Corak Tafsir Al-Qur'an

Tafsiran sebagai hasil usaha memahami al-Quran yang menerangkan maksud dan kandungan ayat Al-Quran. Sebagai hasil karya manusia, terjadinya keanekaragaman dalam corak penafsiran adalah hal yang tak bisa terhindarkan. Berbagai faktor dapat menimbulkan keragaman itu. Antara lain perbedaan kecenderungan, interest dan motivasi mufassir, perbedaan misi yang diemban, perbedaan keragaman dan kedalaman ilmu yang dikuasai, perbedaan masa dan lingkungan, perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapinya menjadi penyebab keanekaragaman dalam corak penafsiran.

Al-Quran sendiri memang sangat terbuka untuk ditafsirkan, dan masing- masing mufasir ketika menafsirkan Al-Quran biasanya juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural dimana ia tinggal, bahkan situasi politik yang melingkupinya juga sangat berpengaruh baginya. Disamping itu, ada kecenderungan dalam diri seorang mufasir untuk memahami Al-Quran sesuai dengan disiplin ilmu yang ia tekuni, sehingga meskipun objek kajiannya tunggal (yaitu teks Al-Quran), namun hasil penafsiran Al- Quran tidaklah tunggal, melainkan plural. Oleh karena itu munculnya corak-corak penafsiran tidak dapat dihindarkan dalam sejarah pemikiran umat Islam.

Muhammad Husain Dzahabi menjelaskan di dalam bukunya Tafsir wa al-Mufassirun bahwa corak dalam tafsir bisa dikelompokkan menjad 4 bagian yakni Corak Ilmi, Corak Sekte (madzhabi), Corak Ilhady (menyimpang), Corak al-Adab al-Ijtima’i (sosial).

Corak tafsir ilmi
Tafsir yang bercorak ilmi berprinsip bahwa Al-Quran itu mendahului ilmu pengetahuan modern sehingga mustahil Al-Quran bertentangan dengan sains modern . Atau bisa dikatakan corak tafsir ilmiah adalah penafsiran ayat-ayat kauniyah yang terdapat di dalam Al-Quran dengan mengaitkannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang timbul pada masa sekarang.  Para penggagas dan pelopor visi penafsiran bercorak ilmi kebanyakan adalah para ilmuwan alam, bukan para ahli agama dan syari’at.

Bila diamati, di dalam Al-Quran dapat ditemukan dua bentuk realitas, yaitu realitas yang dapat didekati dengan pengalaman empirik melalui eksperimen dan observasi dan realitas yang berada di luar jangkauan pengalaman inderawi.

Realitas yang dapat didekati dengan pengalaman empirik melalui eksperimen dan observasi di dalam Al-Quran diungkapkan dengan kata kauniyah. Sedangkan realitas yang berada di luar jangkauan pengalaman inderawi di dalam Al-Quran diungkapkan dengan kata ghaib.

Dalam rangka pembuktian tentang kebenaran Al-Quran, wahyu Ilahi ini telah mengajukan tantangan kepada siapa pun yang meragukannya untuk menyusun semisal Al-Quran. Arti semisal mencakup segala macam aspek yang terdapat di dalam Al-Quran, salah satu diantara kandungannya yang antara lain berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang belum dikenal pada masa turunnya.

Maka tidak mengherankan jika sementara dari kaum Muslim berusaha membuktikan kemukjizatan Al-Quran, atau kebenaran-kebenarannya sebagai wahyu Ilahi melalui penafsiran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, walaupun tidak jarang dirasakan adanya ”pemaksaan-pemaksaan” dalam penafsiran tersebut yang antara lain diakibatkan oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran ilmiah melalui Al-Quran, dan bukan sebaliknya.

Corak penafsiran ilmiah ini telah lama dikenal, benihnya bermula pada masa Dinasti Abasiyah, khususnya pada masa pemerintahan Khalifal Al-Makmun (w.853 M), akibat penerjemahan kitab-kitab ilmiah. Namun, agaknya tokoh yang paling gigih mendukung ide tersebut adalah Al-Ghazali (w.1059-1111M) yang secara panjang lebar dijelaskan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin dan Jawahir Al-Quran. Al-Ghazali mengatakan bahwa “segala macam ilmu pengetahuan, baik zaman dahulu maupun yang kemudian, baik yang telah diketahui maupun yang tidak diketahui, semua bersumber dari Al-Quran”.

Para ulama ahli agama dan syari’at berselisih pendapat tentang validitas visi penafsiran ini menurut syara’. Sebagian ada yang pro dengan penafsiran yang bercorak ilmi dan sebagian ada yang kontra. Di antara ora yang kontra adalah Syekh mahmud Syaltut. Di dalam pendahuluan tafsirnya, beliau telah mengecam sebagian kelompok cendekiawan yang menguasai ilmu pengetahuan kontemporer atau mengadopsi teori-teori ilmiah, filsafat dan sebagainya. Kemudian dengan bekal pengetahuan itu mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan kerangka pengetahuan yang ia kuasai.

Kitab-kitab tafsir yang mempunyai corak ilmi ini diantaranya adalah Kitab Tafsir Kasyful Asrar al-Nuranniyah al-Quraniyah karya Muhammad bin Ahmad al-Iskandar. Beliau adalah seorang ulama yang hidup pada abad ke 13.  Kitab Tafsir Jawahir fi tafsir Al-Quran Al-Karim karya Syekh Tantawi al-Jauhari.

Corak tafsir madzhabi
Sampai saat kini, aliran-aliran di dalam Agama Islam yang masih mempunyai pengaruh diantaranya adalah aliran Ahlusunnah, aliran Syiah Itsna ‘Asyariyah, Syiah Imamiyah Ismailiyah, Syiah Zaidiyah, Ibadhiyah (bagian dari Khawarij), dan Bahaiyah (bagian dari aliran Batiniyah).

Tafsiran sebagai hasil usaha memahami Al-Quran yang menerangkan maksud dan kandungan ayat Al-Quran. Sebagai hasil karya manusia, terjadinya keanekaragaman dalam corak penafsiran adalah hal yang tak bisa terhindarkan. Berbagai faktor dapat menimbulkan keragaman itu. Antara lain perbedaan kecenderungan, interest dan motivasi mufassir, perbedaan misi yang diemban, perbedaan keragaman dan kedalaman ilmu yang dikuasai, perbedaan masa dan lingkungan, perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapinya menjadi penyebab keanekaragaman dalam corak penafsiran.

Aliran Ahlusunnah akan menafsirkan Al-Quran sesuai dengan akidah dan apa yang mereka yakini. Hal ini bisa kita lihat di dalam tafsirnya Syekh Muhammad Abduh. Begitu juga Syi’ah Itsna ‘Asyariyah akan menafsirkan dan menulis suatu kitab tafsir mereka sesuai dengan kepentingan dan akidah mereka. Hal ini bisa kita lihat di dalam tafsirnya Syekh Sulthan Muhammad al-Khurasani yang berjudul “Bayan al-Sa’adah fi Maqomat al-Ibadah”.beliau adalah seorang ulama Syiah yang hidup pada abad ke 14 H. Aliran Ibadhiyah (bagian dari Khawarij) juga akan menafsirkan Al-Quran sesuai dengan akidah dan kepentingan mereka. Hal ini bisa kita lihat di dalam tafsirnya Syekh Muhammad bin Yusuf Ithfisy yang berjudul “Himyan al-Zad ila Darl al-Ma’ad”. Syi’ah Zaidiyah, ia merupakan bagian dari aliran Syi’ah yang ada sampai saat kini dan yang dikatakan bahwa ajarannya hampir mendekati Ahlusunah juga demikian.

Golongan-golongan di atas sampai saat kini masih bisa kita temui. Tiap-tiap dari mereka mempunyai karya tafsir, yang mana karya-karya tafsir mereka digunakan untuk menguatkan akidah dan keyakinan mereka.

Corak tafsir ilhadiy
Tafsir yang bercorak ilhady merupakan tafsir yang dilakukan oleh orang-orang yang memahami Al-Quran sesuai dengan kemauan mereka. Hal ini dikarenakan sedikitnya imu yang mereka miliki, akan teapi dengan beraninya mereka menafsirkan Al-Quran yang jauh dari maknanya. Model tafsir yang semacam ini banyak sekali kita jumpai di negara kita sendiri saat kini.

Corak tafsir adabi ijtima’i
Abad ke-19 dunia Islam mengalami masa suram, terus menerus merosot, terbelakang dan banyak negara umat Islam yang sedang menghadapi pendudukan asing. Pada masa itulah muncul seorang pemimpin Islam yang bernama Jamaludin Al-Afghani, yang mengumandangkan seruan untuk membangkitkan umat Islam. Muridnya yang mengikuti jejaknya adalah Muhammad Abduh. Beliau mengajar pembaharuan dalam berbagai prinsip dan pengertian Islam. Beliau mengajarkan ajaran-ajaran agama dengan kehidupan modern.

Muhammad Rasyid Ridha yang merupakan murid dari Muhammad Abduh selalu mencatat dan menuliskan kuliah-kuliah gurunya ke dalam majalah Al-Manar. Kemudian langkah selanjutnya, beliau menghimpun dan menambah penjelasan seperlunya dalam sebuah tafsir yang diberi nama Tafsir Al-Manar yang di dalamnya mengandung pembaharuan dan sesuai dengan perkembangan zaman. Beliau berusaha menghubungkan ajaran-ajaran Al-Quran dengan kehidupan masyarakat, disamping membuktikan bahwa Islam adalah agama yang memiliki sifat universal, umum, abadi dan cocok bagi segala keadaan, waktu, dan tempat.

Corak tafsir al-qur'an ditulis oleh M Syarifuddin

Referensi :

Ahmad Asy-Syirbashi, Sejarah Tafsir Al-Quran, Pustaka Firdaus, cet. III, 1994

Dr. Abdul Mustaqim, Pergeseran Epistimologi Tafsir, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 2008, hal. 60

M.Husain Dzahabi,Tafsir wa al- Mufassirun, Juz II, Darl al-Kutub al-Haditsiyah, Beirut, t.th ,hal. 496

Dr.H.U.Syafrudin, Paradigma Tafsir Tekstual dan Kontekstual Usaha Memaknai Kembali Pesan Al-Quran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 2009, hal.34

Dr.Yusuf Qardhawi, Berinteraksi Dengan Al-Quran, Gema Insani Press, Jakarta, cet. II, 2000, hal.531

Dr. Muhaimin,  Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet. I, 2007, hal. 86

1 Response to "Corak Tafsir Al-Qur'an"

  1. sangat bermanfat sekali gan..
    oea, gan dari semua corak atau warna penafsiran ini, mana yang paling sering digunakan oleh mufassir..
    asyarh.blogspot.com

    ReplyDelete