugas dan penghambaan manusia terhadap kehidupan bukanlah sebuah surga, melainkan perjumpaan kita kepada Tuhan dengan segala cinta dan kasih sayang-Nya. Inilah sebuah substansi kehidupan yang sejati dan hakiki." Wallahualam Bisshowab.

2 Responses to "Surga itu Tidak Penting"

  1. pantaskah kita berjumpa dengan-Nya dengan segala kekeruhan hati nurani?

    ReplyDelete
  2. Kalau gitu masuk surga juga belum pantas.

    ReplyDelete