Hakikat Hijab dalam Islam

Oleh Aini Oktaviani - Penerima Beasiswa pada Sekolah Tinggi Ekonomi Perbankan Jakarta Pusat, Staf Administrasi pada Indonesia Korea Culture dan Budaya

ISLAM sangat menghargai perempuan dan menempatkan perempuan ibarat ratu yang harus dijaga keindahan dan kehormatannya. Salah satu wujud penghormatan itu adalah perintah mengenakan hijab guna menjaga keindahan dan kehormatannya, khususnya untuk menjaga kaum perempuan dari pandangan laki-laki yang bukan muhrimnya.

Diakui atau tidak, Islam telah digerogoti dari dalam. Salah satu fungsi hijab yang beralih hanya untuk mengikuti tren zaman yang modelnya dikreasikan oleh trend modern masa kini ala Barat. Inilah yang sangat memprihatinkan. Ironisnya, kebanyakan dari umat Islam tidak menyadarinya. Bahkan, secara tidak langsung umat Islam banyak mendukung keadaan yang mengenaskan ini dengan berlomba-lomba menciptakan hijab yang menarik tanpa mempedulikan fungsi hijab yang sebenarnya. Sangat banyak dijumpai hijab-hijab yang memperlihatkan lekuk tubuh, bahkan yang menjadi konsumsi perempuan muslim adalah hijab-hijab tersebut yang katanya modern.

Hilangnya fungsi hijab yang sesungguhnya karena disebabkan oleh keinginan mengikuti trend fashion saja agar terkesan tidak kolot dan ketinggalan zaman. Padahal, dalam Islam, hijab yang hakiki tidak mengenal modis ataupun style fashionnya. Bahkan Allah SWT telah menerangkan dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.

Jadi, hakikat hijab menurut ajaran Islam adalah menutupi aurat dan keindahan, sedangkan trend fashion sekarang justru mengekspose keindahan. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Quran Surat An-Nur ayat 31 yang artinya, “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya”.

Dari pernyataan di atas, timbul satu pertanyaan, bagaimana menutupi perhiasan dengan hijab abila hijab justru menjadi perhiasan baru? Sedangkan fungsi hijab yang sebenarnya yaitu sebagai penjaga rasa malu, tanda kehormatan seorang wanita, tanda kekuatan agama dan akalnya,  sebagai tanda ketaatan menjalankan dakwah untuk jihad di jalan Allah. Bukan menjadikan hijab sebagai sesuatu yang baru dan justru menarik perhatian.

Menurut Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar, hijab-hijab modis identik dengan pakaian syuhrah. Adapun yang dimaksud dengan syuhrah yaitu adalah terlihatnya sesuatu yang disebabkan karena warnanya yang mencolok sehingga menyebabkan orang cenderung untuk melihatnya. Hal tersebut membuat dia (pemakai hijab tersebut) bangga dengan ujub (tinggi hati) dan sombong. Sedangkan hijab yang benar menurut tuntunan Islam adalah sebuah kesederhanaan. Kesederhanaan dalam berhijab juga merupakan sebuah ujian untuk seorang muslimah, apakah dia patuh pada perintah Allah semasa hidupnya di dunia.

Hijab merupakan perintah yang harus dikenakan bagi kaum hawa sebagai wujud dari rasa kasih sayang Allah, karena apa yang Allah perintahkan bagi muslimah untuk berhijab adalah sebuah kebaikan, yaitu sebagai penjaga rasa malu dan memelihara kehormatan pemakainya. Hal tersebut dijelaskan dalam Hadits Rasulullah yang diriwayatkan leh Bukhari-Muslim yang artinya, “Tidaklah rasa malu itu ada, kecuali selalu mendatangkan kebaikan”.

Oleh karena itu, tidak ada jenis hijab modern ataupun trend fashion dalam Islam. Hakikat fungsi hijab yang sebenarnya bagi seorang muslimah yang benar-benar mengenakan hijab adalah untuk mencari ridho Allah semata dan menunaikan kewajiban sebagai perempuan muslim.

Sudah jelas, bahwa Allah telah memerintahkan kepada muslimah untuk menutupi semua aurat dan perhiasannya, bukan hanya kepala saja sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab yang berbunyi, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Teks yang digunakan dalam ayat tersebut bukan untuk “mengulurkan jilbab ke kepala mereka”.

Jika perspektif tentang mengenakan hijab hanya untuk menutupi kepala saja, lalu dimanakah perbedaan antara perempuan muslim dengan perempuan kaum zionis yang juga mengenakan tutup kepala. Bukankah dalam Nabi Muhammad pernah bersabda yang artinya, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (uqudulujen, hal:93).

Jika berhijab hanya untuk menutupi kepala lebih yang mengutamakan trend fashion, maka hal tersebut jelas mengabaikan fungsi hijab sesungguhnya. Apabila hal tersebut tetap dilestarikan, maka perempuan muslim telah tasyabbuh yaitu mengikuti identitas agama lain. Lebih ekstrimnya, jika telah mengikuti agama lain, maka secara tidak langsung telah murtad dari agama Islam. Na`u dzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu, seorang muslimah yang cedas adalah muslimah yang bangga mengenakan hijab yang sesuai tuntunan Islam sebagai identitasnya dan sekaligus sebagai tanda ketaatan terhadap Allah. Bukan muslimah yang menjadi orang lain (ala barat) dengan beralasan mengikuti zaman.

Dan hendaknya sebagai perempuan muslim yang benar untuk memperbaiki niat berhijab dan dapat memahami arti dari pentingnya menutupi aurat sehingga hijab tidak hanya berarti sebagai pembalut yang masih memperlihatkan lekuk tubuh, melainkan menjadi sebagai penutup yang membuat pemakainya menjadi nyaman dan mempunyai identitas wanita terhormat. Wallahu a`lam bi al-showab.

0 Response to "Hakikat Hijab dalam Islam"

Post a Comment