Ironi Tarian Kuda Lumping


Oleh: Hamidulloh Ibda
Pegiat Kajian Filologi Pascasarjana Universitas Negeri Semarang,
Direktur Eksekutif Formaci Jateng

Ironi. Itulah kata tepat untuk mendeskripsikan budaya tarian kuda lumping saat ini. Pasalnya, selain sepi peminat, kuda lumping saat ini hanya digunakan para pengamen tanpa spirit dan esensi sejati. Hal ini tidak terlepas dari absennya peran pemerintah dalam melestarikan budaya Jawa.

Budaya merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Budaya menjadi karakter (identitas) suatu daerah tertentu. Namun, apa jadinya ketika terjadi penyimpangan terhadap budaya itu sendiri. Pastinya, masyarakat akan kehilangan “jati diri” daerahnya. Menurut filologi Jawa, budaya Jawa termasuk tertua di muka bumi ini. Maka dari itu, sebuah keniscayaan bagi orang Jawa untuk menjaga, melestarikan, dan membumikan budayanya sendiri. Dengan cara menjaga dari para perusak,  baik dari dalam maupun dari luar.

Sebagai orang jawa, pasti kita tahu “Kuda Lumping” atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan Jaran Kepang atau Jathilan. Kuda Lumping merupakan tarian tradisional Jawa yang dilakukan dengan memakai kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu sehingga menyerupai kuda yang kemudian ditunggangi oleh pelaku kuda lumping.

Kuda lumping awalnya adalah tarian yang disuguhkan oleh masyarakat Jawa kepada pasukan Pangeran Diponegoro yang melawan penjajah pada masa dulu. Tarian ini, merupakan bentuk apresiasi orang Jawa kepada Pangeran Diponegoro. Dalam setiap pagelarannya, tarian kuda lumping menyuguhkan beberapa tari, yaitu Buto Lawas, Senterewe, dan Begon Putri.

Komersialisasi Budaya
Dewasa ini, banyak budaya lokal yang bergeser dari koridornya. Penyebabnya, tidak lain karena masuknya budaya asing ke masyarakat Jawa, ditambah faktor internal dari masyarakat Jawa sendiri. Faktor lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan budaya lokal. Budaya lokal merupakan identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus dijaga keaslianya.

Tarian kuda lumping, merupakan ikon budaya Jawa yang harus diabadikan. Namun, kenyataan di masyarakat banyak sekali penyimpangan terhadap tarian ini. Sering kali kita melihat beberapa pengamen yang menggunakan tarian ini untuk mendapatkan uang. Mereka berpakaian lengkap khas Jawa, menggunakan Kuda lumping, pecut, dan musik yang mengiringinya sebagai sarana ngamen.

Di berbagai daerah, katakanlah di Kota Semarang, banyak pengamen kuda lumping yang berkeliaran. Mereka melakukan aksinya di perumahan, warung-warung, jalan raya, sampai di traffic light pun digunakan mangkal mereka untuk ngamen. Sungguh ironi sekali fenomena ini.

Pengamen memang kreatif, cara apapun dilakukan untuk mendapatkan uang. Meskipun dengan memamerkan, menjual, dan menjadikan budaya jawa sebagai media untuk menarik perhatian masyarakatTujuan mereka menggunakan tarian kuda lumping bukanlah untuk melestarikan budaya, melainkan hanya mengkomersilkan budaya tersebut. Lalu, bagaimana dengan citra budaya tersebut ketika disalahgunakan oleh sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Tentunya, harus ada tindakan tegas terhadap kejadian ini.

Budaya yang seharusnya dijaga masyarakat Jawa, akan tetapi malah disalahgunakan oleh pemilik budaya itu sendiri. Apa tidak ada cara lain, selain memanfaatkan budaya Jawa untuk dikomersilkan?. Seharusnya mereka lebih kreativ dalam menemukan cara untuk ngamen, tidak harus memanfaatkan budaya yang sudah ada.
 
Pergeseran yang mendasar dalam kebudayaan adalah pergeseran dari ruang budaya cultural sphere ke ruang komersial commercial sphere, di mana semua yang dimiliki seakan harus dikomersialkan, termasuk budaya itu sendiri.

Pemerintah harus tegas

Sungguh ironis, banyak kebudayaan Indonesia yang hampir punah lantaran tersingkir oleh serbuan budaya Barat, ditambah perusak yang datang dari pemilik budaya itu sendiri. Sangat sedikit orang Indonesia yang peduli dengan tarian kuda lumping, terbukti dengan belum adanya tindakan konkrit dari pemerintah.

Sekarang ini, yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewarisi budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar mengharumkan nama Indonesia, termasuk penyalahgunaan tarian kuda lumping.

Perlu ditegaskan, bahwa menjaga “kebudayaan” tidak hanya dilakukan oleh masyarakat dan seniman. Namun, pemerintah berperan penting dalam pelestarian budaya. Dalam hal ini, pemerintah harus tegas menangani kasus-kasus penyimpangan budaya yang dikomersilkan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.

Setidaknya, pemerintah membuat undang-undang atau sistem yang mengatur tentang pelestarian budaya. Meskipun sudah ada kementerian kebudayaan, namun ternyata masih banyak kasus penyimpangan terhadap budaya, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

Orang Jawa mengatakan, “Ajining Rogo Ono Ing Busono”, artinya harga diri seseorang disimbolkan pakainya. Jika hal ini disinkronkan dengan budaya suatu daerah, berarti harga diri suatu daerah ada pada budayanya. Artinya, jika budaya tersebut baik akan membawa nama baik daerah tersebut, begitu pula sebaliknya.

Mengutip kata dalang Ki Enthus, nguri-nguri budoyo jowo kui lewat boso lan seni, artinya melestarikan dan melanggengkan budaya itu, lewat bahasa dan seni, termasuk tarian kuda lumping. Jadi, sebagai orang jawa yang peduli terhadap budaya, sudah saatnya kita menajamkan kepedulian terhadap tarian kuda lumping.

0 Response to "Ironi Tarian Kuda Lumping"

Post a Comment