Memaksimalkan Teater Kampus



Oleh Hamidulloh Ibda
Mantan Pengurus Teater EFTA Semarang

Dewasa ini, tampaknya geliat mahasiswa untuk berkecimpung di dunia teater mulai meredup. Padahal, sebenarnya teater tak sekadar dunia panggung atau lakon saja. Namun, teater merupakan dunia kecil untuk merubah sikap dan pola kehidupan, percuma berkecimpung di dunia teater jika seseorang tak berubah sikapnya.

Diakui atau tidak, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di dunia teater mampu melahirkan orang-orang hebat. Di teater kampus mereka mendalami dunia lakon dan seni, yang akhirnya mereka sukses karena proses belajar serius ketika ia aktif di dalamnya. Maka dari itu, banyak alumni tetaer kampus yang eksis di dunia hiburan di negeri ini

Sepi Peminat
Seiring berjalannya roda kehidupan, teater kampus mulai sepi peminat. Hampir sama dengan UKM lainnya seperti pers, olahraga, silat, dan sebagainya. Mereka sama-sama membutuhkan kader, yang akhirnya saling berebut kader dan sedikit yang terjaring di teater. Padahal, UKM teater memiliki kelebihan jika dibandingkan UKM lainnya.

Di samping itu, perlu diketahui bahwa teater kampus pada awalnya memiliki posisi strategis dan bergengsi. Hal ini disebabkan oleh adanya kepercayaan masyarakat, bahwa kampus merupakan tempat persemaian kaum intelektual dan terdidik. Sehingga, teater-teater di luar kampus banyak yang belajar dari teater kampus.

Namun, mengapa teater kampus sekarang sepi peminat, apakah karena kegiatannya tidak menarik? tentu tidak. Apatisme mahasiswa terhadap teater merupakan bukti bahwa teater kampus mulai mengalami kemunduran.

Hidup enggan mati pun tak sudi, begitulah kira-kira kata yang bisa mewakili keberadaan teater kampus sekarang. Ada banyak problem, hingga kenapa kelangsungan teater kampus menjadi kehilangan ruh berkesenian lagi.

Kemunduran
Ada beberapa hal yang menyebabkan teater kampus mengalami kemunduran, Pertama, agenda teater belum bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa. Mereka mengikuti teater hanyalah sebatas hobi semata, belum bisa menjadi spirit dan menjiwai mereka. Motivasi mereka aktif di teater hanya sebatas mengisi sela-sela waktu kosong saja. Artinya, kegiatan teater hanya dijadikan sebagai kebutuhan sekunder mahasiswa.

Kedua, kendala dalam hal pendanaan. Memang tidak bisa dipungkiri, dana merupakan persoalan penting dalam berkesenian. Selama ini teater kampus hanya mengandalkan pendanaan dari birokrasi kampus. Mereka belum bisa mandiri mencari dana sendiri. Sehingga, setiap kali mengadakan kegiatan selalu tersendat.

Ketiga, semrawutnya manajemen teater kampus. Kelompok teater tidak hanya mengelola tentang kemampuan keaktoran semata. Banyak komponen pendukung lainya, selain berkutat pada pengelola kemampuan akting, bloking, dan dialog. Persoalan inilah yang kadang luput dipahami aktivis teater. Sehingga yang sering terjadi, ketika mereka pentas tanpa memperhitungan persoalan pendukung lainya seperti publikasi, penataan panggung, pengaturan lampu dan sound-system, penataan penonton, dan sebagainya.

Keempat, semrawutnya  kehidupan anggota teater. Misalnya, banyak aktivis teater yang melalaikan kuliahnya. Padahal, anggota teater menjadi cermin baik dan buruknya teater itu sendiri. Selain itu, aktivis teater juga terkenal jorok dan semrawut dalam penampilan, sehingga hal ini menjadikan mahasiswa memandang negatif dunia keteateran.

Memaksimalkan
Dari persoalan di atas, sudah saatnya aktivis teater kampus mereformasi dan menghidupkan kembali dunia keteaterannya.  Jika kita melihat jumlah teater kampus saat ini cukup banyak, hampir setiap kampus di Semarang memiliki kelompok tetaer. Sebut saja Teater Beta, Wadas, Asa, Matafisis, Mimbar (IAIN Walisongo), Kaplink (Udinus), Kolam Kodok (Polines), Esa (Unisula), Cabank (Unisbank), Gema (IKIP PGRI), SS (UNNES), Emka, Dipo, Buih (UNDIP), G-Terwas  (UNWAHAS), Pitoelas (UNTAG), dan sebagainya.

Teater di atas merupakan teater kampus yang mengalami permasalahan yang sama, yaitu kemunduran. Padahal, di Semarang sendiri sudah ada Forum Teater Kampus Kota Semarang (Fotkas) yang fokus bergerilya dari kampus ke kampus untuk memaksimalkan gerakan teater kampus.

Fotkas tampaknya sedikit demi sedikit mampu membangkitkan spirit aktivis tetaer untuk bangkit dari tidurnya. Lewat berbagai kesempatan, pada momen-momen tertentu, mereka melakukan ekspansi dengan menggelar pementasan di luar kampus.  Simpang Lima, Kota Lama, Tugu Muda, dan beberapa kampung menjadi arena pentas yang pernah digunakan.
Paling tidak, sudah banyak teater kampus di Semarang yang intens menggelar pertunjukan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) maupun tempat lainnya. Itu artinya, sudah ada usaha nyata untuk menghidupkan kembali teater kampus. Geliat teater kampus paling tidak menjadi suluh akan lahirnya generasi kreatif yang suatu akan menjadi ikon teater Semarang.

Teater memang bukan segala-galanya, namun segala-galanya bisa berawal dari sana. Jadi, menghidupkan kembali teater kampus merupakan harga mati.

0 Response to "Memaksimalkan Teater Kampus"

Post a Comment