Dzat Allah

Sebetulnya hakikat atau dzat Allah tidak mungkin untuk di makrifati akal pikiran, logika dan tidak dapat dicapai dengan sebuah logika bentuk atau dzat Allah. Kenapa demikian? Sebab pikiran manusia sudah tidak bisa menjangkau hal tersebut, karena manusia tidak diberikan jalan untuk menemukannya. Akal manusia yang cerdik dan pandainya sekalipun tidak bisa melalukan rasionalisasi terhadap dzat Allah. Dzat Allah hanya bisa dirasakan kehadiran dan kebesaranNya, tetapi tidak bisa dilogika, dirasionalisasi, atau dideskripsikan bentuk dan wujudnya.

Kalau kedudukan akal dalam mempersoalkan hakiakat jiwa, cahaya dan benda serta apa yang ada dalam alam semesta ini, baik yang dapat dilihat oleh mata ataupun yang tidak, maka sesungguhnya dzatnya Allah jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal ataupun yang dapat diliputi oleh pemikiran-pemikiran manusia. Oleh sebab itu, alangkah tepatnya tepatnya firman Allah SWT yang berbunyi: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. al-An’am 103).

Ayat tersebut adalah kelanjutan sifat-sifat Allah yang dijelaskan oleh ayat-ayat lalu, sekaligus berfungsi meluruskan anggapan keliru kaum musyrikin. Kaum musyrikin dengan pengetahuan mereka yang terbatas menduga bahwa karena Allah adalah wakil, maka Allah dapat terlihat. Anggapan ini dibantah oleh ayat di atas dengan menyatakan bahwa Allah SWT tidak dapat dijangkau dalam bentuk apapun oleh penglihatan mata, sedang apa yang manusia persekutukan dengan-Nya dapat dijangkau oleh pandangan mata berhala-berhala, bahkan jin menurut kepercayaan kamu wahai kaum musyrikin sedangkan Allah dapat menjangkau, mengetahui dan melihat segala penglihatan. Allah Yang Maha Tersembunyi sehingga tidak dapat dilihat lagi. Allah Maha Mengetahui sehingga dapat melihat segala sesuatu.

Kata (تدرك ) tadriku atau yudriku terambil dari kata (درك ) daraka yang hakikatnya adalah mencapai apa yang diharapkan. Ia dipahami dengan makhluk sebagai terjangkaunya dengan indera sesuatu yang inderawi dan dengan akal suatu yang ma’kul. Kata (الأبصار) al-abshar adalah bentuk jamak dari kata (بصر) bashar yaitu potensi yang terdapat dalam mata. Pada hakikatnya yang melihat bukannya bola mata, tetapi sesuatu yang terdapat di bola mata itu.

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa ayat ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis shohih yang menunjukkan bahwa kaum mukminin dapat melihat Tuhan mereka pada hari kiamat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari kiamat, sebagaimana kalian melihat bulan di malam purnama, dan sebagaimana kalian melihat matahari yang tidak terhalangi oleh awan.”

Dalam Al-Lisan, Abu Ishaq berkata mengenai ayat ini: Allah SWT memberitahukan bahwa Allah mengetahui pandangan mata. Dalam pemberitahuan ini ditunjukkan bahwa makhluk tidak mengetahui pandangan, yaitu mereka tidak mengetahui hakikat mata. Manusia tidak mengetahui dengan apa dari kedua matanya itu dia dapat melihat, dan mengapa dari anggota-anggota tubuh lainnya. Allah memberitahukan, bahwa diantara makhlukNya ada makhluk-makhluk lain tidak dapat mengetahui hakikatnya .

Adapun berita-berita mengenai penglihatan yang dibenarkan oleh riwayat-riwayat dari Rasulullah SAW. tidak dapat ditolak. Di dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang menunjukan kepada penolakkannya, karena makna ayat adalah mengetahui sesuatu dan meliputi hakikatnya. Inilah madzhab ahli sunnah dan orang yang alim dalam hadist.

Keterangan : artikel ini disatir dan diedit dari buku-buku terbitan lama sehingga bahasa yang digunakan untuk menjelaskan dzat Allah berbahasa dengan kaidah lama sehingga mungkin saja susah untuk dipahami. Meski demikian, artikel dzat Allah beberapa di antaranya sudah melalui penyuntingan dari editor Islamcendekia.com.

Referensi :

M. Quraish shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 1, Jakarta: Lentera Hati, 2002, Hal 547-550

Sayid Sabiq, Aqidah Islam, CV. Diponegoro : Bandung, 1974, hal 56

Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Juz VII Toha Putra Semarang: Semarang, 1987, hal 358

0 Response to "Dzat Allah"

Post a Comment