Larangan Menulis Hadis

Pada awal masa kenabian, Nabi Muhammad saw mengangkat tidak sedikit sahabat untuk menulis al-Qur’an. Berbeda halnya dengan hadis, banyak riwayat yang berisikan bahwa Nabi Muhammad melarang untuk menulis hadis, misalnya saja hadis yang diriwayatkan dari Abu sa’id al-Kudri: “Abu sa’id al-Kudri yang meriwayatkan Nabi Muhammad saw bersabda: "Jangan kamu menulis (sesuatu) dari saya selain al-Qur’an dan barang siapa menulisnya agar dihapus. Riwayatkanlah dari saya, barang siapa berbohong atas nama saya (baca: Nabi Muhammad), maka tempatnya adalah neraka."

Meskipun demikian, terdapat juga beberapa hadis yang memperbolehkan seorang menulis hadis, misalnya saja hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa ketika pembukaan Kota Mekah (fath makkah), Rasulullah saw berkhutbah di hadapan orang banyak. Maka, berdirilah seorang penduduk masyarakat Yaman bernama Abu Syah. Ia berkata: Ya Rasulullah tuliskanlah untukku, kata Nabi tuliskanlah untuknya.”

Dari kedua hadis itu diperoleh suatu kesan bahwa ada semacam pertentangan antara larangan menulis hadis dan diperbolehkannya menulis hadis. Oleh karena itu, ada teori-teori muncul mengenai kontradiksi kedua hadis tersebut. Adapun beberapa alasan yang menjadi alasan larangan menulis hadis adalah sebagai berikut:

1. Larangan menulis hadis terjadi pada periode permulaan Islam dan untuk izin penulisannya diberikan pada akhir periode kerasulan Nabi Muhammad.
2. Larangan penulisan hadis ditujukan bagi orang yang kuat hafalannya, sementara dia tidak bisa menulis dengan baik. Hal ini dikhawatirkan terjadi kesalahan dan tercampur dengan al-Quran sebagai sumber utama Islam yang berasal dari Allah. Alasan diperbolehkannya menulis hadis jika seseorang pandai menulis sehingga tidak terjadi kekhawatiran terjadi percampuran antara Al Quran dan hadis.
3. Larangan tersebut ditujukan hanya bagi seseorang yang tidak mahir dalam menulis sehingga dikhawatirkan tulisannya keliru. Sementara itu, seseorang yang pandai menulis tidak ada larangan untuk menulis hadis.

Meskipun terbuka peluang untuk membukukan hadis, tetapi fakta sejarah pada masa sahabat belum ada pembukuan hadis secara resmi yang dilakukan oleh pemerintah. Umar bin Khatab misalnya saja pernah berpikir membukukan hadis, Umar bin Khattab meminta pendapat para sahabat dan disarankan untuk membukukan hadis. Setelah Umar beristikharah meminta petunjuk kepada Allah sebulan lamanya, ia membatalkan rencana membukukan hadis dan berkata: “Awalnya saya ingin menulis sunah-sunah, tetapi kemudian saya teringat kaum terdahulu yang menulis buku-buku, sibuk dengan aktivitas menulis sunah yang pada akhirnya meninggalkan kitab Allah (Al Quran). Demi Allah saya tidak akan mencampuradukkan Kitab Allah (Al Quran) dengan apa pun."

Sumber : Prof. Dr. Muh. Zuhri, Hadits Nabi Telaah Historis dan Metodologis, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogyakarta, 2003
Disunting oleh : Lismanto

0 Response to "Larangan Menulis Hadis"

Post a Comment