Majalah Tuntas Edisi II Kaji Independensi Media Massa


SEMARANG, Islamcendekia.com – Majalah Tuntas yang diproduksi Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Tuntas Semarang, pada 22 Februari 2014 merillis Majalah Tuntas edisi II dengan tema “Pers, Media Massa dalam Cengkeraman Politik”.

Salam majalah tersebut, menggambarkan saat ini media massa dalam cengkeraman politik, baik media cetak, online, radio, TV dan sebagainya. Padahal, seharusnya pers harus menjadi alat untuk mengedukasi masyarakat. Bukan justru menjadi “tukang plintir”, memprovokasi dan menjadikan masyarakat menjadi korban politik.

Betapa tidak, menurut data Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), pemilik TV di Indonesia hanya 5 orang saja. Padahal, menurut undang-undang penyiaran hal itu sangat dilarang. Ezki Tri Rezeki Widianti di dalam film “Di Balik Frekuensi” menyatakan, bahwa iklan politik di RCTI oleh Partai Nasdem sebanyak 127 iklan, MNC TV 112 iklan, Global TV 111 dan Metro TV 43. Untuk Partai Golkar, di TV One sebanyak 34.

Dari data di atas, kita bisa membayangkan, bagaimana kondisi tahun 2013 ini. Maka, tak heran jika banyak kalangan menyebutnya sebagai “tahun politik”. Kalau terlibat dalam pelaporan tidak masalah, akan tetapi jika pemilik media tersebut adalah politisi, dan sekaligus ikut “bermain” dalam segala aktivitas pers lewat media mereka sangatlah berbahaya. Inilah kondisi ironis dunia media kita.

Tragisnya, media justru menjadi “kanal kekuasaan” para pemilik media, yang mewujud dalam seluruh penyiaran, dan pemberitaan di media massa mereka. Unsur kampanye tersebut tidak hanya lewat iklan, namun bisa lewat talk show, running teks yang simpel, bisa lewat sinetron, dan banyak akses yang digunakan pemilik media untuk berkampanye.

Yang menjadi kegelisahan adalah bukan karena masyarakat bisa memilah dan memilih tontonan dan pemberitaan, melainkan tidak ada tontonan lain selain tayangan berbau politik tersebut. Bukan lagi apa yang layak ditonton masyarakat, namun masyarakat tak ada pilihan lain selain menonton hal itu.

Tampaknya pemerintah kita tak ada ketegasan terkait regulasi media. Akhirnya, masyarakat tak bisa membedakan, mana tontonan edukatif, dan mana tayangan kampanye politik. Dan lebih ironis, hampir semua media dimiliki oleh ketua partai politik dan politisi. Data dan keterangan di atas, sedikit banyak sudah disinggung dalam film Di Balik Frekuensi yang secara jelas-jelas membongkar politisasi media massa di negeri ini. Yang menarik, pemilik media massa justru kebanyakan dari kaum politisi.

Menurut Hamidulloh Ibda, Direktur LAPMI Tuntas 2012-2013, media massa saat ini kehilangan independensinya. Pasalnya, banyak media massa justru menjadi alat kampanye parpol. Apalagi, menjelang Pileg dan Pilpres 2014 sudah di depan mata. “Pemerintah, Dewan Pers dan KPI tampaknya tidak tegas terkait media massa yang justru bermain politik,” tuturnya. Ke depan, lanjutnya, harus ada blueprint tegas agar independensi media massa terjaga.

Reporter: Achmad Hasyim

2 Responses to "Majalah Tuntas Edisi II Kaji Independensi Media Massa"